Bermigrasi Ke LibreOffice

Sebenarnya ini sebuah insiden yang tidak terduga. Saya sudah mendengar tentang LibreOffice sebelumnya, namun memang belum berniat bermigrasi ke LibreOffice dan masih menggunakan OpenOffice dari Oracle. Namun tampaknya dunia open source sedang gencar-gencarnya bermigrasi ke LibreOffice yang dikembangkan oleh komunitas dan organisasi nirlaba “The Document Foundation”.

Kejadiannya bermula ketika saya memasang “Tumbleweed” dan melakukan zypper dub dari repositoru tersebut. Ternyata salah satu hasilnya adalah openSUSE melepas OpenOffice dan menggantikannya dengan LibreOffice.

The LibreOffice software is developed by users, just like you, who believe in the principles of Open Source software and in sharing their work with the world in a non-restrictive way. At the core of these principles is the promise of better-quality, highly-reliable and secure software that gives you greater flexibility at zero cost. Beyond this, the driving factor behind the community is personal choice and transparency, which translates practically into wider compatability, more utility and no end-user lock-in to using just one product.

Jika sudah cukup sering menggunakan OpenOffice, maka penggunaan LibreOffice-pun tidak akan menjadi kendala, karena kerangka yang digunakan sama persis.

Pratampil LibreOffice 3.3 pada Ubuntu

LibreOffice sebagaimana halnya OpenOffice juga bisa digunakan di Windows dan Mac selain di Linux. Jika Anda ingin mencoba LibreOffice, silakan unduh di sini.

  Copyright secured by Digiprove © 2011 Cahya Legawa

Iklan

17 pemikiran pada “Bermigrasi Ke LibreOffice

  1. Melvin

    saya juga dulu menggunakan openoffice. tapi pas saya mau download lagi, kenapa ngak jalan downloadnya. tapi pas saya coba download libreoffice jalan. padahal server downloadnya sama (di kambing). tapi libreoffice tidak jauh berbeda dengan openoffice 😀

    Suka

    1. Hmm…, saya kalau mengunduh peranti lunak, biasanya langsung ke sumbernya, jarang mengunduh di server lokal seperti Kambing 🙂 – kenapa ya, rasanya lebih stabil saja.

      Suka

  2. iskandaria

    Saya sudah sejak beberapa bulan lalu menginstall LibreOffice mas 🙂

    Pertama kali tau dari sebuah blog lokal. Penasaran, saya pun langsung mengunduh dan menginstallnya (ke Win XP saya). Tampilan dan fitur-fiturnya memang tidak jauh beda dengan OpenOffice.

    Belakangan ini saya membiasakan diri menggunakan LibreOffice untuk mengetik/membuat dokumen ala MS Word. Sekedar latihan migrasi menuju 'open-source' 😀

    Suka

  3. wah, saya masih awam banget dengan open source, kecuali open office yang pernah saya pakai. first impression utk ubuntu bagi saya adalah gak user friendly dalam hal instalasi dan penggunaan. apa saya salah?

    Suka

    1. Indobrad,
      User friendly itu kembali pada masing-masing pengguna. Kenapa ada yang lebih suka menggunakan Nokia, sementara yang lain bilang lebih enak pakai Samsung atau Sony Ericson misalnya :).
      Ubuntu sendiri termasuk sistem operasi yang paling "user friendly" saat ini, jumlah klik yang diperlukan lebih sedikit daripada menggunakan "windows", dengan aksesibilitas yang bisa menyamai "macintosh".
      Kalau pemasangan Ubuntu mungkin karena dibuat saking user friendly malah jadi kekurangan informasi, itulah mengapa saya lebih suka openSUSE, informasi yang diberikan lebih transparan sehingga tahu dengan jelas apa yang sedang kita pasang, dan bagaimana efeknya pada sistem.
      "Open Source" menjadi alternatif jika tidak ada anggaran untuk membeli peranti lunak proprietary. Coba saja beli MS Office seharga 4 – 6 juta rupiah, jika tidak kemudian jadi bangkrut. Paling yang bisa menjangkaunya adalah golongan menengah ke atas.

      Suka

        1. Ha ha…, kok bisa murah meriah ya :). Itu ndak adilnya Microsoft, selisih harganya terlalu jauh, sementara pelajar di tempat lain belum tentu mendapatkan dengan harga segitu :).

          Suka

  4. Mas cahya, kendala saya ketika menggunakan oppenOffice adalah susahnya ketika membuka file excel, padahal pekerjaan utama saya mengharuskan saya menggunakan microsoft excel.

    Apakah libreoffice juga sama beratnya dg openoffice?

    Suka

    1. Mas Ris,
      Saya tidak pernah kerja dengan Excel (Spread Sheet) belakangan ini, kalau hanya untuk menulis dan membuat salinda rasanya tidak berat. Namun kalau spreadsheet dengan banyak database saya kurang tahu.
      Hmm…, source code OpenOffice dan LibreOffice kan sama, kalau tidak ada tweak yang membedakan performanya, maka bisa dikatakan sama berat atau sama ringan untuk keduanya. He he…, saya tidak pernah sampai sedetil itu memerhatikannya.

      Suka

      1. Inilah yang membuat saya belum bisa meninggalkan windows. Banyak aplikasi yang penting yang belum bisa dijalankan di linux. Yah sekalipun ms office saya dijamin legal, tapi tetap saja ada beberapa yg masih bajakan (*ngaku)

        Suka

    2. Ganda

      Wah, saya gak pernah bermasalah membuka file excel Windows. Hanya saja, pernah saya membuka file excel berpassword dan saya simpan dari Linux, eh passwordnya jadi hilang. 😀

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.