Ramayana Dalam Sentuhan Modern

Ramayana adalah epos yang begitu tua, jauh lebih tua daripada Mahabharata, dalam ribuan tahun usianya dan penyebarannya dalam kerajaan-kerajaan tempo dulu di seluruh dunia, kita memiliki banyak versi kisah Ramayana yang beragam, termasuk di nusantara dalam Kekawin Ramayana. Demikian juga telah diangkat dan menjadi inspirasi banyak karya seni di seluruh dunia. Di nusantara misalnya menjadi relief Candi Prambanan, sendratari Ramayana, atau bahkan tari Kecak di Bali.

Saya tidak tahu saat ini, namun saat saya kecil dan masa-masa sebelum itu, Ramayana sudah menjadi bagian dari tradisi bercerita orang tua, seperti kakek dan nenek kepada cucu-cucunya. Dan di luar menjadi sebuah ekspresi seni yang mengalirkan nilai filosofis di dalamnya.

Di balik kerangkanya sebagai sebuah epos, bagi masyarakat Hindu di seluruh dunia, Ramayana adalah bagian dari kehidupan religius, bagian dari pendidikan rohani tentang kehidupan, kemanusiaan dan keilahian.

Hanuman and siren-Paris
Apsaras and Reamker (Ramayana in khmer) legends following each other on the stage. A photograph by "kinginexile"

Ramayana telah menjadi bagian dari ithiasa, bagian dari Weda Smrti, salah satu pedoman hukum suci tertua masyarakat Hindu.

Saat ini ada sejumlah besar adaptasi modern kisah Ramayana ke dalam pelbagai ranah kehidupan. Misalnya dalam bidang seni, ada banyak bangunan menggunakan ornamen yang terinspirasi dari kisah ini, demikian juga kerajinan tangan. Dan tentu saja dunia hiburan juga, seperti sebuah drama seri “Rama Shinta” yang baru tayang di salah satu stasiun televisi swasta, Sandra Dewi dalam tulisannya berharap agar drama seri ini dapat menjadi sebuah pengangkatan budaya lokal kembali ke permukaan.

Pun demikian, tidak jarang juga justru sebuah adaptasi menimbulkan konflik horizontal. Contohnya saja sebuah topik “Sinta Obong” yang diangkat ke pentas seni dan membuat protes besar, terutama dari kaum intelektual muda Hindu saat itu. Saya sendiri tidak ikut protes, karena tidak tahu menahu duduk perkara aslinya seperti apa, lagi pula saya bukanlah kaum intelektual.

Namun masalahnya saya kira, kadang ada adaptasi (dalam bentuk komersial ataupun kampanye) kisah Ramayana, yang mungkin kurang mencermati nilai filosofis di dalamnya, kurang membalik lagi makna di balik sebuah kisah.

Seperti misalnya dalam topik panas “Sinta Obong”, saya rasa masih menyangkut “agni pariksha“, pemeriksaan oleh api dewa Agni. Mengambil latar setelah dikalahkannya Rahwana dan kembalinya Sita pada Rama, potongan kisah ini terjadi.

Dalam setiap kisah awatara – turunnya Tuhan ke dunia, akan selalu ada lila, the divine game, permainan Ilahi. Permainan yang menggerakkan roda dharma dalam cara paling misterius yang bahkan konon para dewata pun tidak dapat serta merta memahaminya.

Para suci dan ksatria agung di zamannya mengenal bahwa Rama adalah inkarnasi Wisnu – Sang Ilahi, dan Sita adalah perwujudan Laksmi – Ibu seluruh semesta alam.

Rahwana sendiri mungkin tahu saat menculik Sita bahwa Dia adalah Ibu seluruh alam semesta, seorang maharaja agung dari Kota Lanka dan penerima anugerah Siwa tak mungkin tak menyadari hal ini, namun kadang wujud dapat membutakan dibandingkan menyadarkan. Seperti misalnya saya bertemu Anda yang seorang guru sedang membajak sawah Anda, meski saya tahu Anda seorang guru, namun saya akan melihat Anda sebagai seorang petani.

