Antara MOBI dan IM2

Saya saat ini menggunakan 2 jasa penyedia layanan Internet (ISP), satunya adalah MOBI dari Mobile-8 dan yang lainnya adalah IM2 ECO dari Indosat. Spesifikasinya sebagai berikut, MOBI berbasis CDMA 1x (kadang ada jaringan EVDO Rev A di sekitar lingkungan saya), jatahnya sebulan (karena sudah dikunci) Rp 100.000,- pra bayar, kadang diisi, sebulan berikutnya ndak (karena beban moneter yang timpang), jatahnya sekitar 1,5-2 GB per bulan pada kecepatan hingga 153 kbps, dan setelahnya turun jadi 64 kbps (karena paket unlimited).

Saya sering menggunakan MOBI di sistem operasi Windows Vista dengan Modem Pantech PX-500 yang memang didesain hingga menangkap jaringan EVDO. Faktanya, dua hari yang lalu saya menggunakannya untuk mengunduh berkas ISO instalasi openSUSE Linux sebesar 4,3 GB. Dimulai jam 9 malam dan selesai jam 6-7 pagi esoknya, nah silakan hitung sendiri kecepatan unduhannya.

Dan pasca mengunduh sebanyak itu (yang mohon dicatat lebih besar dari yang dijatahkan), bahkan untuk update sistem di Linux masih dapat mencapai kecepatan di atas 100 kbps. Jadi bisa dikatakan dengan menggunakan MOBI, sepanjang bulan saya bisa mengunduh dengan kecepatan stabil 100 kbps (kurang lebihnya), tidak peduli berapa banyak transfer datanya.

Menyenangkan memang, namun jaringan MOBI bermasalah dengan sistem POP/SMTP, sehingga tidak bisa mengirim surel via Thunderbird kecuali untuk akun hotmail. Namun jika Anda menggunakan webmail, saya rasa itu tidak masalah. Masalah yang lain adalah, karena arsitektur modem dan notebook yang saya gunakan, penggunaan terlalu lama bisa mengakibatkan panas berlebih pada handpad notebook.

IM2 ECO berbasis GSM dengan jaringan GPRS/UMTS/HSDPA/HSUPA melalui modem Huawei E220 klasik. Saya menggunakannya lebih banyak pada Linux openSUSE saya. Alasannya sederhana, karena modem-nya memiliki potensi unplug otomatis tanpa sebab jelas, dan hanya Linux yang punya autodial-up untuk modem ini (ah…, poor Windows). Paket ini adalah pasca bayar senilai Rp 175.000,- per bulan (belum termasuk PPN 10%) dengan jatah 2 GB pada kecepatan hingga 256 kbps, dan setelahnya turun jadi 64 kbps (sama-sama paket unlimited).

Kesan saya, jika untuk menjelajah saja (browsing), pada jaringan HSDPA, tidak usah diragukan, kecepatannya mumpuni bahkan pada halaman yang kaya flash. Tapi begitu jaringan pindah ke GPRS, yah, tinggal gigit jari saja, dan siapkan Opera Turbo agar tidak terseok-seok. Kecepatan unduh? Ah, hanya bermimpi jika bisa mencapai 200 kbps sebagaimana MOBI, mencapai 80 kbps saya untuk mengunduh dari lokasi serupa adalah sebuah keajaiban. Dan pasca jatah 2 GB habis, ya sudahlah, relakan menjadi siput hingga awal bulan berikutnya tiba.

Saya tidak berani menggunakannya untuk mengunduh pembaruan pada Linux dan Windows, IM2 memang nyaman untuk berselancar dan berkomunikas (berkirim surel), namun untuk mengunduh, sebaiknya saya serahkan pada MOBI. Saya rasa dalam sebulan lalu, saya sudah menggunakan MOBI untuk mengunduh lebih dari 100 GB (untungnya saya punya HDD eksternal untuk mencadangkan data).

Tapi kondisi ini tidak mutlak, namun inilah kondisi setidaknya dalam 2 bulan terakhir sejak saya mulai menggunakan IM2 ECo, sehingga bisa saya banding-bandingkan. Ah, saya mungkin juga harus bersyukur karena sekarang banyak pengguna ISP lain seperti TelkomFlash dan AHA, jadinya tidak banyak yang berebut jaringan MOBI dengan saya, kalau IM2 sih memang jaringan sejuta umat bagi mereka yang beriman dan bersabar dalam ujian imannya. Mungkin karena jaringan IM2 cukup luas, jadi bisa saya cadangkan sebagai koneksi yang tetap baik (semoga) jika saya mesti berpindah-pindah saat bertugas.

Nah, setidaknya kedua jaringan ini membuat saya tidak lagi memerlukan warnet umum atau berebut koneksi hot spot di kampus. Semoga semuanya tetap lancar-lancar saja.

Iklan

11 pemikiran pada “Antara MOBI dan IM2

  1. Sugeng

    Beneran nih sampai 100Gb ngunduh nya ?? waoh……. ajib….. ajib 😀 masih dengan speed 100kbps.
    Saya sejak modem ku yang pertama rusak, saya sudah menjelajah ke semua ISP seluler. Sampai kartu perdana nya numpuk dan baru kemarin dan hari ini (sekarang) mencoba pakai AHA. Cepet sih tapi koq gak stabil gitu, dicoba ngunduh fedora koq pertengahan bisa mandeg sendiri. Ujung2 nya aku kembali ke starone ku lagi.

    Salam hangat serat jabat erat selalu dari Tabanan

    Suka

    1. Iya, di salah satu forum saya nyaris diban karena sudah mengunduh data sebanyaka 80 GB, ha ha…, ternyata mengunduh banyak-banyak itu ndak bagus :).
      Hmm…, tetangga saya pakai AHA, kayanya lancar-lancar saja tuh Pak, ndak ada keluhan.

      Suka

  2. rismaka

    100 Kbps? Wow ga salah tuh? Mungkin billingnya lagi error tuh mas 🙂

    Saya sedang bersiap-siap hengkang dari IM2. Banyak pengalaman dan juga laporan kalau IM2 itu kualitasnya sudah mulai jelek 😦

    Suka

    1. Mas Ris, kalau begitu semoga galat seterusnya 😆 – IM2 juga entah kenapa walau cepat, tapi tidak begitu stabil. Mungkin karena jaringannya sudah terlalu penuh, namun pemakainya tidak juga berkurang. Kemarin saya bertemu teman lama yang menggunakan kartu 3 di lingkungan saya, katanya sebulan ini sudah lumayan cepat sejak mereka pasang BTS-nya sendiri.

      Suka

    1. Mas Andry, kalau sudah punya ADSL, mengapa mesti dicari alternatif penggantinya? Saya tidak bilang HSDPA lebih murah, kita bilangnya itu seperti lucky draw, kalau kebetulan koneksinya di wilayah itu bagus, ya pesta bandwidth, tapi jika sebaliknya, gigit jari saja dah :D.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.