Kutilang oh Kutilang

Beberapa bulan yang lalu, ada yang membawa dua ekor bayi kutilang malang yang masih berada di sarang mereka. Singkat kata, karena mendapatkan suplai makanan yang berkecukupan, mereka pun tumbuh sehat dan gemuk – terutama saya suka suaranya yang merdu.

Namun tentu saja mereka masih tetap bagian dari kehidupan liar di luar sana. Saat sayap mereka telah cukup kuat, mereka dapat kembali ke alam mereka dan terbang dengan bebas. Saya rasa, tidak ada yang lebih menyenangkan daripada melihat para kutilang terbang dan berceloteh bebas di alam liar.Nah, meskipun dilepas, mereka suka sekali berkeliaran di sekitar rumah, setidaknya satu ekor masih tampak belum berencana meninggalkan rumah. Lumayan bagus sih, karena kutilang bisa membantu membersihkan hama di sekitar rumah, seperti membersihkan daun-daun di kebun dari serangan ulat dan belalang – mengingat kami masih di tinggal di pertengahan sawah.

Mereka gemar makan buah, yah setidaknya dengan sedikit jambu dan mungkin mangga mereka akan betah menghabiskan waktunya di antara buah-buahan itu.

Kutilang dan JambuKutilang dan Wani

Sayangnya, mereka tidak terlalu suka buah seperti itu. Nah, pasti karena dari kecil dimanjakan dengan diberi pisang melulu.

Saya tidak tega melihatnya demikian. Jadi saya pun pergi ke pasar untuk membeli pisang. Tidak usah diceritakan, karena saya sempat jatuh tergelincir di tangga yang licin sehabis hujan.

Ah, tapi saya dapatkan pisangnya, meski bukan pisang batu yang disukanya. Tinggal bersiul saja, dia akan datang setelah melihat pisang terkupas di tangan saya.

Kutilang dan Pisang

Memang sih, dia malu-lalu, entah kenapa, kutilang tidak suka ditunggui ketika sedang makan. Jadi tinggalkan saja.

Kutilang dan Pisang

Dia memang suka pisang, padahal saya pikir dulu hanya bangsa primata yang gemar pisang. Di salah satu kakinya kami pasang, penanda, siapa tahu saat berjumpa kembali ketika ia sudah meninggalkan rumah dan kembali pada habitatnya, itu semua akan membawa kenangan yang indah.

Seperti burung decu yang lalu, kandangnya selalu kami buka saat dia ada di luar, ingin kembali untuk berteduh silakan, ingin kembali ke habitatnya dan bertemu kutilang yang lain akan lebih baik lagi.

Kandang

Pintu selalu terbuka jika kutilang pulang dari berlibur.

Karena tempat mereka memang di alam bebas, selayaknyalah mereka ada di alam bebas. Kita – manusia – hanyalah bagian kecil dari semesta yang luas, tidak memiliki hak apapun untuk mengganggu keseimbangannya. Kita bisa membantu menyediakan tempat bernaung sementara, namun bukan penjara kehidupan.

Kehidupan tanpa kebebasan, bukanlah sebuah kehidupan.

Iklan

5 Comments

  1. Ya ndak sejinak itu Pak. Kalau cuma mendekat sih masih mau Pak. Kalau nanti terlalu dekat dengan manusia, malah saya khawatir dia mudah dijerat pemburu nantinya.
    Kalau untuk Disqus bisa ditayangkan pada tablet dan smartphone yang perambannya berbasis WebKit teorinya, jadi bisa pada iOS, Android dan produk BlackBerry terbaru. Kalau selain itu saya kurang tahu.

    Suka

    Balas

  2. di pekarangan rumah saya ada banyak berkicau burung kutilang liar, ada burung truwok, burung pipit, trotokan, dan lain-lain. secara lingkungan saya masih sangat desa. suatu kali pernah saya marah marah dengan penembak burung yang entah berasal dari mana. saya tidak ingin habitat burung di lingkungan saya terganggu 🙂

    Suka

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.