Ya, dunia adalah ilusi, dan lila adalah permainan ilusi sang Ilahi. Penghuni dunia mudah terjebak dalam ilusi, dan bagi mereka yang terjebak dan larut dalam ilusi, maka ilusi pula yang akan menghancurkannya.

Tentu saja setelah menculik Sita, Rahwana menyadari bahwa dirinya tidak dapat memiliki Sita. Tidak juga dia dapat menyentuh sang dewi, karena jika Rahwana berusaha menyentuh Sita, maka api Agni akan seketika menghanguskannya.

Satu-satu jalan Rahwana adalah mendapatkan hati Sita. Ia menawarkan harta pada sang dewi, beserta dengan kekuasaan yang mampu mencengkeram swargaloka tempat para dewata bernaung. Bagaimana tidak, Rahwana adalah maharaja agung, dia mendapatkan anugerah Brahma dengan madu kehidupan, dan anugerah sedemikian hingga ia tidak bisa ditaklukan oleh para dewata, roh agung, para naga atau hewan agung lainnya, apalagi manusia. Setelah menyerang/invasi surga, bumi dan alam bawah, Rahwana menjadi penguasa tiga dunia, dewata, roh-roh dan para naga takut padanya. Dia adalah Raja Lanka, sebuah kota terindah di dunia dari istana milik Kubera – sang dewa kekayaan material.

Dari semua persepsi, maka Rahwana bisa dikatakan raja di raja. Namun tentu saja Sita tidak tertarik, dibalik senyum kesetiaan-Nya pada Rama, apalah arti kekuasaan duniawi, ketika seluruh semesta adalah milik-Nya. Rahwana yang telah lama menjadi buta dan haus kekuasaan karena anugerah kesaktian dari Brahma dan Siwa, ia telah lama lupa bahwa kasih Ilahi tidak bisa didapatkan melalui suap, hanya insani korup saja yang bisa ditaklukan melalui suap.

Rahwana bersesumbar pada Sita bahwa tidak ada gunanya menunggu Rama, karena pasti sang pertapa akan segera lenyap dari dunia. Namun tentu saja sang dewi tahu, bagaimana bisa sosok yang larut dalam kegelapan dapat menghilangkan cahaya yang agung, bahkan sebelum mendekat pun mungkin kegelapan itu akan lenyap dengan sendiri.

Rama dan Sita menjalankan sebuah permainan Ilahi, yang bahkan dapat mengelabui mata Brahmana paling bijak sekali pun. Jika saja Rahwana tidak menculik Sita, maka ia mungkin tidak menemui hari akhirnya, karena anugerah Brahma yang nyaris memberikannya keabadian. Namun ia menculik Sita, dan diperjalanan dia dihadang oleh Jatayu – keponakan Garuda (tunggangan Sri Wisnu); tentu saja Jatayu tak akan membiarkan menantu sahabat lamanya Dhestara diculik oleh raja raksasa, dan pertempuran pun terjadi. pertempurannya dengan Jatayu membuat Rahwana menggunakan Candrahasa, senjata sakti pemberian Siwa. Rahwana mungkin lupa, bahwa saat Siwa memberikannya Candrahasa, maka jika senjata itu digunakan untuk sesuatu yang melanggar Dharma, senjata itu akan kembali pada mata ketiga Siwa, dan perhitungan hari kiamat bagi Rahwana akan dimulai.

Rahwana pun menemukan hari akhirnya di tangan Rama, maka tugas Ilahi melindungi semesta pun terpenuhi. Dan Sita pun kembali ke sisi Rama.

Pun demikian, sebagai seorang raja, Rama mengambil peran “kejam” untuk menunjukkan bahwa permaisuri yang akan menyandinginya adalah Ratu yang layak, seorang Ratu yang masih suci.

