Plumeria

Di tempat saya, genus plumeria dikenal dengan nama pohon kembang jepun, banyak digunakan sebagai hiasan pekarangan rumah, dan karena juga cukup sering digunakan sebagai bunga bagian dari persembahyangan, maka hampir selalu bisa ditemukan di tempat-tempat suci masyarakat Hindu. Di tempat lain si kembang kemboja ini (banyak orang sering terpleset mengatakan bunga kamboja) biasanya hanya ditanam di areal pemakaman karena kesan angkernya (mungkin).

Saya menyukai berbagai jenis plumeria, terutama yang menghasilkan warna putih cemerlang, apalagi aroma harum yang dihasilkan – bisa menjadi alternartif aroma terapi modern tersendiri. Apalagi plumeria cukup mudah tumbuh di iklim kita, kadang hanya ditancapkan pada lingkungan yang tepat, maka batangnya tumbuh dengan sendirinya.

Tidak jarang kembang jepun tumbuh menjadi cukup besar dan rindang, dan batangnya bisa dijadikan sebagai tempat tanaman hias lainnya, bermacam anggrek misalnya. Hampir semua anggrek yang kami miliki di rumah, menumpang “hinggap” pada tanaman ini. Sebuah contoh pohon kemboja tua dengan banyak anggrek liar pernah saya publikasikan di sini, hanya saja karena ketamakan oknum tertentu, pohon itu sudah patah.

Jepun AnggrekKami memiliki sejumlah plumeria di rumah, dari yang kecil dan agak besar. Pohon yang tua, dan berusia puluhan atau ratusan tahun sering dibeli dengan harga mencapai ratusan juta rupiah, digunakan untuk menghiasi hotel, vila, restoran yang baru dibangun atau dibenahi di Bali. Karena plumeria sendiri sudah menjadi semacam kembang ikonal di Pulau Dewata.

Saya menemukan bahwa plumeria sangat sulit berbuah dengan sendiri, dalam setahun atau dua tahun, mungkin hanya ada satu buah di satu pohon. Saya bahkan bisa menduga, tidak banyak yang tahu bagaimana bentuk buah dari pohon kemboja yang menyerupai bumerang tersebut. Sehingga tidak heran jika pohon kemboja selalu “rajin” berbunga, sehingga pemiliknya juga harus rajin menyapu kembang yang berserakan setiap harinya – apalagi jika pohonnya cukup besar.

Namun kembangnya tidak berarti tidak bernilai ekonomis. Bunga plumeria yang kering banyak dicari produsen dupa, hio atau aroma terapi asap. Sekitar satu kilogram kembang kemboja kering dihargai Rp 20.000,00 – tergantung mungkin produsen yang memesan. Di rumah, kami sendiri menjadikannya kompos, jadi tidak perlu bingung masalah pupuk lagi.

Iklan

11 thoughts on “Plumeria

        1. Kalo dikasih nama Plumeria, ntar panggilannya Plum! Hahha…cukuplah kakakku aja yang ngasih semua nama anaknya dari bunga-bunga-an 😀

          Suka

    1. Lho kok malah merinding Pak. Saya malah suka aromanya :). Apa mungkin karena memang stigma di luar bahwa tempat dengan pohon kemboja itu angker ya.

      Suka

    1. Kalau menurut KBBI versi lawas, disebut Kembang Kemboja, sedangkan Kamboja merujuk pada salah satu negara tetangga kita 🙂 – tapi memang banyak sih yang melafalkannya sebagai Bunga Kamboja, termasuk saya juga ;).

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s