Fakta dan Mitos Seputar Benjolan Payudara

Sekitar 40% wanita akan menemukan sebuah benjolan payudara pada suatu waktu di sepanjang hidupnya. Meskipun sebuah benjolan tidak selalu berarti kanker, namun apa yang dilakukan wanita setelah menemukan adanya benjolan itu dapat membuat perbedaan antara hidup dan mati.

Jadi, apa yang perlu kita ketahui tentang penemuan benjolan payudara? Berikut adalah fakta & mitos seputar benjolan payudara yang saya adaptasikan dari “Breast Lumps: 7 Myths and Facts”.

Benjolan Payudara Hampir Selalu Berarti Kanker

Ini adalah mitos, namun cukup banyak menyebar di antara masyarakat. Banyak wanita yang berpikir bahwa benjolan payudara selalu berarti kanker, kecuali tidak terbukti demikian setelah melalui serentetan pemeriksaan medis. Terutama jika semakin tua umur wanita tersebut, maka kekhawatiran akan semakin besar. Namun pada wanita yang lebih muda, mungkin terjadi kebalikannya, mereka berpikir kanker tidak mungkin terjadi pada mereka, karena usia mereka yang masih terlalu muda.

Memang benjolan payudara cenderung menjadi kanker pada wanita yang lebih tua yang telah melalui mana menopause daripada wanita yang masih muda.

Jika sebuah benjolan terbukti bukan kanker, lalu apa kemungkinan lainnya? Itu bisa jadi sebuah kista (sebuah kantong cairan yang bisa dikempeskan/dikeluarkan isinya), sebuah pertumbuhan abnormal namun tidak ganas (noncacerous) seperti halnya fibroadenoma (FAM), atau bisa jadi, suatu jendalan darah yang membuat kesan benjolan. Namun ada juga yang berupa benjolan palsu (psudo lump), diakibatkan oleh perubahan hormonal, dan itu sebenarnya bukan benjolan sama sekali.

Apapun penyebabnya, benjolan payudara penting untuk diperiksakan. Disarankan untuk melakukan pemeriksaan ke dokter, dan jika diperlukan pemeriksaan penunjang seperti mammogram dan mungkin juga ultrasonografi (USG).

Kanker Payudara Selalu Dapat Teraba Benjolan

Tidak selalu, kanker payudara tidak selalu hadir dengan benjolan yang dapat dirasakan. Kadang mammogram sudah mendeteksi kanker bahkan sebelum pasien dapat merasakan adanya benjolan. Inilah yang sebenarnya penting, screening test untuk mendeteksi kanker payudara. Di Amerika, kebanyakan kanker payudara ditemukan melalui pemeriksaan dini dengan mammogram.

Ada Terasa Perbedaan Antara Benjolan yang Jinak dan Ganas

Tidak selalu, penampilan benjolan yang menunjukkan kanker/ganas dan yang tidak/jinak sering kali tumpang tindih. Jika sebuah benjolan adalah kanker, wanita sering kali mengasumsikannya sebagai lesi tunggal yang terasa keras dan sukar digerakkan. Itu bisa jadi benar, namun benjolan kanker juga dapat terasa lembut dan dapat digerakkan.

Orang mungkin tidak akan selalu bisa merasakan perbedaannya. Kista misalnya, jika berada di dekat permukaan mungkin akan terasa bulat dan lembut, namun jika berada di lokasi yang lebih dalam akan terasa agak bergelombang dan keras. Sehingga akan sulit menduga bahwa apakah itu kanker atau bukan.

Saran terbaik adalah kembali pada pemeriksaan ahlinya.

Pemeriksaan Klinis Payudara

Benjolan Kecil Tidak Perlu Dikhawatirkan

Sebaiknya tidak berasumsi demikian, karena kanker bisa jadi berupa hanya benjolan kecil pada awalnya. Ukuran bukanlah sesuatu yang baik untuk menilai apakah sebuah benjolan layak dikhawatirkan atau tidak.

Ukuran benjolan pada payudara bisa beragam, mulai dari seukuran kacang hingga seukuran anggur. Benjolan yang ditemukan melalui mammogram bisa jadi berukuran sangat kecil. Ketika seorang wanita mulai merasakan adanya massa, mungkin besarnya hanya beberapa sentimeter saja.

Benjolan Bisa Diawasi Dulu Sebelum Memutuskan Diperiksakan

Jika menemui benjolan pada payudara, sebaiknya segera diperiksakan pada petugas kesehatan. Meski pada wanita yang masih mengalami menstruasi biasanya direkomendasikan untuk diawasi selama beberapa bulan, karena bisa jadi itu merupakan kista yang berhubungan dengan siklus menstruasi.

Wanita yang lebih tua yang sudah memasuki masa menopause biasanya tidak memiliki benjolan yang disebabkan oleh perubahan hormonal, jadi menunggu beberapa lama sebelum memeriksakan diri bukanlah pilihan yang disarankan.

Namun wanita yang lebih muda juga mesti waspada, kadang ada yang menunggu hingga beberapa bulan sebelum memeriksakan diri karena berpikir benjolan yang ditemukan bisa jadi hanya kista yang memang akan datang dan pergi karena pengaruh hormonal. Namun jika itu ternyata kanker, maka waktu beberapa bulan itu bisa jadi sebuah perbedaan besar pada perkembangan penyakit, khususnya pada wanita yang berusia muda.

Jadi tidak peduli berapa pun usianya, jika seorang wanita menemukan adanya benjolan pada payudaranya, maka pemeriksaan segera itu diperlukan untuk memberi kepastian.

