Si Vis Pacem, Para Bellum

Dalam bahasa latin, ungkapan “si vis pacem, para bellum” bermakna “jika kamu menghendaki perdamaian, maka bersiaplah untuk berperang”. Salah satu slogan yang cukup terkenal dan dipakai serta dimodifikasi oleh banyak pihak lainnya, termasuk pada era Napoleon Bonaparte hingga ke perang dunia II.

Ungkapan tersebut menyiratkan bahwa subjek yang memiliki kekuatan lebih, dan memiliki persiapan untuk bisa berperang akan memiliki kencenderungan yang lebih sedikit diserang oleh subjek lainnya. Seperti singa di belantara Afrika, hewan mana yang cukup berani mengganggu kedamaian mereka.

Negara kita yang tidak begitu memiliki “taring” dalam angkatan bersenjata sering diganggu negara tetangga, padahal konon potensi angkatan bersenjata kita seharusnya tidaklah “selemah” saat ini. Apalagi mengingat riwayat nusantara lama dengan kerajaan-kerajaan nusantaranya yang pernah berjaya. Bukankah demikian?

Namun kali ini saya tidak hendak membahas tentang angkatan bersenjata negeri ini. Namun tentang konsep perdamaian yang sebenarnya cukup rapuh. Meski negara-negara di dunia menginginkan perdamaian, meski ada organisasi-organisasi besar hingga gerakan kecil untuk mewujudkan itu, pada faktanya konflik selalu terjadi di mana-mana di pelbagai belahan dunia.

Pun meski semuanya hanya berasal dari perbedaan kepentingan ataupun perbedaan persepsi semata. Coba perhatikan gambar sekawanan “prairie dog” berikut ini.

Prairie Dogs

Mereka – seperti kawanan hewan kecil lainnya yang rentan dimangsa oleh predator, selalu memilih untuk awas & waspada terhadap lingkungannya.

Di masyarakat juga berlaku hal serupa, dalam persaingan bisnis, dalam rebutan ranking di sekolah. Pada dasarnya kehidupan kita yang serba kompetitif dan adanya potensi pihak-pihak tertentu untuk mengeksploitasi pihak-pihak lainnya adalah mengapa kehidupan kita tak sepenuhnya damai, hanya sebuah leksikalitas perdamaian yang rapuh.

Namun tidak selamanya berarti mesti dengan jalan kekerasan, Gandhi semisalnya memiliki caranya sendiri dalam berperang untuk mewujudkan perdamaian. Beliau memulai dari perdamaian itu sendiri.

Jadi, bukankah, si vis pacem, para bellum akan tetap berlaku di dunia yang penuh dengan konflik ini?

Iklan

Satu pemikiran pada “Si Vis Pacem, Para Bellum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.