Dagelan Indosat M2 (bag. 4)

Anda masih ingat dengan kisah saya tentang “Dagelan Indosat M2 (bag. 3)” di mana pihak Indosat M2 mengirimkan iklan via jendela munculan (pop up) pada peramban pelanggannya? Nah, kini upaya tersebut tidak berhenti di sana, beberapa hari ini IM2 justru mengirimkan saya surat elektronik yang berisi iklan. Aneh sekali mereka rajin mengirim iklan dan promosi pihak ketiga, tapi kok tagihan elektronik yang seharusnya saya terima tidak pernah sekali pun terkirim ke kotak surat saya ya? Sehingga saya malah menghabiskan lumayan banyak lebar pita (bandwidth) Internet untuk mengakses situs mereka yang berat, hanya untuk melihat tagihan saya yang mesti dibayarkan, meski walau untuk pasca bayar saya selalu bayar di muka (debit).

Iklan ini bahkan tidak kecil, kadang berupa gambar yang… yah…, lagi-lagi kembali ke lebar pita bulanan. Saya bukan golongan orang kaya, meski memilih paket pasca bayar, tapi itu-pun yang paling murah. Eh…, malah ditawari iklan yang produk atau jasanya hanya bisa diakses oleh orang-orang berduit. Memang lucu dan aneh pihak IM2 ini.

Ilustrasi. Sumber: KerbauBoi.

Iklan tersebut menunjukkan ketidakprofesionalismean pihak Indosat M2 sebagai pengelola/penyedia jasa Internet (ISP). Beberapa butir berikut adalah catatan saya.

  • Alamat surat elektronik pelanggan adalah privasi pelanggan dan hanya digunakan dalam hubungan bisnis antara pelanggan dan penyedia jasa/layanan yang berkaitan dengan jasa/layanan yang disepakati.
  • Alamat surat elektronik pelanggan adalah privasi pelanggan sedemikian hingga tidak dapat dibocorkan atau diberikan pada pihak ketiga, kecuali dalam kondisi khusus yang diatur oleh undang-undang untuk kepentingan hukum.
  • Alamat surat elektronik pelanggan adalah privasi pelanggan dan tidak dapat digunakan untuk tujuan lain yang memberikan keuntungan pada pihak ketiga selain pelanggan dan penyedia jasa, di mana pelanggan tidak mendapat keuntungan sama sekali atau justru sebaliknya merasa dirugikan.
  • Tindakan-tindakan yang melanggar privasi pelanggan akan kepemilikan alamat surat elektroniknya dengan memberikan iklan oleh pihak ketiga yang kemudian oleh pelanggan dianggap justru merugikan dapat dikategorikan sebagai tindakan “spamming“.
  • Segala jenis “spam” tidak berkesesuain dengan upaya pembangunan dunia Internet yang sehat di negeri ini.

Jika saya melirik kembali butir-butir catatan saya sendiri, maka saya dapat mengasumsikan bahwa pihak IM2 telah melakukan “spamming” pada saya selaku pelanggannya.

Anda yang cukup sering menjelajah Internet mungkin pernah menemukan, ketika menggunakan jasa atau layanan tertentu, seringkali pihak penyedia layanan akan menawarkan apakah Anda bersedia menerima iklan/informasi produk/jasa yang disediakan oleh penyedia iklan atau pihak ketiga yang menjadi sponsor. Anda bisa mencentang tawaran tersebut sebagai persetujuan atau tidak untuk pilihan sebaliknya, karena hal tersebut adalah sepenuhnya hak pelanggan. Namun seingat saya, pihak IM2 tidak pernah menawarkan hal tersebut atau memberi penjelasan sebelumnya tentang hal tersebut.

Di negara lain mungkin ada produk undang-undang yang mengatur tentang larangan “spamming” oleh penyedia jasa telekomunikasi dan Internet kepada para pelanggannya, dan sanksi untuk pelanggarannya. Tapi di negeri kita – yang katanya tercinta ini – jangankan ingin menuntut hak dan privasi kita sebagai pengguna layanan telekomunikasi dan Internet, berharap mereka – anggota dewan yang terhormat – yang mewakili aspirasi rakyat seperti kita, yang semestinya merancang produk undang-undang untuk menjamin hak dan privasi warga negara dalam segala bidang, … berharap agar setidaknya mereka melek teknologi telekomunikasi dan Internet saja sudah bagaikan mimpi di siang bolong, tidak nyata, bahkan tidak tampak nyata sama sekali.

Apalagi oleh orang seperti saya, yang buta hukum meski untungnya nasib membuat saya tak sampai buta aksara, maka hak-hak dan privasi saya dalam berkomunikasi dengan Internet akan bisa selalu menjadi apa yang saya sebut “terjajah oleh penyampah berkerah putih“. Ah, meski Undang Undang Dasar sudah menyatakan penjajahan bukanlah sesuatu yang selayaknya dibangun di negeri ini, toh kisah saya ini hanya sebagian kecil dari banyaknya penjajahan terselubung di negeri ini, tidak hanya oleh bangsa asing, namun juga kaum sendiri. Iya toh?