Benjolan Bisa Jadi Kanker walau Tanpa Riwayat Keluarga

Mungkin banyak kita dengar bahwa kanker payudara memiliki faktor risiko herediter (keturunan), ada yang akan berpendapat bahwa jika di keluarganya tidak ada riwayat yang menderita kanker sebelumnya, maka benjolan yang ia temukan saat ini kemungkinan besar bukan kanker.

Namun dalam beberapa praktek, hanya 5% hingga 10% kasus kanker payudara yang ditemukan memiliki hubungan herediter. Jadi kebanyakan penderita yang memiliki kanker payudara tidak memiliki faktor risiko herediter ini.

Benjolan Pada Wanita dengan Riwayat Kista Bukanlah Kanker

Tidak selalu demikian, namun ada wanita yang terjebak dalam rasa aman yang palsu ini. Ada wanita yang berpikir bahwa jika mereka pernah mendapatkan kista, maka benjolan baru yang muncul berikutnya bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan.

Dokter menyarankan, jika ada benjolan baru yang muncul, maka perlu diperiksakan kembali. Jangan mengasumsikan bahwa karena benjolan terdahulu terdiagnosa sebagai kista – atau sesuatu yang tidak perlu dikhawatirkan – maka benjolan yang baru juga merupakan kasus yang sama.

Gambar diambil dari Pink Ribbon.

Iklan

21 Comments

  1. i have one, on left side of my left-breast, under my arm.. 😦 suka nyeri yang bener2 nyeri sampe gak bisa ngapa2in..itu kenapa ya, kak?

    Suka

    Balas

    1. Ocha, saya sih susah tahunya itu apa, karena ada banyak kemungkinan, paling umum adalah penyakit-penyakit fibrokista pada payudara (apalagi jika pola nyerinya mengikuti pola menstruasi). Tapi tidak bisa dipastikan begitu saja, mengapa tidak memeriksakan diri ke dokter atau ahli ginekologi, nanti akan mendapatkan gambaran yang lebih pasti.

      Suka

      Balas

      1. sudah pernah periksa beberapa kali, kak..pertama kali dulu langsung disuruh mammogram..sakitnyaaaa 😥 trus setahun yg lalu juga di USG, hasilnya ada beberapa gelondong2 kecil.. kata dokternya, kebanyakan kasus seperti ini akan menghilang setelah melahirkan.. tapi, tapi… ngga tahan juga kan kalo tiap kali siklus menstruasi, siklus nyeri juga datang bersamaan..

        sakit dibawah, sakit diatas.. 😥

        Suka

        Balas

  2. Dalam setiap kesempatan promosi kesehatan reproduksi, masalah tumor organ kewanitaan, memang sangat menarik menjadi topik khusus dalam diskusi masalahnya.

    Semoga info ini bisa melengkapi pertanyaan seputar itu.

    TERIMAKASIH…Salam hangat dari Kendari. 🙂

    Suka

    Balas

  3. Mas Cahya, saya ada pertanyaan mengapa seorang wanita ada kecenderungan besar payudara antara kiri dan yang kanan berbeda? Setidaknya ini berdasarkan pengalaman pada dua orang wanita terdekat saya. Apakah ini normal? Atau jangan-jangan ini karena salah satu, yang lebih besar, karena ada benjolannya atau patut dicurigai sebagai kanker?

    Terima kasih sebelumnya. 🙂

    Suka

    Balas

    1. Pak Joko, saya tidak terlalu memahami tentang masalah ini. Namun payudara kiri dan kanan biasanya memamng tidak selalu sama besarnya, hanya saja pada beberapa wanita mungkin beda besarnya akan tampak sangat kentara. Jika ini berlangsung selama masa pertumbuhan, maka selama mengalami siklus hormonal, pertumbuhan payudara akan berlangsung sampai kira-kira usia 21 tahun. Dan ini juga bisa memberikan hasil pertumbuhan payudara yang tidak sama antara kiri dan kanan. Beberapa ada yang mengatakan bahwa hal ini disebabkan karena jumlah sel jaringan payudara (yang membuat payudara tumbuh) tidak sama antara payudara kiri dan kanan, kadang salah satu sisi memiliki jumlah sel jaringan payudara yang lebih banyak.

      Kehamilan dan menyusui juga berpengaruh, karena ukuran payudara akan berubah untuk menyiapkan ASI. Biasanya jika salah satu sisi lebih jarang digunakan untuk menyusui, maka akan tampak lebih besar, sehingga disarankan untuk menggunakan kedua payudara secara bergantian untuk menyusui.

      Nah, contoh-contoh di atas adalah yang normal. Namun jika pertanyaannya apakah bisa kanker? Jika tidak ada benjolan, atau dengan kata lain payudara tampak normal hanya ukurannya saja yang berbeda, maka akan sulit dinilai melalui pemeriksaan fisik saja. Ada baiknya sesekali meminta pendapat dokter apakah perlu dilakukan pemeriksaan mammografi (rontgen untuk payudara), jika keduanya payudara memiliki jaringan yang simetris biasanya tidak masalah, namun jika ditemukan jaringan payudara yang tidak simentris atau ada tanda-tanda kelainan, maka hal ini perlu kewaspadaan.

      Suka

      Balas

  4. semenjak tante (adik ibu) menjalani operasi pengangkatan payudara, karena kanker payudara stadium 3 yang dideritanya, sekarang malah sering periksa dan berhati-hati terus

    Suka

    Balas

    1. Mbak Julie, kalau pemeriksaan sendiri kan sebatas pemindaian awal – keakuratannya tentu sangat subjektif kan, apa yang penting adalah langkah selanjutnya jika dari pemeriksaan diri tersebut kita menemukan benjolan payudara :).

      Suka

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.