Bahasa dalam Tulisan

Menulis itu tidak mudah, menjadi penulis tidak gampang. Menjadi pembaca apalagi, jauh lebih susah, karena kemampuan menyimak sebuah ide memerlukan wawasan, dan wawasan hanya didapatkan melalui pembelajaran. Satu-satunya penghubungan antara penulis dan pembacanya adalah bahasa, termasuk di dalamnya bahasa lisan yang digunakan.

Saya menjelajahi dunia blog selama 2 –3 tahun belakangan ini, dan menemukan pelbagai bentuk tulisan. Anda mungkin sudah tahu, beberapa jenis penulisan biasanya saya hindari untuk membacanya, misalnya tulisan yang tidak mengikuti konsep ejaan yang disempurnakan, karena saya tidak memiliki cukup kemampuan pengolahan membaca tulisan-tulisan yang dibuat sekenanya.

Bagi saya, selayaknya blog bisa menjadi sebuah tempat pembelajaran berbahasa, dan bukan sebaliknya – pembodohan berbahasa! Saya salut pada para narablog yang mempertahankan kaidah berbahasa yang baik & benar, meski pada awalnya terlihat kaku, namun kemudian bisa mengalir dengan baik.

Pembelajaran berbahasa juga bisa membantu saling mengurangi banyaknya salah kaprah berbahasa Indonesia. Jika seorang narablog terbiasa menulis “malapraktik” daripada “malpraktek”, memilih kata “malabentuk” daripada “malformasi”, atau menggunakan kata “politikisasi” daripada “politisasi”, maka narablog tersebut sudah membantu secara tidak langsung memberikan pelajaran berbahasa yang baik & benar.

Menulis di era saat ini begitu bebas, dan memberikan kekuatan besar bagi penulisnya untuk menyampaikan apa saja. Dan kebebasan ini pun telah dijamin oleh undang-undang. Dari kekuatan yang besar ini pula selayaknya hadir sebuah tanggung jawab yang besar, yaitu melalui kesadaran berbahasa.

Bahasa & sastra mungkin sudah tidak begitu menarik lagi bagi generasi muda saat ini, entahlah, karena saya tidak begitu memahaminya. Setidaknya isu penghentian dana anggaran untuk Pusat Dokumentasi Sastra HB Yassin pada pertengahan bulan lalu mungkin dapat menjadi cerminan untuk kondisi ketidakpedulian pada bahasa & sastra kita.

Saya sendiri masih terus belajar menulis, dan belajar membaca dengan baik. Dan itu berarti berarti, saya masih belajar tentang bahasa, karena banyak hal yang masih belum saya pahami. Meski sekarang sumber-sumber belajar bahasa menjadi lebih relatif pada dunia maya, namun ini tetap memberikan kontribusi yang besar menurut saya, layaknya dari buku-buku cetakan itu sendiri.

Salah satu tempat daring untuk belajar bahasa bagi saya adalah sebuah blog sederhana yang bernama “Rubrik Bahasa” yang dikelola oleh Ivan Lanin. Blog ini berisi kumpulan rubrik bahasa dari pelbagai media cetak di tanah air, bagi narablog yang senang menulis dalam bahasa Indonesia, saya sangat sarankan untuk mengikuti blog ini (termasuk juga blog pengelolanya), kita dapat belajar banyak tentang bahasa dalam tulisan melalui blog ini.

Iklan

20 Comments

  1. Saya sendiri dalam menulis mengalir begitu saja tanpa ada keharusan mengikuti pakem tertentu. Tapi kalau ada blog yang berisi tulisan alay, aku sangat antipati. Aku juga sangat prihatin dengat kemampuan bahasa tulisan generasi muda sekarang. Mungkin mereka terlalu banyak kirim sms yang menyebabkan bahasa tulisannya menjadi ngawur. Bagi mereka bahasa itu (4l4y) gaul tapi bagiku gak ada mutunya <del>jadi ingat anakku sendiri</del> 😥

    Suka

    Balas

    1. Pak Sugeng, saya rasa hal itu tidak bisa disalahkan pada generasi muda sebagai bagian dari upaya mereka menemukan keberadaan (eksistensi) di tengah masyarakat modern. Seperti yang saya sampaikan dalam tanggapan sebelumnya, berbahasa itu seperti berkendara, yah jika ikut ajang F1 boleh-lah ngebut, jika ikut motorcross boleh-lah angkat ban depan, tapi jika sudah ikut tujuan publik berada di jalan raya, maka semuanya mesti tertib.

