Bermain dengan Kebahagiaan

Sepertinya lama juga rasanya saya tidak menulis di sini. Seminggu ini saya menghabis waktu dengan seklusi, jadi hampir tidak ada yang bisa saya jamah sama sekali. Makan nasi paling banyak hanya dua kali sehari, saya menghabiskan sebagian besar waktu dengan melihat kembali apa-apa yang saya tinggalkan di belakang, membiarkan diri tenggelam dalam hal-hal sederhana seperti membaca selama berjam-jam, dan kemudian menghempaskan diri dalam perebahan.

Saya mematikan semua jalur komunikasi, dan saya menemukan diri saya dalam sebuah ruang yang jauh dari jangkauan sinar matahari sekali pun. Kadang saya teringat bagaimana Sir Arthur menggambarkan sosok Holmes yang terkurung berhari-hari di dalam kegelapan, dan itu membuat saya tersenyum geli. Tentu saja saya bukan Holmes, meski kami mungkin sama-sama suka memutuskan dawai biola.

Ah, kehidupan menjadi sesuatu yang nirmakna, secara harfiah dalam setiap hembusan napas itu tidak lagi tampak jejak-jejak pengejaran terhadap apa yang selalu lupa saya tinggalkan dan tanggalkan. Setiap malam saya menyempatkan diri melihat langit yang gelap, mungkin memang tidak berubah sejak dulu, sayangnya belakangan ini langit malam lebih sering tertutup mega yang pekat, dan menghempaskan pengharapan untuk melihat beberapa kawan lama di atas sana.

Laksana sajak lama yang terpatri di atas prasasti tua, menebar bait-bait syahdu yang menjalin kerinduan insan untuk mengarungi kehidupan penuh suka cita. Dan membuat saya tersenyum kembali melihat sebuah jendela dari apa yang seharusnya sudah tertutup kini memperlihatkan lagi rangkaian mandala yang meredup di masa lalu.

Bait-bait itu tidak terlalu bermakna lagi bagi saya, kebahagiaan bukan mandala yang sedang terangkai dalam langkah-langkah kecil saya, karenanya saya juga tidak terlalu peduli. Kadang saya hanya sedikit bermain dengan semua itu yang tersulam dalam segenggam kesementaraan. Karenanya saya tidak pernah memaksakan diri saya untuk memahami kebahagiaan, hanya sekadar permainan di semenanjung waktu.

Ha ha…, setidaknya saya masih tahu sedikit (tidak banyak) tentang kebahagiaan. Saya bukanlah pencipta kebahagiaan, tapi setidaknya saya bukan penghadir kebalikannya. Jika kehidupan adalah sebuah harmoni yang berpilin mesra, maka saat ini saya membiarkan diri saya seperti seekor keledai bodoh yang rebah di antara belukar malam dan memandang langit silih berganti antara rintik hujan dan taburan bintangnya. Entah ini kebahagiaan atau bukan, tapi ada damai yang melekat indah, bahkan jika pun waktu berakhir sekarang, dan permainan ini usai, maka itu pun bukan masalah, dan bukan apa-apa.

  Copyright secured by Digiprove © 2011 Cahya Legawa

Iklan

2 pemikiran pada “Bermain dengan Kebahagiaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.