Tanah, Leluhur dan Dewata

Sore itu senja menggantung di antara rerimbunan nyiur yang membelah persawahan luas, Nang Olog baru tiba di gubuk kecilnya setelah usai memandikan dua sapinya sehabis menggarap sawah. Peluh mengucur pelan dari rambut-rambutnya yang telah memutih, di antara kulit-kulitnya yang telah lama mengeriput. Sesekali ia meneguk air putih dari sebuah botol bekas air mineral yang sudah tampak kumuh dan lusuh, meski tak selusuh bajunya yang dipenuhi noda lumpur dan mungkin beberapa cipratan getah pohon dan entah apa lagi yang didapatkannya dari seumur hidup sebagai tani.

Perhatian Nang Olog asyik kelebatan burung kokokan putih yang mulai meninggalkan tanah-tanah basah berlumpur pada petak-petak yang sebentar lagi tertanam padi, hingga tiba-tiba saja perhatian itu teralihkan.

Beberapa suara kaki mendekat di jalanan tanah tidak jauh dari tempat ia sedang menyandarkan lelah & peluhnya. Ia menoleh pelan dan dilihatnya tiga orang berjalan beriringan, tentu saja Nang Olog langsung mengenali dua di antaranya, mereka adalah Nang Lecir dan istrinya yang mengapit seorang gadis muda yang tampak sedang terisak – yang sepertinya antara ia kenal dan tidak dalam ingatannya yang telah termakan usia.

Adi…” demikian Nang Olog menyapa Nang Lecir dan istrinya yang telah dianggap seperti keluarga sendiri. “Dari mana gerangan, dan siapakah ini?” Nang Olog merujuk pada gadis muda itu.

Ne Bli, dari menjemput Gek Moleh, dia baru datang dari rumahnya, ada sedikit masalah sehingga dia akan tinggal di sini sementara waktu.”

Tampak Nang Lecir tidak hendak menyembunyikan apapun dari Nang Olog, karena pastinya sudah kentara raut wajah sedih gadis muda yang ada di sampingnya. Lagi pula, gadis muda ini tak terhitung asing dalam hubungannya dengan Nang Olog.

Yeh, cening ne.” Sapa Nang Olog pada gadis muda itu yang kini memberi tatapan ramah orang tua pada anaknya, “Bapak ingat, dulu Ibu cening bersama pamanmu Olog, kami adalah teman sepermainan sejak kecil dulu. Bahkan kami bertiga sangat dekat.” Nang Olog kemudian memberi tatapan isyarat pada Nang Lecir sembari berkata, “Mari singgah dulu ke rumah, sudah lama tidak berjumpa keluarga jauh.”

Nang Lecir paham, bahwa ramah tamah itu bukan sekadar basa-basi. Nang Olog pastinya bisa melihat bahwa Gek Moleh punya masalah yang berat, dan mungkin akan lebih berat lagi jika mesti masuk ke dalam desa dan bertegur sapa dengan penduduk sembari berusaha untuk tidak terlalu menampakkan bahwa ia dalam masalah. Maka rumah Nang Olog yang berada dekat jalan masuk desa adalah persinggahan yang baik untuk menenangkan Gek Moleh terlebih dahulu, dan mendengarkan masalahnya, karena Nang Lecir sendiri belum jelas persis duduk masalahnya.

Gek Moleh mengangguk pelan, ia tampak menurut saja, jauh di dalam raut wajahnya yang lemah, mungkin jiwanya juga sudah ikut melemah. Sementara Nang Lecir meminta istrinya kembali ke rumah lebih awal untuk mengabarkan anggota keluarga yang lain tentang kedatangan Gek Moleh yang mendadak, dan menyiapkan kamar untuk keponakannya ini.

Ya, Gek Moleh adalah keponakan Nang Lecir, ia putri tunggal dari adik perempuan Nang Lecir satu-satunya.