Ia pun meminta Laksmana – sang adik, untuk melaksanakan Agni Pariksha, di mana Sita berjalan melalui api dewa Agni untuk membuktikan kesuciannya. Tentu saja baik Rama dan Sita tahu bahwa tidak terjadi apapun di Lanka, namun peran ini harus diambil untuk memuaskan masyarakat awam yang tak mengerti nan tak berdosa untuk dipaksa mengerti. Agni Pariksha juga menjadi simbol bahwa Agni – sang dewa api, telah menunaikan tugasnya menjaga perwujudan sang dewi selama di Lanka.

Pun setelah agni pariksha masih saja ada masyarakat yang tidak percaya, dan hal itu masih berlanjut di dunia modern saat, seperti yang muncul dalam topik hangat Sinta Obong.

Inilah yang kadang memunculkan kekhawatiran mengenai adaptasi kisah Ramayana di era modern. Bahwa filosofi di dalamnya akan luntur dan menjadi hilang tergantikan oleh unsur hiburan semata, karena tidak jarang banyak kisah menjadi lebih mementingkan bisnis dibandingkan moralitas.

Para pendahulu kita di nusantara cukup bijak menyadari kemungkinan ini. Adaptasi ke kesenian lokal seperti pewayangan menyertakan para punakawan yang tidak ada dalam kisah asalnya. Punawakan bisa dikatakan sebuah resolusi cerdas nan arif, sebagai pembawa pesan sekaligus penghibur yang jenaka, dan tetap membawa pondasi filosofis dan karakter tokoh-tokoh utama secara proporsional.

Sebagai contoh misalnya, Hanuman bisa diadaptasi ke dalam bentuk seni ukiran, lukisan dan banyak lagi, namun tentu saja tidak etis dan proporsional menjadikan Hanoman sebagai bahan banyolan.

Di India, Hanuman dipuja sebagai dewa. Di nusantara sendiri, Hanuman menjadi simbol religius akan kesetiaan tanpa syarat terhadap nilai-nilai kebenaran bagi masyakarat Hindu. Para pengikut aliran Siwa mempercayai Hanuman sebagai reinkarnasi Siwa – sang Ilahi yang kesebelas. Jadi membuat Hanuman sebagai banyolan berpotensi menyebabkan gesekan horizontal di masyarakat majemuk kita, sebagaimana membuat karikatur konyol para nabi di agama lain.

Ramayana Monkey Chant
Kecak, a form of Balinese music drama, originated in the 1930's and is performed primarily by men. Also known as the Ramayana Monkey Chant, the piece, performed by a circle of 100 or more performers wearing checked cloth around their waists, percussively chanting "cak" and throwing up their arms, depicts a battle from the Ramayana where the monkey-like Vanara helped Prince Rama fight the evil King Ravana. However, Kecak has roots in sanghyang, a trance-inducing exorcism dance. A photograph by Istvan Kadar.

Kisah Ramayana adalah milik seluruh masyarakat dunia, tidak ada paten atasnya. Tidak ada larangan mengadaptasinya ke dalam bentuk sebuah seni, baik seni peran, seni lukis, seni suara, dan sebagainya. Pun demikian, tidak bermakna bahwa kita dapat sesuka hati kita. Adaptasi harusnya cerdas, dan memperkaya, bukan melunturkan apalagi menghilangkan makna yang sesungguhnya.

Panakawan atau punakawan adalah salah satu bentuk cerdas kearifan lokal dalam mengadaptasi kisah Ramayana dan juga Mahabharata. Dan saya berharap, dalam sebuah sentuhan modern, warisan budaya kita bukannya kehilangan makna apalagi menimbulkan konflik horizontal, namun memperkaya khazanah kebhinekaan kita dan memperkenalkan kembali kearifan lokal yang mungkin terlupakan.

Iklan

2 tanggapan untuk “Ramayana Dalam Sentuhan Modern

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s