Memasang Kubuntu bersama Ubuntu 11.04

Setelah sukses memasang Fedora 15 namun gagal menikmati Gnome Shell-nya, karena Gnome Shell sebagai Desktop 3D lainnya tidak bisa dijalankan di VirtualBox, maka saya memilih mencoba memasang Kubuntu. Karena Kubuntu hanyalah versi spins-off dari Ubuntu dengan desktop KDE, jadinya saya tidak perlu memasangnya dari awal. Meski saya memiliki DVD instalasinya, namun cukup memasang melalui Ubuntu Software Center saja.

Tinggal membuka Ubuntu Software Center dan temukan paket resmi Kubuntu dengan setelah mencarinya dengan kata kunci Kubuntu. Paket resmi adalah paket yang didukung oleh Canonical.

Memilih Paket Kubuntu Plasma Desktop/Netbook System
Paket resmi berisi informasi dukungan dari Canonical

Jika memilih memasang paket resmi, maka akan ada sekitar 100 MB berkas yang akan diunduh, dan memerlukan ruang kosong lebih dari 300 MB untuk pemasangan Kubuntu. Tinggal memasang saja, dan sistem akan mengerjakan sisanya.

Setelah pemasangan selesai, mulai ulang sistem. Saat melakukan ini, saya menemukan ada sesuatu yang tidak wajar, boot-screen dan boot-logo, semuanya menjadi bertema Kubuntu. Dan boot-time jauh lebih lebih lama daripada saat terpasang Ubuntu saja, mungkin sekitar 1,5-3 kali waktu boot normal.

Pada login-screen tidak tampak ada perubahan, hanya saja terdapat opsi untuk memilih masuk ke dalam KDE Plasma Desktop. Seperti saat menggunakan openSUSE, jika kita memasang Gnome dan KDE bersamaan, maka kita bisa memilih menggunakan desktop yang mana ketika akan memulai menggunakannya.

Tampilan Kubuntu 11.04 Plasma Desktop + Amarok

Muncul beberapa pop-up saat pertama kali masuk ke dekstop ini, pertama munculan yang menyatakan bahwa sound card dialihkan dari yang onboard ke PCI sound card karena dinilai lebih baik. Saya rasa fitur ini menarik, karena pengguna sudah akan tahu bahwa periferal yang digunakannya telah dikelola dengan baik oleh sistem. Namun sayangnya, pop-up seperti ini muncul setiap kali masuk ke dekstop, tentu saja lama-lama akan terasa mengganggu, karena saya rasa pengguna tidak memerlukan informasi yang sama berulang-ulang.

Kemudian, ada munculan yang menyarankan saya menyetel modem yang terdeteksi, lalu saya menyetel Modem CDMA yang sudah dideteksi oleh sistem. Tapi sepertinya penyakit KDE lama masih belum sembuh juga, dengan KNetwork Manager, modem Pantech PX-500 saya tetap tidak bisa diputar. Karena modem saya tidak menggunakan username dan password, sepertinya KDE ogah melayaninya, tidak seperti Gnome yang langsung memutar modem saya tanpa banyak basa-basi. Jadi untuk hal yang satu ini, KDE masih no action talk only! mengingat informasi yang jauh lebih banyak daripada Gnome namun tidak memberi solusi.

KDE adalah dekstop yang kaya dan cantik, karena plasma dekstop mengusung aspek artistik di dalamnya. Jika Anda mencari keindahan, maka dalam ranah Linux, saya rasa desktop KDE tidak ada yang menyaingi. Jendela yang sangat halus di sisi-nya, termasuk pergerakan jendela dan menu, semuanya luar biasa bercita rasa. Apalagi dengan perang dingin antara Gnome dan KDE, maka KDE selalu berupaya meningkatkan kualitas desktop-nya sehingga jauh melampaui Gnome yang bertahan dengan konsep GNU dan kesederhanaannya. Jika Anda menyukai kualitas dekstop 3D yang unik dan menarik, saya yakin Anda akan memilih KDE sebagai desktop.

Bandingkan saja peranti lunak untuk membuka gambar seperti Gwenview pada Kubuntu dan Eye of Gnome pada Ubuntu, maka terasa sekali mana yang lebih cantik dan kaya fitur. Karena itulah tidak heran jika KDE memiliki banyak penggemar fanatik, seperti selebritis dan para penggemarnya.

Namun sudah jadi sebuah stigma umum bahwa KDE selalu akan memerlukan resource lebih tinggi daripada Gnome, meski batas itu tampaknya semakin menipis saat ini. Apalagi setelah diluncurkannya Gnome 3 dan juga menanti datangnya KDE 4.7 nanti. Keduanya akan bersaing ketat dalam evolusi usabilitas dan keindahan dekstop. Tapi saya rasa keduanya akan tetap memiliki peminat masing-masing.

Namun sepertinya Kubuntu tetap memerlukan resolusi yang cukup tinggi, karena entah mengapa pada Kubuntu yang saya gunakan, tampilan fonta-nya memburuk, dan ini bahkan juga mempengaruhi dekstop Ubuntu. Seandainya resolusi layar rendah, bisa jadi saya kesulitan membaca tulisan pada desktop Kubuntu. Dan sampai saat ini saya belum menemukan solusi untuk mengembalikannya.

Akhir kata, setelah 30 menit mencoba Kubuntu 11.04, saya pun menghapusnya dari sistem. Dan kembali mendapatkan dekstop Gnome yang lebih ringan dan sederhana, atau tepatnya, dekstop Unity milik Ubuntu.

Iklan

6 pemikiran pada “Memasang Kubuntu bersama Ubuntu 11.04

  1. Nurul Imam

    sayang banget yah GNOME shellnya ngga bisa.

    padahal saya pengen banget ngenikmatinnya.

    Tapi saya sendiri sih lebih suka KDE

    Suka

  2. iskandaria

    Menyimak pengalaman mas Cahya di atas, sudah cukup bagi saya untuk tidak mencoba Kubuntu 🙂 Apalagi VGA card laptop saya kurang mendukung fitur 3D pada dekstopnya. Unity 3D aja nggak bisa jalan. Termasuk Gnome Shell (Gnome 3). Jadi ragu juga mau pasang Fedora 15 atau sekadar menjalankan via mesin virtual.

    Suka

    1. Kalau gagal meluncurkan 3D kan nanti akan beralih sendiri ke 2D, biasa penyesuaian standar. Jangan mau kalah dong Mas Is, hasil pendapatan dari IBN kan lumayan tuh buah beli VGA card baru, he he…, #cipratbensin :D.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.