      Bahasa saya rasa juga demikian, tidak apa-apa sih ungkapan <code>4|4y</code> itu mereka gunakan di antara sesamanya, namun saat hendak berkomunikasi dengan masyarakat yang lebih luas di negeri ini, baik secara formal maupun non formal, saya rasa penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah sesuatu yang tidak dapat ditawar-tawar lagi.

      Suka

      Balas

  2. Waktu masih sekolah dulu dan ketika menginjak bang kuliah, pelajaran bahasa Indonesia adalah favorit saya mas. Saya suka sekali kalau sudah membahas masalah tata bahasa dan ejaan.

    Untungnya media blog memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi saya untuk melatih kemampuan berbahasa saya, khususnya bahasa tulisan. Sebelum aktif ngeblog pun, saya sudah hobi menulis lewat sebuah situs konsumen.

    Masalah yang kadang agak menghambat ketika menulis di blog yaitu keinginan untuk mencairkan gaya bahasa dan penyederhanaan kalimat (agar bisa lebih mudah dipahami oleh target pembaca).

    Namun pasti ada jalan tengahnya. Kita tetap bisa menulis dengan gaya santai dan tetap memperhatikan kaidah tata bahasa yang baik & benar.

    Suka

    Balas

    1. Mas Is, saya rasa jika bahasa ditulis dengan baik, justru jika dibaca dengan seksama akan lebih mudah diresapi dibandingkan dengan yang ditulis tanpa mempertimbangkan aturan (tentu saja juga memperhatikan faktor keterbacaan sebuah tulisan daring). Misalnya seperti blog yang saya rekomendasikan pada tulisan di atas, mungkin karena berasal dari rubrik bahasa, jadinya bahasanya rapi dan mudah dipahami.

      Jika kita sekadar menuangkan ide, saya rasa gaya bahasa yang personal akan terlimpah juga, pun itu tidak masalah. Tapi ketika membagi ide, saya rasa dengan sendiri gaya bahasa yang personal itu akan bersifat santai tanpa perlu dipaksakan, karena toh berbagi pada prinsipnya tanpa paksaan.

      Suka

      Balas

    1. Mas Dhany, saya rasa bahasa itu dibangun agar menjadi sederhana, sehingga setiap orang dapat menggunakannya secara baik dan benar dalam menyampaikan dan menerima informasi, jika tidak demikian maka bahasa tersebut tidak bisa memenuhi standar sebuah bahasa. Layaknya menggunakan jalan, maka pengguna jalan pastilah sebenarnya bisa tertib dan santun berlalu lintas, tapi pelanggaran selalu ada, alasan saya rasa bukan karena berlalu lintas yang tertib itu sulit, tapi lebih pada ketidakacuhan pada berlalul lintas secara tertib itu sendiri – IMHO :).

      Suka

      Balas

    1. Saya bukan ahli tata bahasa Mbak, jadinya tidak layak-lah menilai gaya berbahasa blog orang lain, tapi setidaknya saya bisa sampaikan bahwa saya suka membaca tulisan-tulisan di blog Jeng Tt :).

      Suka

      Balas

  3. Banyak blogger yang masih belum bisa membedakan awalan dan kata depan, misal di, ke, atau kata sandang yang harus disambung dengan kata kerja, partikel dan lain-lain.

    Aku masih terus belajar dan suka dengan blog yang ditulis dengan bahasa Indonesia yang baik.

    Terima kasih masukannya, segera melangkah ke sana.

    Suka

    Balas

  4. Aku langsung meluncur ke Rubrik Bahasa (nice recommendation, Cahya). Aku jadi writer di kantorku sekarang dan setengah mati susahnya bikin kalimat bahasa Indonesia yang baik dan benar dan lebih susah lagi kalo harus membantu bos (yang bahasa Indonesianya masih kurang lancar) untuk mengerti kalimat Indonesia saya. Dulu, gak serius ikut pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dan sekarang saya menyesal! 😦

    Suka

    Balas

    1. Deva, santai saja, saya juga tidak pernah serius belajar bahasa Indonesia, jika saya serius saya pasti sudah jadi lulusan sarjana sastra saat ini :).

      Tapi kita bisa selalu belajar, selama masih ada napas ini, maka kesempatan itu akan selalu ada.

      Suka

      Balas

      1. Yup, setuju. Kaya kita kalo gak bisa bahasa Inggris dengan baik dan benar ya santai aja, toh kita bukan orang Amerika yang selalu berbahasa Inggris sehari-hari, kan? Belajar sich kuncinya 🙂

        Suka

        Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.