Children Who Chase Star

Ini adalah karya Makoto Shinkai yang dirilis pada pertengahan tahun ini, mengambil judul “Children Who Chase Lost Voices from Deep Below” merupakan salah satu film animasi Jepang terbaik pada tahun ini. Mungkin ini merupakan karya Shinkai yang menggabungkan aspek-aspek pada film sebelumnya, “The Promised Place in Our Early Days” dan “5 Centimeters per Second”, namun dalam nuansa yang benar-benar baru.

Hoshi o Ou Kodomo, demikian nama asli film ini yang secara harfiah bermakna: anak yang mengejar bintang – menuangkan kisah romantisme persahabatan dalam sebuah petualangan fantasi yang teralkutarasi dengan baik dalam pelbagai percampuran latar budaya-budaya dan misteri kuno.

Meskipun sepertinya tidak memberikan kekuatan emosional dan tusukan-tusukan psikologis yang mendalam seperti karya-karya sebelumnya, “Children Who Chase Lost Voices from Deep Below” masih menawarkan jalan cerita yang memikat layaknya sebuah dongeng yang terlahirkan secara orisinal.

Tidak juga melupakan komposisi musik latar yang digarap oleh Tenmon, selalu mampu menghadirkan dentingan piano dan alunan biola yang terkadang begitu menyejukkan hati dan terkadang menggugah emosi, berpadu dengan animasi dua dimensi yang hidup dalam goretan-goretan indah karya Shinkai. Saya sendiri akan memberikan film animasi berdurasi 116 menit ini nilai 8,5/10 karena keapikannya.

Bagian berikut saya akan kisahkan sedikit pengantar jalan ceritanya, bagi yang tidak ingin rasa penasarannya hilang karena terlanjur membaca jalan ceritanya di sini, maka sebaiknya saya sarankan untuk tidak melanjutkan membaca.

Children Who Chase Lost Voices from Deep Below berkisah tentang seorang anak perempuan bernama Asuna yang menjadi pusat cerita. Dia kehilangan ayahnya ketika masih kecil, dan hanya tinggal bersama ibunya yang bekerja sebagai petugas kesehatan. Namun karena kesibukan ibunya yang nyaris jarang bisa berada di rumah, Asuna tumbuh menjadi anak yang mandiri dan bertanggung jawab terhadap semua pekerjaan rumah.

Mengisi waktu luangnya, Asuna memiliki sebuah tempat istimewa di bukit tidak jauh dari desa kecilnya. Sebuah onggokan batu karang besar di sisi bukit dengan ruang kecil di dalamnya untuk menyimpan banyak hal. Di atas batu karang itu, Asuna menghabiskan waktu dengan radio buatan tangan sederhana yang ditanamkan batu kristal – kenangan dari ayahnya. Dia bisa menghabiskan waktu mendengarkan musik dan ditemani sandwich, serta seekor kucing bernama Mimi. Namun di antara semua lagu, ada sebuah musik yang tak sesekali dapat ditangkap oleh radionya, sebuah musik yang tak pernah di dengarnya di manapun kecuali di radionya itu. Melodi yang seakan-akan membuatnya ingin mengunjungi tempat asalnya.

Suatu hari, Asuna dan teman-teman sekelasnya diingatkan bahwa ada kemunculan beruang di sekitar bukit tempatnya sering menyendiri tanpa ada seorang pun yang tahu. Dan tanpa sengaja Asuna berpapasan dengan sosok yang menyerupai beruang itu, namun sama sekali bukan beruang – sesuatu yang tak pernah dijumpainya sebelum itu. Ketika makhluk itu mencoba menyerang, Asuna diselamatkan oleh seorang pemuda misterius, yang kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Shun yang berasal dari Agartha.

Namun yang dia dengar kemudian adalah bahwa Shun telah meninggal, dan dia mengetahui bahwa Agartha adalah sebuah dunia dalam legenda yang terletak di bawah permukaan bumi, di mana gerbang kematian berada. Dan di sinilah petualangan Asuna dimulai, dia tidak ingin percaya bahwa Shun telah tiada, itu membawanya menuju Agartha – dunia asing dengan segenap keindahan dan kekejamannya.

Apa yang sebenarnya dia cari, bagaimana perjalanannya, dan apa yang ia temukan, semuanya terkemas dengan memukau dalam karya Shinkai ini.

Bagi mereka yang menyukai kisah-kisah okultisme kuno, maka mungkin Agartha bukanlah nama yang asing karena disebut juga dalam literatur Nasrani di Barat dan di Timur bisa ditemukan dalam ajaran Buddha Tibet serta di masyarakat Teosofi. Meskipun ada banyak deskripsi tentang Agartha, namun sepertinya literatur memiliki kesepakatan bahwa lokasinya berada di sekitar Himalaya, Tibet – atau setidaknya “gerbang” menuju Agartha terletak di wilayah tersebut. Mungkin ini juga yang membuat Shinkai dalam filmnya menggambarkan Agartha dan penghuninya seperti kota-kota dan masyarakat kuno Tibet.

Tentu saja, Agartha memiliki banyak seluk-beluk yang mistis, namun pengangkatannya menjadi latar kisah dalam film animasi Children Who Chase Lost Voices from Deep Below menjadikannya lahir sebagai sesuatu yang menarik untuk disimak.

Iklan

15 thoughts on “Children Who Chase Star

    1. Wah, kalau ditanya di mana menjualnya, saya juga malah jadi bingung. Soalnya masing-masing wilayah kan tidak sama. Kalau daring ya di Amazon :D. Namun kalau toko daring dalam negeri, saya tidak tahu juga.

      Suka

    1. Ah, saya jarang nonton Mas, paling kebanyakan baca manga, soalnya anime bagus sih jarang ada (apalagi yang ndak ada manganya). Ini saya masih nunggu jatah nonton Sherlock Holmes, malah saya kalah cepat dari Mas Asop :D.

      Suka

      1. Hehehe, saya ini fans novel Sherlock Holmes, jadi filmnya tak boleh ketinggalan. 😀

        Soal anime, kebiasaan buruk saya masih berlangsung. Asal unduh, tonton nanti. :mrgreen:

        Suka

        1. mirip beruang lah yah 😆 … nontonnya pas masa “hibernasi” :mrgreen: … saya juga gitu kok, kecuali film sewaan (yang harus segera ditonton tentunya 😀 ) kalau beli film, buku komik, donlot mangascan, film … di nikmatinya kalau sedang “mood” … 😆

          Suka

  1. mas cahya suka anime juga yah..
    wew, saya fave-nya Inuyasha, saya rasa itu ide ceritanya bagus..
    sayangnya gambarya masih datar dan biasa.. *keluaran lama sih..
    belajar bikin manga lebih asyik ternyata..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s