Iklan

25 Comments

  1. Ayolah Bli, pindah saja ke Flash.. 100rb perbulan unlimited. Atau pakai 3 yang lebih irit tapi main kuota. Sekedar alternatif karena saya pengalaman pakai IM2 dan memang menguras emosi jiwa dan raga 😆

    Suka

    Balas

    1. Nandini, saya perlu yang tidak pakai sms, males nyetel kemampuan sms di Linux, kalau IM2 kan lewat web server untuk topup-nya, jadi lebih mudah, itu saja sih :).

      Suka

      Balas

  2. Mas Cahya, saya barusan baca serial dagelan ini, dari seri 4 sampai 1, dan untung sekali saya membacanya. Sebenarnya saya ada rencana untuk nyoba pakai Indosat M2, karena (menurut gosip/iklan) layanan internetnya bagus. Tapi setelah baca serial ini, saya jadi eneg. Rupanya Indosat tidak hanya buruk dalam layanan seluler, tapi juga parah dalam servis internetnya.

    Suka

    Balas

    1. Hoeda, selain keluhan saya tersebut, kalau dilirik kembali, selama kuota 3G masih ada, dan jaringan HSDPA tersedia, maka berselancar dengan IM2 masih cukup nyaman 🙂 – di mana pun sebuah layanan selalu ada kurang dan lebihnya. Tapi dengan tulisan ini, saya harap jika pihak IM2 membacanya, mereka bisa membenahi hal yang saya nilai sebagai kekurangan dalam layanan mereka ini.

      Suka

      Balas

    1. Putu, kalau bijaknya, komplain sebaiknya diajukan dulu ke pihak penyedia layanan Internet kan? Bagi saya daripada melaporkan ke lembaga yang memiliki sedikit kemungkinan mendengarkan keluhan kecil seperti ini (karena mungkin kesibukan mereka akan pelbagai urusan lainnya), maka menulis di sini adalah sebuah alternatif penyampaian yang lebih bisa menyuarakan pikiran saya :).

      Suka

      Balas

      1. beberapa waktu lalu, saya baca blog mas priyadi tentang API indosat yg ngebocorin data pelanggan seluler dan ada dikit tutorial cara manfaatin API mereka itu :(( horror deh

        Suka

        Balas

        1. Kenapa ya Pak, bisa dibocorkan begitu. Ah, susah memang, enaknya nanti punya telpon rumah saja, biar surat lewat pos saja kali ya :).

          Suka

    1. Kalau iklan di sidebar bisa diatasi dengan mudah, bisa lewat firewall atau noscript di Firefox, kan khas banget alamat IP server pengiklannya. Nah, ini via surat elektronik, he he…, saya sampai geleng-geleng dengan kegigihan mereka beriklan. Masalahnya apa dengan mengganti ke pascabayar kemudian situasi bisa teratasi? Kalau sama saja, kan berarti sia-sia dong Mas :(.

      Suka

      Balas

  3. semoga saja pihak telkom tidak demikian. karena saya barusaja mengaktifkan fasilitas yang sama.

    sangat disayangkan.

    Suka

    Balas

    1. Septian, kalau di untuk kartu telepon seluler, malah Flexi CDMA saya paling banyak sms spam yang masuk. Kalau dicek kotak SMS masuk, di antara 100 pesan, maka 90-nya adalah sms iklan dari Flexi, nah saya tidak tahu deh kalau produk Telkom lainnya, terlalu takut untuk membayangkan. Tapi semoga saja tidak demikian Mas.

      Suka

      Balas

      1. kalau sms mungkin iya tapi gak serame XLprabayar punya saya, gak tau lagi tentang perbedaan layanan untuk pascabayar dan prabayar. tapi kalau email jangan sampai, *udah penuh inbox emailnya sama spam*

        Suka

        Balas

  4. Operator yang saya pakai si untungnya tidak seperti itu.

    Kalau memang sudah ga sreg ya sebaiknya terminate kontrak saja daripada dirugikan 😀

    Suka

    Balas

    1. Mas Andhy, saya juga berpikir demikian, tapi menunggu akhir bulan, sambil saya mempertimbangkan ISP lain berbasis GSM yang bisa jadikan gantinya. Kira-kira Mas Andhy ada rekomendasi untuk menggunakan ISP yang mana?

      Jika pun belum dapat gantinya, saya masih bisa menggunakan ISP primer saya, karena IM2 hanya cadangan sebenarnya.

      Suka

      Balas

  5. Kalau urusan begini (spam menyepam) berarti ISP saya masih lebih baik dari IM2.

    Marketing kalau kesannya nguyek, memaksa justru calon pelanggan malah lari kayaknya. Bukan malah membeli. Coba ditawarkan secara soft selling pasti orang lebih tertarik. 🙂

    Suka

    Balas

    1. Pak Joko, saya bukan ahli teknik pemasaran. Masalah untuk mendapatkan produknya kan saya bayar, kecuali IM2 memberi jalur Internet gratis, ya monggo silakan beriklan kalau memang demikian term of service-nya. Atau kalau IM2 mau membayar/mengganti akses Internet yang digunakan untuk menerima iklan dan atas waktu yang disisihkan pelanggan untuk berurusan dengan iklan tersebut.

      He he…, sayangnya selama ini di mata saya, semua iklan dan penawaran termasuk hard sell, meski tidak memaksa :).

      Suka

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.