Rumah Nang Olog tampak tak berubah, sama renta dengan usianya, namun kesehajaan itu akan memberikan petikan dawai ketenangan yang menyayup perlahan dan memberikan rasa damai di antara kegundahan. Nang Olog mempersilakan tamu-tamunya untuk duduk, sementara ia dan istri menyediakan hidangan ala kadarnya. Biasanya Nang Lecir lebih sering menolak jamuan Nang Olog karena ia tahu, orang yang dituakannya itu bahkan tidak makan & minum semewah jamuannya pada tamu yang hanya beberapa cangkir teh hangat dan buah-buahan dari kebunnya. Keluarga Nang Olog jika dihitung dengan statistik mungkin berada jauh di bawah garis kemiskinan, namun jika ada yang membuat garis kesejahteraan dan kebahagiaan baik lahir maupun batin, maka keluarga Nang Olog mungkin bisa jadi jauh berada di atasnya. Namun kali ini suguhan yang diberikan Nang Olog adalah dari seorang orang tua kepada anaknya, dan Nang Lecir tentu tidak bisa mencegah orang tua memberikan perhatiannya pada sang anak.

Singkat cerita, Gek Moleh mulai menyampaikan masalahnya dan berdiskusi dengan paman dan teman ibunya itu.

Di keluarga di mana Gek Moleh baru saja menikah pun menjadi menantu sejak setengah tahun terakhir terdapat wacana untuk memugar pura keluarga. Keluarga besarnya yang baru hendak mengganti bahan-bahan dari batu paras Taro yang sudah melapuk ke batu cadas yang lebih kuat dan lebih berseni, sebagaimana pura keluarga yang lain di sekitar lingkungan mereka yang sudah tampak lebih megah.

Hanya saja untuk membangun pura keluarga seperti itu perlu dana yang tidak sedikit, ratusan juta bisa terkucur tanpa jeda. Sayangnya keluarga besar Gek Moleh tidak memiliki dana sebanyak itu, dan jadilah yang dimintai penopang adalah Gek Moleh. Entah daripada mana keluarga besarnya mengetahui bahwa Gek Moleh memiliki warisan tanah yang cukup banyak untuk menutupi biaya itu jika dijual.

Sebagai salah satu anggota keluarga termuda & terbaru di keluarganya, ia merasa mendapatkan banyak tekanan dari yang anggota keluarga yang lain. Baik dengan alasan bahwa ini adalah kesempatan yang baik untuk memberikan bantuan bagi keluarga besarnya, ataupun bahwa sesungguhnya ia mungkin tidak memerlukan tanah tersebut – karena ia dan suaminya telah memiliki pekerjaan tetap yang memapankan kehidupan pengantin baru tersebut. Hingga sebagai tanda guna memperlihatkan niat baik sebagai anggota keluarga yang baru. Gek Moleh sampai tidak tahu mesti berkata apa, karena tanah yang diwariskan padanya ia merasa tidak boleh menjualnya begitu kecuali mendesak, tanah yang selayaknya mesti diberdayakan dan diwariskan kembali kepada generasi selanjutnya. Suaminya – sayang – tidak ada saat itu untuk membantunya karena urusan kerja. Akhirnya Gek Moleh meminta waktu mempertimbangkan, baik bersama suami maupun pada pamannya Nang Lecir.

Selesai penjelasan itu dengan nada sedih, tentu saja Nang Lecir dan Nang Olog mendapatkan gambaran apa yang sedang terjadi. Meski tradisi mengatur pewarisan dalam garis patrilineal, namun banyak keluarga juga memberikan warisan keluarga pada anak perempuan, dan tentu saja Nang Olog ingat persis dulu saat hadir sebagai saksi pewarisan tanah-tanah itu. Dan karena Gek Moleh tentunya kemudian juga karena puteri tunggal mendapatkan warisan dari pihak ayah selain juga meneruskan warisan dari ibunya. Kini ia merasa kesulitan tidak ada tempat lain mengadu kecuali pamannya, ibunya telah meninggal dua tahun yang lalu, dan ayahnya telah lama mungkin sampai ia tak memiliki kenangan akannya. Dan pamannya-lah yang pada masa-masa sulit ibunya dulu selalu mengulurkan bantuan.

