Apakah Anda terlalu Sensitif?

Apa pernah Anda mendengar kata anak muda zaman sekarang, mungkin seperti, “sensi banget sih loe?” – Kadang ada orang yang membawa masalah ke dalam ranah yang lebih dalam, lebih terselubung. Kadang menimbulkan salah sangka, karena orang memproses segala input yang ditangkap sistem sensorisnya dalam ranah yang berbeda sebagai orang kebanyakan.

Orang-orang seperti ini memiliki kepekaan psikologis yang tinggi, karena ia bisa jadi memproses data-data sensori secara lebih mendalam dan menyeluruh dibandingkan populasi normal oleh karena adanya perbedaan dalam sistem saraf mereka. Ini disebut sebagai HSP (highly sensitive person) yang di masa lalu sering diduga sebagai masalah kecemasan sosial hingga ke fobia sosial.

Saya sendiri tidak mengetahui banyak HSP ini, namun dikatakan bahwa pemilik karakter HSP cenderung bekerja dengan cara yang berbeda dibandingkan dengan orang lain. Mereka bisa melihat dan mencermati hal-hal yang tidak dilihat oleh kebanyakan orang, masalah-masalah yang lebih tak kasat mata, dan jika siswa maka mereka bisa belajar dengan lebih baik melalui cara ini. Jika seorang anak didik dengan HSP tidak memberika kontribusi terlalu banyak pada sebuah diskusi bukan berarti mereka tidak memahami yang didiskusikan, dan juga tidak berarti mereka sedang malu.

Karena anak didik dengan HSP seringkali memproses sesuatu lebih baik melalui imajinasi mereka daripada mengerjakannya secara langsung, dan biasanya tidak suka dalam pengawasan karena mereka sangat peka.

Konsep HSP ini sendiri adalah hal yang baru, dan saya bertanya-tanya apakah akan mengubah paradigma pendidikan ke depannya. Karena mereka menganalisa sesuatu lebih baik dengan otak mereka daripada mengerjakan, mungkinkan konsep “practice makes perfect” tidak akan berlaku dalam dunia pembelajaran mereka?

Nah, saya tidak memiliki banyak potensi untuk memahami teori “Positive Disintegration” untuk menyelami masalah ini. Mungkin nanti bertanya saja pada yang mendalami ilmu psikologi lebih banyak.

Iklan

17 Comments

    1. Bli Wira,
      Lalu mood itu pengaruhnya dari mana? Dibalik ke kepekaan lagi? Begitu hujan, orang langsung terpengaruh "mood"-nya jadi anjlok begitu 😀 – entahlah, saya juga tidak begitu paham.

      Suka

      Balas

  1. sensitif ada hubungannya sama kondisi hormonal?

    well, kl sensi positif kan bagus, bisa menambah kejelian seseorang thd sesuatu. tp kl sensi itu jadi negatif, misalnya jadinya emosional dan sensi2 dalam konteks ABG dan membuat kelabilan (masih dalam konteks ABG) – apa itu jadinya semacam mental 'something' disorder?

    Suka

    Balas

    1. Chazky,
      Kalau masalah ABG, saya rasa masa labil itu selalu ditemui ketika pubertas, baik pada mereka yang memiliki kepekaan lebih atau yang wajar-wajar saja. Kadang ini melibatkan sebuah proses menemukan jati dirinya di dalam masa transisi. Nah, selama tidak berdampak negatif baik bagi dirinya dan lingkungan secara bermakna, there is no "something" need to put as a concern of disorder.

      Suka

      Balas

    1. Nandini,
      Sensitif itu kata serapan dari bahasa asing "sensitive", kalau padanan katanya dalam bahasa Indonesia ya "peka" – CMIIW. Rasanya karena 1 dari 5 orang memiliki kepekaan yang lebih dari rata-rata mungkin ini menyebabkan banyak orang bisa tampak terlalu peka, bahkan mungkin juga diri kita sendiri.

      Suka

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.