Sang Jalan

Aku teringat dalam seluk beluk kekusyukan masa lalu, ketika lembar-lembar tua kubuka dan terngiang banyak kata yang diwariskan – bahwasanya semua lembar-lembar itu adalah kesucian yang begitu terutama – sang jalan. Lama berselang, bintang-bintang silih berganti terbit dan terbenam. Seluruh lembar itu telah kututup, sebagaimana tirai akhir di penghujung pertunjukkan sebuah drama.

Sebagai akhir dalam sebuah pejaman mata yang singkat. Ketika kubuka seluruh semestaku, maka di sanalah sang jalan, bukan apa yang kukenal dari lembaran-lembaran tua berdebu – ia sungguh berbeda, penuh dengan gairah, penuh dengan gerak namun menenggelamkan dalam keheningan yang misterius.

Dalam tarian angin senja, ialah sang jalan. Dalam mentari yang meredup, ialah sang jalan. Dalam kepakan sayap yang membelah angkasa, di sanalah sang jalan. Pada rumpun bambu yang menyeruakan cakrawala, di sana juga sang jalan.

Tawa kecil anak-anak yang menaikan layangan, tangis bayi yang kedinginan, adalah lantunan sang jalan. Kemarahan di tengah kericuhan adalah gita sang jalan.

inner peace..
Inner Peace - A Photograph by Prasanth Naik

Ketika aku menemukanmu, aku juga menemukan sang jalan. Ketika aku membukakan pintu, aku melihat sang jalan. Ketika aku membasuh wajah, aku menatap sang jalan.

Sejauh pandangan, setiap lirikan, dan seluruh tatapan, semuanya adalah sang jalan. Namun hanya ketika aku telah tiada, sang jalan adalah sunyata yang terutama.

 

Selamat Hari Tri Suci Waisak 2556.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s