Peraturan Pemerintah tentang ASI Eksklusif

Saya baru saja membaca salah satu peraturan pemerintah terbaru, yaitu Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 33 tahun 2012 tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif yang ditujukan untuk melindungi hak dan kewajiban seorang ibu untuk memberikan ASI Ekslusif pada bayinya. Saya rasa kehadiran peraturan ini sangat baik sebagai payung hukum bagi ibu dan bayi di negara kita.

Saya akan berusaha memetik beberapa bagian yang ada di dalamnya sebagai gambaran umum tentang apa yang ada di dalam peraturan, dan bagaimana dapat digunakan dalam masyarakat kita. Saya bukan ahli hukum, jika ada kekeliruan dalam menejermahkan makna peraturan ini, silakan mengingatkan saya kembali.

Sebagaimana yang kita semua tahu, ASI (Air Susu Ibu) disarankan – bahkan dalam peraturan ini diwajibkan (Pasal 6) – diberikan oleh ibu kepada bayinya secara eksklusif, dalam makna selama enam bulan tanpa menambahkan dan/atau mengganti dengan makanan dan minuman lainnya (Pasal 1).

ASI diberikan secara eksklusif karena sudah memenuhi semua nutrisi yang diperlukan oleh si buah hati selama enam bulan masa awal kehidupannya. Dan pencernaan si kecil belum cukup baik untuk dapat beradaptasi dengan makanan lain selain ASI.

Ada sejumlah tujuan yang ingin dicapai melalui peraturan ini di antaranya adalah (Pasal 3):

  • menjamin pemenuhan hak Bayi untuk mendapatkan ASI Eksklusif sejak dilahirkan sampai dengan berusia 6 (enam) bulan dengan memperhatikan pertumbuhan dan perkembangannya;
  • memberikan perlindungan kepada ibu dalam memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya; dan
  • meningkatkan peran dan dukungan Keluarga, masyarakat, Pemerintah Daerah, dan Pemerintah terhadap pemberian ASI Eksklusif.

Meskipun sifatnya wajib memberikan ASI dari ibu kepada bayinya, hal tersebut bisa tidak dimungkinkan jika ada indikasi medis, ibu bayi tidak ada atau terpisah dari bayi sehingga bayi tidak dapat mendapatkan ASI dari ibunya (Pasal 7).

Yang saya temukan cukup bermakna di peraturan ini adalah adanya ketentuan yang mengatur inisiasi menyusu dini (Pasal 9) yang harus dilaksanakan dan dibantu oleh petugas kesehatan dan penyelenggara fasilitas pelayanan kesehatan dalam sebuah ruang rawat bersama ibu dan bayi (Pasal 10).

Hal ini bermakna bahwa jika Anda melahirkan di sebuah klinik atau rumah bersalin, petugas di sana wajib membantu Anda menyusukan bayi Anda yang baru lahir secara langsung dalam ruang bersama (tidak melalui perantara dot) setidaknya minimal selama 1 jam.

Selama Anda tidak memiliki indikasi medis yang membuat Anda tidak dapat menyusui, maka inisiasi menyusu dini adalah keharusan. Dan seandainya Anda tidak dapat menyusui, maka ASI eksklusif bisa diberikan oleh seorang pendonor asli (Pasal 11) yang bisa berasal dari keluarga atau lainnya – sesuai dengan ketentuan dan kesepakatan bersama, namun tidak dengan dasar memperjualbelikan ASI.

Namun kadang ada kasus bahwa ibu tidak dapat menyusu lalu ditawarkan pemberian susu formula dan/atau produk bayi lainnya, maka ibu harus menolaknya (Pasal 12). ASI tetaplah pilihan yang baik, karena tidak jarang kita temukan upaya komersialisasi produk susu formula yang mengambil kesempatan saat si ibu tidak dapat menyusui. Seandainya si ibu meninggal dunia, maka keluarga lain bisa menolak upaya pemberian susu formula ini.

