Di Tepian Jalan

Dalam rialk-riak kecil kehidupan, setiap insan memiliki tujuan dan tempat yang hendak dicapainya, hanya sedikit yang cuma singgah di kehidupan ini dan berjalan seadanya menyusuri keindahan riaknya (ya, saya boleh dihitung sebagai salah satunya). Bergeming menyeruput secangkir kehidupan dengan memandang gelagat awan-awan sore yang menggantung untuk menghilang sepertinya tak pernah akan menjadi sesuatu yang membosankan.

Terkadang saya sendiri merasa terlalu menikmati kehidupan secara ala kadarnya ini, sehingga banyak hal yang menjadi kontras bahkan paradoks terhadap dinamika kehidupan secara umumnya.

Namun saya sendiri tidak terlalu memikirkan semua keterbalikan itu, atau mungkin memang belum waktunya memikirkan. Jika ada orang yang bermimpi memiliki home theater sendiri, maka dia akan bekerja hingga larut malam tanpa kenal lelah, dan saya rasa itu adalah hal yang luar biasa seseorang dapat begitu tekun untuk mencapai apa yang diinginkannya. Sedangkan bagi saya yang selalu senang ditemani lembayung senja, maka saya akan menyisihkan waktu dengan melepas kerja sehingga dapat duduk di pinggiran gubuk tua hanya untuk seberkas cahaya di kaki langit.

Ada banyak orang di atas bumi ini yang sibuk menumpuk harta, sebagian yang lain sibuk menghabiskannya, ada yang bingung bagaimana mendapatkannya, ada yang panik bagaimana melepaskannya.

Selama beberapa hari ini saya menemukan banyak hal yang menarik. Saya menemukan seseorang yang bekerja tiga hingga empat kali lebih padat dibandingkan orang-orang seprofesinya pada tingkatannya. Dia ingin membuatkan orang tuanya sebuah rumah, dan ingin membangun rumah sendiri sebelum dia memasuki jenjang kehidupan selanjutnya (baca: menikah). Saya dengar dari sahabat dekatnya, dia ingin merealisasikan itu dalam kurang dari lima tahun, berarti sekitar tiga tahun dari sekarang.

Saya mengenalnya sejak lama, saya tahu ia orang yang sangat gigih – berbeda dengan saya yang hobinya adalah tidur siang semata. Saya mungkin tidak akan mampu bekerja sepertinya, karena saya tahu saya akan berakhir di rumah sakit lagi jika memaksakan diri saya bekerja lebih dari delapan jam sehari (standar baku). Namun saya harap dia tidak melakukan sesuatu yang bodoh. Saya ingat semasa kuliah, pengajar saya pernah menyampaikan bahwa profesi kami bukanlah ditujukan untuk mengejar kekayaan, jika ingin mengejar kekayaan maka jangan gunakan profesi ini.

Namun mungkin hal ini berbeda dengan persepsi umum yang ditemukan di tengah masyarakat kita. Obrolan saya dengan seorang gadis manis yang menemani saya melewati malam beberapa waktu yang lalu menjadi gambaran tersendiri tentang perspektif ini. Ketika dipandang mungkin banyak kalangan dalam profesi ini hidup “cukup kaya”, maka mereka yang hidup “seadanya” mungkin tidak tampak. Saya rasa saya tidak akan dapat menyangkal hal itu, karena memang demikian adanya.

Di sisi lain, saya bertemu sahabat baik saya yang setelah kembali dan mencoba menjalani profesinya beberapa saat memilih mundur sejenak, karena lingkungan kerja yang tidak kondusif. Idealismenya di ranah kemanusiaan mungkin tidak cocok bagi mereka yang menggunakan profesinya untuk kepentingan bisnis di atas kepentingan kemanusiaan. Dia lebih memilih sementara ini memasuki lingkungan pendidikan, dan mungkin berharap dapat membenahi apa yang menjadi sumber ketimpangan dalam sisi praktis profesi kami.

Dunia dipenuhi oleh ragam karakter yang berbeda-beda, bahkan bertolak belakang. Saya tidak bisa memaksakan bahwa semuanya mesti menjadi satu ragam dengan sebuah idealisme tunggal.

Gemitir

Jika ini memang sebuah perjalanan hidup, saya tidak ingin terlalu tergesa-gesa. Saya tak ingin melewatkan tepian jalan yang mengiringi saya, atau saya mungkin akan kehilangan kenangan yang mengikat saya untuk kembali jika saya tersesat nantinya, sesuatu yang indah di tepian jalan – kehidupan kemanusiaan itu sendiri.

Iklan

15 tanggapan untuk “Di Tepian Jalan

  1. Indah banget post ini, Cahya. Jadi, gadis manis yang menemani malam kamu itu adalah gadis yang membangunkan kamu dari tidur siang? *inget twitter, colek Mas Jarwadi* :))

    Suka

    1. Deva, kok jadi ke gadisnya yang kena. Ndak, itu hal yang berbeda, ini hanya kebetulan kami berjodoh untuk berada berdampingan selama satu malam, tidak ada hal lain di luar itu 🙂 #suer.

      Suka

        1. Lho, bukannya Pak @jarwadi sedang istirahat pasca kecelakaan yang dialaminya beberapa waktu yang lalu, jadi mungkin memang belum bisa blogwalking.

          Suka

  2. This anxiety is how I feel … in a different prespective of course …
    somehow there’s people who could combine their idealism with what world’s demmand (read: material) just like Dr. Jhonny here, maybe latter on I’ll post the story … 😀

    Suka

  3. keindahan itu tak hanya pada tujuan, perjalanan itu juga mengandung banyak keindahan. seperti halnya sungai dan lautan. jika mata dan pikiran kita hanya tertuju pada lautan, banyak sawah, tebing dll yang akan kita lewatkan 🙂

    Suka

    1. Tapi beberapa orang senang segalanya menjadi cepat dan instan, hadir di pantai tanpa perlu melewati sawah atau perbukitan, bahkan tanpa perlu memandingi macetnya jalur yang padat.

      Suka

      1. akh lagi lagi itulah pilihannya… semasih ada ruang/jarak instan itu tentu tetap memerlukan waktu. saat berjalan dalam dimensiwaktu itulah kita perlu menyadari setiap detiknya, bahwa di sekitar kita ada sawah ada tebing dll 🙂

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s