Kedua orang tua itu yang mendengar cerita itu terdiam, mereka mungkin tahu apa yang menjadi jalan keluarnya, namun mereka tak ingin buru-buru, nasihat yang baik jika keliru penyampaian pada hati yang gundah bisa jadi buah simalakama baginya. Jadi para orang tua ini menyampaikan bahwa mereka menerima cerita ini dulu, dan mengatakan pada Gek Moleh akan membantu mencarikan jalan keluar bagi kegundahannya. Dan mengajaknya berbicara beberapa hari lagi setelah suasana hatinya kembali tenang di kampung leluhurnya ini.

Dua hari berselang, tampaknya suasana tani dan kesibukannya di desa bisa membuat Gek Moleh sedikit terangkat dari rasa murungnya, meski tentu saja masalahnya belum usai. Pada sore itu, Gek Moleh dimintai tolong oleh Nang Lecir untuk mencari beberapa kuntum bunga kenanga, cempaka dan kamboja dari rumah Nang Olog. Tentu saja kedatangannya di sambut baik oleh Nang Olog.

Silakan Cening, bisa petik langsung di sanggah, jangan lupa membawa galah bambu ini, beberapa bunga letaknya agak tinggi.” Nang Olog menyerahkan bambu kecil panjang yang ujung dibelah untuk memetik bunga, dan mengantar Gek Moleh sampai di luar sanggah – atau pura keluarga.

Gek Moleh sempat tertegun sejenak, ia memang sudah pernah datang ke rumah Nang Olog – bahkan dua hari sebelumnya – namun ia tidak memerhatikan apa yang ia lihat saat ini, entah apa karena kegundahan hatinya saat itu, ataukah karena hari memang sudah sore dan kemudian larut malam. Namun ini bukanlah sesuatu yang ia duga sebelumnya.

Sanggah yang terletak di Timur Laut pekarangan tersebut berpagar bukan dengan dengan tembok berukir namun tanaman seperti kembang sepatu yang dibuat rapat namun rapi. Beberapa, hampir semua bakan, mrajan – tempat pemujaan – bahkan jauh dari seperti keluarganya miliki saat ini, seperti yang hendak diperbarui. Beberapa mungkin berdiri sudah sejak lama, entahlah mungkin dengan batu paras dan gabungan dengan semen tanah yang sudah tampak berlumut, namun cukup bersih dari tanaman liar. Dan yang lain bahkan tidak dari batu atau tanah, melainkan dari beberapa batang pohon dadap yang merindang dan dibuat sedemikian rupa menjadi pengganti tugu pemujaan.

Gek Moleh tidak ingin berlama-lama, setelah mendapatkan yang diperlukannya, ia pun mengucapkan terima kasih & pamit pada Nang Olog, kemudian kembali ke rumah pamannya. Nang Olog pun tersenyum pelan, dia tahu hanya ini yang bisa ia lakukan untuk membantu.

Malam itu Gek Moleh dan Nang Lecir kembali mengobrol selepas makan malam di ruang keluarga.

Bagaimana Gek, sudah melihat sendiri sanggah Pan Olog kan?” tanya Nang Lecir pada keponakannya ini. “Bagaimana pendapatmu?”

Tempat itu – entah kenapa – Gek tidak dapat menggambarkannya.” Jawabnya pelan.

Itulah sanggah Gek, sama seperti yang kita punya di sini, sama seperti yang dimiliki oleh keluargamu itu.” – Nang Lecir meneguk teh yang terhidang di hadapannya, “Jika Gek melihat perbedaannya, itu hanyalah perbedaan yang dilihat oleh mata kita.”

Tapi kenapa orang mesti ingin semuanya diperbarui? Dan hingga seperti ini?” Gek Moleh tampak terduduk setengah melingkupkan jari-jarinya pada cangkir tehnya.

Karena kita ingin, seperti mengapa kita memilih baju yang mahal daripada baju yang murah. Karena kita ingin.”

