Menyandi Hati Menyirat Sari

Dulu, pernah kubisikkan padamu, sederetan desah nirlanggam dari kalbuku – sebagaimana jua mereka telah terwariskan padaku oleh para pengelana yang telah lama menyusur cakrawala kata adimakna.

Saya lupa kapan diskusi itu berlangsung, karena saya jarang sekali kembali menulis hal yang sama saat ini. Karena puisi itu menyandikan isi hati dan hanya mengungkapkan sedikit sarinya, maka ia tidak dapat diguratkan jika seseorang tak berhati – heartless. Saya sudah lama lupa jika tidak melihat kutipan dari Paul Dirac pagi ini.

Ya, kali ini mari kita berbicara tentang puisi – kembali. Apalagi mulai banyak yang gemar menulis puisi di halaman web dua arahnya.

Mengapa banyak orang dengan mudah dapat menulis puisi? – Karena bentuknya mudah dan sederhana. Mengapa tidak banyak orang dapat menghasilkan puisi? – (entahlah, mungkin) karena esensinya tidak pernah dipahami.

Di luar sana, seorang guru sedang bertanya pada siswanya – mengapa si murid tidak bisa membuat sebuah puisi, padahal sang guru telah menulis beberapa contoh di depan. Murid hanya menjawab polos, “saya tidak mengerti semua yang ditulis di papan.” Guru pun bertambah heran, bagaimana bisa murid tidak paham contoh puisi yang ia ambilkan dari buku pelajaran wajib.

Demikian sekilas sebuah gambaran tentang pembelajaran puisi saat ini, dan tentu saja tidak bisa dikatakan sebagai sebuah gambaran umum – ah, anggap saja sebuah contoh.

Seorang guru bisa menjelaskan tentang puisi, bisa mencontohkan puisi-puisi karya sastrawan termasyhur, bisa meminta anak didiknya meniru membuat puisi – namun belum tentu dapat membuat si anak paham tentang puisi. Dalam contoh di atas, si anak tidak salah jika dia bilang tidak paham, sang guru juga jelas tidak keliru mencontohkan puisi, dan tentu saja puisinya pastilah tidak salah apalagi keliru.

Terdapat pemaknaan yang berbeda antara teori “bersepeda” dengan “bersepeda” yang sesungguhnya, saya kira demikian juga puisi.

Saya yakin saat bersekolah para murid pasti mendapatkan teori tentang puisi, dan mungkin beberapa sempat beruntung mengalami sendiri “bersepeda” puisi di depan kelasnya. Tapi sayangnya, mungkin karena sistem (jika mesti ada yang dikambinghitamkan), para murid sekolah melirik kisi-kisi ujian tentang puisi, jadi yang dia lihat ya mungkin saja sejarah puisi nasional, judul puisi terkenal dan pujangga termasyhur penulisnya – dan siapa tahu mungkin besok kisi-kisi akan membisikkannya tentang puisi yang dibuat oleh pejabat negara, yah – semua mungkin saat ini.

Dan, setelah semua itu berlalu, puisi tinggallah kenangan.

Paling jika pun masih ada yang diingat, adalah bentuk khas puisi – karena pada saat ujian dulu jangan sampai tidak bisa membedakan yang mana puisi dan yang mana pantun, meski dua-duanya sama suka bersyair. Saya sendiri tidak ingat bagaimana membedakan bentuk puisi, seperti misalnya yang mana soneta atau yang mana vilanella. Yang mana menggunakan linea, yang mana menggunakan stanza, atau yang mana akhirnya berbentuk kantos.

Apalagi saat ini banyak orang (muda) lebih suka menulis puisi dengan bentuk bebas, tidak menganut lagi gaya lama – entah karena ingin yang baru atau (karena memang) tidak tahu kaidah lama seperti apa. Yang penting pada akhirnya berbunyi seperti puisi – eh…, “berbunyi”? Dan kembali lagi, apa boleh buat, karena tidak semua yang suka menulis puisi memahami prosodi, sehingga meter, rima dan intonasi-pun menjadi di luar biasa yang terbiasakan. Belum lagi alirannya, kadang tidak jelas ikut serta ke mana antara elegi, lirika, dan naratif sama-sama di atas bidang abu-abu. Saya sendiri dengan gaya prose poetry sering abu-abu, jadi ya sama saja.

Lalu, bisakah yang seperti itu yang bahkan tidak menilik prosodi, format ataupun aliran sebuah puisi – menjadi puisi? Bagaimana ya, bisa ya bisa tidak.

Karena prosodi, format dan aliran/gaya hanya ada di dalam teori puisi, namun bukan sesuatu yang melahirkan puisi.

Dalam ilmu pengetahuan, seseorang berupaya memberi tahu orang lain, dengan cara yang sedemikian rupa dipahami oleh setiap orang – sesuatu yang tak seorang pun pernah ketahui sebelumnya. Namun dalam puisi, tepat kebalikannya.

Inilah kutipan Dilac yang saya temukan pagi ini. Anda berjalan pada sebuah pagi dan duduk di pinggiran pohon rindang dengan hamparan sungai jernih di hadapan Anda. Apa yang Anda lihat, apa yang Anda rasakan – semuanya ditumpahkan, namun bukan untuk mengabari atau memberitahukan, bukan untuk memberikan pandangan atau membuat orang lain memahami yang tertuang.

Sisanya, jika kalimat pendek itu dapat menggantikan esensi pemahaman yang hilang, maka serahkan pada hati anda untuk meliukkan kata-katanya.

Iklan

4 tanggapan untuk “Menyandi Hati Menyirat Sari

  1. wah, puisi. berbicara tentang puisi. saya tidak mudah mendapatkan feel dari puisi ketika sekali membacanya. puisi lebih terasa bila diperdengarkan, hehe

    Suka

  2. Puisi ya…gaya kayak apa ya kalau deretan kalimat yang sering aku definisikan ‘puisi’? Gak tau, aku gak pernah mikirin gaya, rima, jenisnya…ya cuma sekedar nulis 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s