Kematian dan Ide

Apakah maknanya mati? Melepaskan segala sesuatunya. Kematian memotong Anda dengan bilah yang teramat tajam dari keterikatan anda, dari pujaan-pujaan anda, dari takhayul anda, dari hasrat anda akan kenyamanan di kehidupan yang mendatang dan seterusnya.

Jadi saya hendak menemukan apa maknanya mati, karena ia sama pentingnya dengan sebagaimana juga kehidupan. Jadi bagaimana saya akan menemukan, senyatanya, bukan secara teoritis, apa maknanya mati? Saya senyatanya ingin menemukan, sebagaimana Anda ingin tahu. Saya berbicara pada Anda, jadi jangan terlelap.

Apa maknanya mati? Tempatkan pertanyaan tersebut untuk diri anda sendiri. Ketika Anda muda, atau ketika Anda sangat tua, pertanyaan ini selalu ada.

Ini bermakna sepenuhnya bebas, menjadi tidak terikat sepenuhnya akan apa yang manusia telah kumpulkan, atau apa yang telah Anda kumpulkan – bebas sepenuhnya. Tiada keterikatan, tiada pujaan, tiada masa depan, tiada masa lalu.

Anda tidak melihat keindahannya, kebesarannya, kekuatannya yang luar biasa akan mati di saat hidup. Anda paham apa maknanya? Ketika Anda hidup, maka setiap saatnya Anda mati, jadi sepanjang hayat Anda tidak melekat pada apapun. Itulah maknanya mati.

The Future is Now, Chapter 10.

 

Dapat ide-ide menghasilkan tindakan, ataukah ide-ide hanyalah semata-mata cetakan pikiran sedemikian hingga membatasi tindakan? Ketika tindakan didorong oleh suatu ide, tindakan tidak akan pernah dapat membebaskan manusia. Adalah teramat penting bagi kita untuk memahami poin ini. Jika ide membentuk tindakan, maka tindakan tidak akan pernah dapat memberi solusi bagi penderitaan kita, karena, sebelum bisa diejawantahkan ke dalam tindakan, kita pertama-tama harus menemukan bagaimana ide dapat mewujud.

The Book of Life.

 

Apa yang kita maksudkan dengan ide? Tentunya, bukankah ide adalah proses pikiran? Ide adalah sebuah proses pemikiran, dan pemikiran selalu merupakan sebuah reaksi, baik secara sadar maupun tidak sadar. Pemikiran adalah sebuah proses verbalisasi yang merupakan hasil dari ingatan.

Pemikiran adalah proses waktu. Jadi, saat tindakan berdasarkan proses pemikiran, tidak seperti itu secara tak terelakkan menjadi terkondisi, terkungkung. Ide harus melawan ide; ide harus didominasi oleh ide. Terdapat sebuah celah antara tindakan dan ide. Apa yang hendak kita temukan adalah apakah mungkin bagi sebuah tindakan hadir tanpa ide.

Kita menyaksikan bagaimana ide memisahkan orang-orang. Sebagaimana saya telah jelaskan, pengetahuan dan kepercayaan kualitas-kualitas pemisahan yang esensial. Kepercayaan-kepercayaan tidak pernah menyatukan orang-orang, mereka selalu memisahkan orang-orang. Ketika tindakan berdasarkan kepercayaan, atau sebuah ide, atau sebuah idealisme, tindakan seperti itu tanpa terelakan menjadi terkungkung dan terfragmentasi.

Apakah mungkin guna bertindak tanpa proses pikiran; pikiran menjadi sebuah proses waktu, sebuah proses perhitungan, sebuah proses perlindungan diri, sebuah proses kepercayaan, penolakan, kecaman, pembenaran? Tentunya telah terjadi pada Anda, sebagaimana sudah terjadi pada saya, apakah tindakan sepenuhnya mungkin tanpa ide.

The Book of Life.

Iklan

4 pemikiran pada “Kematian dan Ide

  1. co-that

    Akhirnya bisa komenlagi :p nice post bli. Mungkin anda harus baca Near Death Experience by Tammy Cohen. Kematian adalah pembebasan 🙂

    Suka

  2. Ada, tindakan yang tanpa dilalui proses berfikir atau tak punya ide sebagai dasarnya. Yakni tindakan yang reflek mengikuti emosi yang telah dikuasai ego atau terkondisikan oleh situasi diluar dirinya.

    Dan ada pula tindakan yang tak mungkin tanpa ide, ini terjadi ketika ia sudah menjadi penguasa atas diri;egonya juga mampu menjadi pengendali terhadap situasi. Ketika semuannya bisa dalam pengaturannya maka akan sangat mudah baginya atau mungkin juga secara otomatis fikiran tempat ide itu bersarang akan bekerja secara cepat sebelum sebuah tindakan itu ada.

    Soal kematian menurut saya adalah ketika segala apa yang kita punya, termasuk daya diri sirna. Tidak ada sedikitpun yang bisa diusahakan dalam kesirnaan dan keterikatan kita terhadap seegala sesuatu; kebahagiaan, kesedihan, nafsu dan seterusnya tak satupun yang melekat. Tapi apa mungkin jika hidup kita disebut mati?. Karena selama hidup hal-hal tersebut masih saja akan melekat hingga hanya bisa lenyap dengan seebuah kematian itu sendiri?

    Suka

  3. Ladeva

    Cahya, aku pernah baca entah tulisan siapa yang menulis: kenapa saat ada yang meninggal harus menangis? bukankah harusnya bahagia karena ia telah menemukan kebahagiaan yang sejati.

    Tetap aja ya…ada yang meninggal pasti ada yang sedih, setegar apa pun seseorang…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.