Menulis dan Melupakan

Memiliki banyak blog, atau melakukan pembaruan konten cukup cepat? Mengapa tidak, memiliki banyak rumah tidak dilarang kan, selama kita merawatnya kalau memang mau, termasuk dengan cara melakukan pembaharuan konten – sekaligus menghindari rumah dijadikan sarang penyamun karena lama ditinggalkan (baca: diretas).

Namun, bisakah kita mendapatkan topik yang tanpa henti untuk dijadikan bahan tulisan tanpa melakukan plagiasi? Saya rasa, selama bumi berputar, Anda tidak akan kehabisan topik, dan sebuah opini bisa menjadi keaslian tulisan pada blog.

Pun demikian, jangan paksakan diri anda untuk menulis terlalu banyak, tidak ada yang terlalu banyak itu bagus selamanya. Atau jangan melakukan tindakan putus asa untuk mengisi blog anda yang lebih dari satu. Misalnya Ada punya tulisan A, kemudian dimuat di beberapa blog sekaligus dengan sama persis (salin-tempel), meski semua blog itu adalah milik anda, namun tetap “keunikan” adalah etika tidak tertulis dalam mengembangkan sebuah blog – sedemikian hingga menerbitkan tulisan yang sama persis pada beberapa blog sekaligus adalah hal yang tabu (namun tidak terlarang tentu saja).

Menulislah sejauh tangan dapat menjangkau.

Ya, tulisan merupakan karya anda yang melibatkan kemampuan berpikir dan menulis, namun tetap batasannya adalah jangkauan tangan anda. Batas pikiran mungkin bisa melampui batasan tangan anda, namun ada kalanya orang mesti mengalah pada batasan terendahnya.

Saya sendiri memiliki karakter yang mungkin tidak umum dimiliki orang yang suka menulis. Saya adalah tipe orang yang pelupa, jadi apa yang saya tulis beberapa waktu yang lalu, saya dapat melupakannya dengan cepat – dalam artian, bahkan saya tidak ingat pernah menulis itu, ataupun jika saya ingat menulis judul tersebut, saya sudah lupa isinya.

Sehingga kadang, saya sendiri membiarkan tulisan lawas saya mendapatkan tanggapan kontra yang keras (selama tidak melanggar etika berdiskusi) tanpa saya tanggapi kembali. Saya berpikir, ah, biar saja demikian, siapa tahu dia memang benar dan biarkan dia menyampaikan pendapatnya ~ toh saya sudah menyampaikan pandangan saya juga. Dibandingkan memperdebatkan benar dan salah, hitam dan putih, saya lebih suka mengungkap seimbang dan selaras.

Banyak penulis biasanya menggunakan tulisan lawasnya untuk menjadi pijakan, lompatan atau kekuatan untuk menghasilkan tulisan yang baru. Tulisan lama menjadi sebuah pondasi. Saya sendiri yang bahkan tidak ingat apa tulisan lama saya, sering kali menemukan “kotak imaginasi” saya kosong melompong, sehingga seperti anak kecil dengan pensil atau krayon di tangan yang menemukan tembok putih bersih nan luas, maka saya akan mencorat-coret semuanya sesuai dengan gairah saya.

Begitu tembok itu penuh dengan coretan, seperti anak kecil, saya akan meninggalkannya dan menemukan tembok putih bersih lainnya. Ungkapan penulisan saya seakan-akan berasal dari sebuah tanah yang selalu kosong, sebuah ranah di mana pemahaman tentang apapun belum tumbuh dan menjalar, sehingga ide-ide baru selalu dapat ditanam di atasnya.

Jadi jika saya ditanyakan, di mana menemukan istilah-istilah yang sering “nyleneh”, “aneh” atau “tidak wajar”, mungkin saya memungutnya di salah satu hamparan kosong itu atau menciptakannya secara tak sengaja.

Saya memang pelupa, saya tidak menolak hal itu, sehingga sering kali saya membaca dan kemudian lupa, saya menulis dan kemudian lupa apa yang saya tulis. Buku akan selalu ada untuk dibaca, dan kertas putih selalu tersedia untuk menulis. Jika buku habis, dan jika kertas tidak lagi tersedia, bacalah hatimu dan tulislah hidupmu ~ karena kehidupan adalah tentang membaca dan menulis.

 

Iklan

9 tanggapan untuk “Menulis dan Melupakan

  1. Saya berterima kasih pada Tuhan karena diberikan sifat pelupa (bahkan untuk ingatan jangka pendek). Kalau saya bisa mengingat semua hal, mungkin wajah saya akan tampak 30 tahun lebih tua :))

    Dalam menulis dan membaca, saya masih sesuka hati.. Jika harus menyelesaikan banyak buku, mungkin blog harus rela dibiarkan dihuni laba-laba. Tapi pasti saya akan kembali, seperti saat ini.. meski tak jarang penyakit lupa (lupa posting, lupa blogwalking dan lupa menanggapi) mendadak kambuh :”>

    Suka

  2. Saya mungkin sangat berbeda dengan mas Cahya. Saya masih ingat sebagian besar topik/tulisan yang pernah saya publikasikan di dunia maya ini. Termasuk tulisan-tulisan yang pernah saya publikasikan beberapa tahun silam di sebuah situs komunitas konsumen (sebelum saya terjun ke ranah blog). Tapi itu tidak membuat saya tidak bisa bebas dalam berkreasi membuat tulisan baru.

    Menurut saya, menjadikan tulisan lama sebagai pijakan/pondasi itu bagus. Kita tidak perlu mengulangi atau membuang waktu untuk mengulang-ngulang hal yang sama persis, sehingga cukup menambahkan opini/informasi baru pada tulisan baru. Dan ini bagi saya juga tidak menghambat aliran ide yang seharusnya keluar secara alami.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s