Gek Moleh mengerti apa yang disampaikan oleh pamannya. Hubungan Ilahi dan insani bukanlah tentang kemewahan ataupun tentang keistimewaan, namun manusia memang selalu ingin tampil bahwa hubungannya dengan Sang Pencipta adalah istimewa, apalagi jika tampilannya itu kemudian bisa dilirik, dihargai dan diakui oleh orang-orang di sekitarnya, oleh lingkungannya. Namun bagaimana mungkin, berbicara hal itu pada keluarganya, apakah mereka memahami, atau jangankan justru dia akan dikucilkan karena dinilai sok tahu tentang agama.

Pamannya tersenyum, memahami kegundahan hati seorang perempuan muda di antara tekanan keluarga.

Gek, apakah Gek tahu bahwa ibu dulu punya sebuah harapan untuk masa depan Gek.” Nang Lecir memandang mata tajam namun lembut mata keponakannya itu, “Sejak kecil ibumu selalu ingin bersekolah, namun keadaan waktu itu tidak mengizinkan. Saat ia remaja, ia ingin punya anak yang bersekolah bahkan sampai setinggi-tingginya. Namun cobaan itu datang ketika suaminya, ayahmu, meninggalkan kalian berdua. Pun di keadaan yang serba sulit itu, dia berusaha dengan segenap tenaga menyekolahkanmu agar Gek mendapatkan pendidikan, dia bahkan menambahkan keinginannya untuk menyekolahkanmu sampai sarjana bahkan jika bisa, lebih tentunya. Ibumu sangat keras kepala, Paman sering ke tempatmu saat kecil untuk membantunya, namun ia lebih sering menolak, ia ingin membesarkanmu karena kamu adalah segala-galanya. Namun di antara semua usahanya itu, ada satu yang ibumu tidak lakukan, apa kamu tahu itu?

Apa Ibu tidak sempat menyekolahkan saya hingga sarjana?” Gek Moleh terdiam, mengingat ibunya juga pernah menyampaikan tentang itu, namun sang ibu terburu menghembuskan napas terakhirnya tepat saat Gek menyelesaikan sekolah menengah atasnya. Tubuh sang ibu mungkin telah terlalu lelah bekerja berpacu dengan semangatnya yang tak kenal lelah.

Bukan Nak, bukan itu.” Sahut sang paman dengan pelan, “Jika dia masih hidup, paman berani berkata pasti dia akan menyekolahkanmu sampai sarjana, meski memang benar ia tak pernah sempat, namun bukan itu.”

Gek seakan kembali ke masa lalu dan berada dalam dekapan sang ibu, kenangannya kembali ke masa-masa yang sulit namun selalu hangat ketika itu. Ia tak tahu, apa yang ibunya tidak lakukan.

Ibumu tidak pernah menjual tanah warisan dari kakek dan nenekmu. Itu yang tidak ia lakukan. Di saat semuanya sulit, banyak orang biasanya mengambil jalan pintas untuk menjual tanah warisan mereka agar dapat hidup, namun tidak dengan orang tuamu. Ibumu bilang pada paman, seandainya ia tidak sanggup menyekolahkanmu sampai sarjana dengan penghasilannya saja, ia akan menggunakan tanah itu sebagai jaminan. Namun seandainya ia bisa, ia akan meninggalkan tanah itu padamu, karena ia percaya, jika seseorang yang lebih terdidik darinya, akan lebih tahu bagaimana memanfaatkan tanah itu dengan lebih berdaya guna bagi kehidupan kalian kelak. Sebuah kepercayaan yang sama yang diwariskan oleh kakek dan nenekmu pada anak-anaknya.”

Sang paman sejenak menghentikan ceritanya sejenak di antara tegukan tehnya, “Nak, tanah itu bukanlah sebuah komoditas kehidupan yang kita gunakan untuk menukarkannya dengan sejumlah kenyamanan dan kemudahan. Ini adalah warisan leluhur, yang menurunkan kepercayaan dari generasi ke generasi, dan harapan, bahwa anak cucu kami akan lebih dari kami – setidaknya itulah yang paman dan ibumu percayai.”