Ibu dan anggota keluarga yang mempersiapkan kehadiran si kecil hingga saat menyusu, berhak mendapatkan informasi dan pendidikan mengenai ASI eksklusif, dan ini merupakan kewajiban bagi tenaga kesehatan dan penyelenggara fasilitas kesehatan (Pasal 13).

Dan seandainya petugas kesehatan dan penyelenggara fasilitas kesehatan tidak melaksanakan ketentuan di atas, bisa dikenakan sanksi administratif  oleh pejabat yang berwenang (Pasal 14).

Lalu sebenarnya, apakah susu formula tidak dapat diberikan? Ada beberapa kasus di mana susu formula dapat diberikan, misalnya pada kondisi di mana bayi tidak dapat menerima ASI dari ibu atau pendonor ASI (Pasal 15) dan ibu/keluarga telah mendapatkan penjelasan yang lengkap tentang penggunaan dan penyajian susu formula (Pasal 16)

Nah, susu formula dilarang diberikan jika menghambat program ASI ekslusif, dan baik petugas kesehatan dan penyelenggara layanan kesehatan dilarang menerima dan/atau mempromosikan Susu Formula Bayi dan/atau produk bayi lainnya yang dapat menghambat program pemberian ASI Eksklusif (Pasal 17 dan 18), kecuali terjadi sebuah kondisi darurat/bencana di mana pemberian susu formula adalah satu-satunya alternatif terbaik dan inipun setelah mendapat persetujuan kepala dinas kesehatan setempat. Hal ini juga bermakna, penyelenggaran fasilitas pelayanan kesehatan dilarang menyediakan pelayanan di bidang kesehatan atas biaya yang disediakan oleh produsen atau distributor susu formula bayi dan/atau produk bayi lainnya.

Ketentuan tersebut juga ditegaskan dengan dilarangnya produsen atau distributor susu formula bayi dan/atau produk bayi lainnya melakukan kegiatan yang dapat menghambat program pemberian ASI eksklusif, misalnya dengan promosi contoh produk cuma-cuma ke klinik, rumah sakit, puskesmas, praktek dokter atau ke rumah-rumah penduduk, termasuk promosi melalui media cetak, elektronik dan media massa lainnya termasuk di luar ruangan (Pasal 19).

Masih ada sejumlah peraturan lainnya yang mungkin terlalu panjang jika saya ulas di sini. Termasuk ketentuan yang mengatur tempat kerja dan fasilitas umum juga wajib mendukung program ASI ekslusif (Pasal 30). Jadi bisa diartikan bahwa di terminal bus yang sesak dan padatpun selayaknya ada sebuah ruangan di mana para ibu dapat menyusu bayinya untuk memberikan ASI eksklusif.

Termasuk di tempat kerja juga demikian, seperti disebutkan, pengurus tempat kerja wajib memberikan kesempatan kepada ibu yang bekerja untuk memberikan ASI Eksklusif kepada Bayi atau memerah ASI selama waktu kerja di Tempat Kerja (Pasal 34).

Anda bisa mendapatkan salinan peraturan pemerintah ini dalam berkas elektronik langsung dengan mengunduh di situs resmi Departemen Kesehatan RI atau salinannya yang saya tempatkan di pranala PP no 33 tahun 2012 tentang ASI Eksklusif. ASI adalah anugerah terbaik untuk bayi, jadi selayaknya kita mendukung dan melindungi upaya pemberian ASI eksklusif oleh ibu kepada bayinya.

Iklan

7 Comments

    1. Sebaiknya ASI eksklusif hanya 6 bulan saja. Dan setelah itu ASI dapat diberikan hingga usia 2 tahun, namun tidak secara eksklusif, dalam artian secara bertahap diberikan makanan pendamping ASI mulai usia 7 bulan.

      Suka

      Balas

    1. Kalau tentang itu saya rasa sangatlah subjektif pada masing-masing individu Pak Aldy. Peraturan ini lebih pada upaya perlindungan bagi Ibu agar dapat memberikan ASI pada bayinya jika ada situasi atau kondisi sosial yang mungkin dapat menghambat upaya tersebut.

      Suka

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.