Ironi Bali: Meneropong Lingkungan hidup di Bali

Dalam rangka peringatan lingkungan 2011, maka Walhi Bali yang didukung oleh jaringan civil society di Bali mengadakan serangkaian acara salah satunya adalah pameran foto mengenai kerusakan lingkungan di Bali. Adapun tema nya: “Ironi [pulau] Bali; Meneropong Lingkungan hidup di Bali“.

Acara pameran foto ini sesungguhnya adalah bentuk pengaduan masyarakat tentang rusaknya lingkungan di Bali (yang selama ini diklaim sebagai the last paradise) melalui media foto dan dipamerkan yaitu di Wantilan DPRD Propinsi Bali (di sentra kekuasaan legislatif di Bali ) dari tanggal 5 juni sampai 7 juni 2011.

Semua kalangan dapat turut serta, baik fotografer profesional, amatir maupun masyarakat umum dengan pelbagai jenis kamera, termasuk kamera ponsel. Objek fotografi harus merupakan kondisi yang sesungguhnya, atau realita bukan hasil manipulasi.

Syarat lomba:

  1. Foto hasil karya sendiri/atau milik orang lain yang telah diberikan izin untuk ditampilkan;
  2. Peristiwa yang diabadikan dalam foto adalah mengenai lingkungan di Bali dan terutama mengenai kerusakan lingkungan baik pencemaran limbah, sampah, melanggar perda RTRW propinsi bali, seperti sempadan sungai, jurang , pantai dan lain sebagainya;
  3. Berisi/menyertakan penjelasan lokasi obyek foto dan narasi peristiwa;
  4. Berisi/menyertakan tanggal , bulan, tahun pengambilan;
  5. Bagi yang mengirimkan foto diberikan pigam penghargaan dari Walhi Bali sebagai bentuk apresiasi atas partisipasinya.

Yang berminat ikut silahkan mengirimkan foto hasi jepretannya tentang kerusakan lingkungan di Bali beserta narasinya ke email office@walhibali.org, untuk info lebih jelas bisa hubungi CP (admin) : +628737439019 atau ihat di FB Gendo Suardana.

Iklan

5 pemikiran pada “Ironi Bali: Meneropong Lingkungan hidup di Bali

  1. Padly

    Aku 4 kali ke Bali, yang aku lihat cuma keindahan alam dan udara yang segar karena di Surabaya sangat sangat sulit untuk mendapatkan hal tsb.

    Kerusakan yang aku lihat cuma ketiadaan moral/etika dalam pergaulan sehari-hari, khususnya anak-anak muda di sekitar Kuta. Tak ada lagi budaya ketimuran kita disana, takluk oleh budaya Barat yang sangat menonjolkan vulgar-ism.

    Apakah hal tsb ada sewaktu jaman I Gusti Ngurah Rai? Atau kah itu yang disebut modernisasi?

    Untuk kerusakan lingkungan, aku tidak pernah memperhatikan, mungkin aku sudah terlena oleh keindahan alam Bali, sehingga tidak memperhatikan hal tsb.

    Suka

    1. Mas Padly, saya sendiri jarang ke Kuta, tidak banyak yang menarik perhatian saya secara pribadi di sana. Saya mungkin lebih memilih pergi ke Bali Botanical Garden 🙂 – setidaknya udaranya lebih segar daripada area Bali Selatan.

      Jika masalah pergeseran kultural, saya tidak dapat banyak bicara. Karena saya besar di Timur, mungkin saya tidak akan pas dengan budaya Barat khususnya seperti budaya Amerika, jika Eropa saya masih bisa sedikit menyesuaikan diri, namun saya tidak bisa menempatkan diri saya sebagai pribadi yang ofensif terhadap kultur tertentu. Ketika beberapa budaya batas-batasnya saling bersinggungan, maka bisa terjadi asimilasi, ataupun eleminasi.

      Yah, kita bisa menyebutkan sebagai zaman modern, di mana unsur-unsur global semakin tampak nyata mengalami penyempitan ruang karena mobilisasi masyarakat yang luar biasa, baik secara nyata maupun secara maya. Dan mereka membawa kultur mereka ke tempat-tempat yang kini disinggahi. Kalau tempo dulu budaya Bali banyak mendapatkan sentuhan dari budaya India, Cina dan Belanda, kini mungkin dengan budaya negara-negara Barat. Tidak hanya Bali, kota-kota di Indonesia yang mengalami arus deras sentuhan modernisasi juga mengalami hal serupa.

      Ini bukanlah sesuatu yang dapat kita halang-halangi, masyarakat selayaknya dibangun di atas kesadaran yang utuh, bukan paksaan 🙂 – kita hanya mewariskan kebijaksanaan kita yang sempit pada dunia yang luas ini, saya tidak berharap negeri ini kehilangan budayanya, karena Indonesia akan indah seperti halnya Indonesia yang kita kenal dengan ragam budayanya. Sehingga biarkanlah generasi ini memilih dengan kesadarannya sendiri, apakah akan tetap berjalan pada budayanya, ataukah akan menemukan sesuatu yang baru. Kita hanya dapat berharap bahwa sebuah generasi akan cukup bijak untuk membuat pilihannya.

      Mas Padly, kalau untuk sampah, rasanya tidak mungkin sih para wisatawan akan digiring ke lokasi yang banyak sampahnya :D.

      Suka

    1. Ndak Pak Jarwadi, saya baru rencana balik ke Bali pertengahan bulan depan, jadi tidak sempat membuat foto-foto, tapi bisa jadi ini ide yang bagus untuk saya tulis di blog, meski saya tidak turut lombanya.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.