Gek, Paman rasa bahkan ibumu pun tak bisa memaksamu untuk mempertahankan tanah itu, jika kamu hendak melepasnya, ia pun tak akan menyesalinya. Ini bukanlah tentang hal yang benar atau salah, bukan tentang hitam dan putih. Siapa tahu dulu dengan menjual tanah itu, ibumu justru bisa berbisnis dengan baik dan memberikanmu kesempatan untuk pendidikan yang lebih baik. Dia mungkin salah dengan mempertahankan tanah itu, dia mungkin benar juga. Tidak ada yang tahu. Bahkan ia juga bisa menjual tanah itu dan membangun pura keluarga kalian, jika ia percaya dengan demikian dewata akan memberikan lebih banyak kemurahan dan kemudahan hidup.”

Namun Gek, di mata ibumu, Gek adalah titipan para dewata, Gek adalah pura yang di mana ia bisa melihat semua pengharapan dan keyakinan dapat terwujud. Karena itu, jika ada yang mesti ia bangun dan benahi, itu adalah dirimu. Dan itulah yang membuat ibumu seorang ibu, sebagaimana juga leluhur kita dahulu.”

Perlahan air mata berlinang di kedua mata lembut perempuan muda itu, ia merasa begitu lemah melihat kembali sosok ibunya.

Lalu apa yang mesti Gek lakukan?” tanyanya dengan tersedu.

Nang Lecir terdiam sejenak, “Gek, pamanmu ini bukanlah penentu apa-apa yang mesti Gek putuskan dan lakukan, dan Paman tahu Gek pasti paham hal ini. Apa yang Paman sampaikan, adalah seperti apa yang kakek nenekmu pada Paman, dan begitu pula sebelum masa itu. Tanah itu hanyalah sebuah simbol, apakah itu akan tetap ada atau tidak bukanlah hal yang terpenting, paman tidak ingin kamu terbebani dengan hal-hal ini. Gek akan tahu apa yang harus dilakukan, jika Gek percaya itu kebaikan, dan Gek tidak takut untuk melangkah ke sana – seperti ibumu dulu. Ini bukan tanah yang diwariskan, ini bukan tentang leluhur kita dulu, ini bukan tentang para dewata, ini bukan tentang salah dan benar, ini tentang dirimu Gek, manusia seutuhnya.”

Malam semakin larut dan kabut turun tipis ke dalam bayang-bayang desa yang mulai terlelap. Percakapan mereka tidak lama kemudian berakhir, perempuan muda itu kini dapat memejamkan matanya dengan tenang, ia mungkin tidak tahu apa yang harus dilakukan,ia tak tahu esok akan bagaimana, namun ada ketenangan yang mendamaikan hatinya, seperti saat dalam pelukan sang ibu yang mengantarkannya ke dua mimpi di masa lalu.

Tulisan ini saya muat sebagai bagian dari kegiatan Hari Raya Galungan & Kungingan, Juli 2011. Tulisan lain yang direkomendasikan untuk dibaca pada kesempatan ini adalah “Persepsi Hitam dan Putih” oleh Agus Yudiana.

Iklan

Satu pemikiran pada “Tanah, Leluhur dan Dewata

  1. Saya sudah mencoba membaca perlahan. Memang salah satu warisan yang diturunkan oleh leluhur setiap keluarga di Bali biasanya dalam bentuk tanah.

    Pada kenyataannya, memang ada banyak keluarga yang akhirnya menjual tanahnya untuk tujuan tertentu. Entah terdesak untuk melanjutkan hidup atau sekedar ingin menjadi orang kaya baru. Ada juga yang menjual untuk modal usaha, walaupun tidak menjamin itu akan berhasil atau tidak.

    Memang warisan adalah warisan, penggunaannya diserahkan sepenuhnya pada sang pewaris. Saya rasa butuh pemikiran tenang dan kebijaksanaan serta pertimbangan yang matang tentang bagaimana menggunakannya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.