Please! Mr. Bear!

Belakangan ini gairah saya agak menurun mengikuti sejumlah perkembangan yang biasanya saya antusias, meski menghabiskan cukup waktu untuk membaca atau menyaksikan dokumentasi yang dibuat dengan seksama. Saya terbiasa menyisihkan waktu diam sejenak, lebih banyak melamun daripada biasanya. Ada sesuatu yang melayang hampa, seakan batin menyembunyikan sesuatu untuk tidak hadir di depan kesadaran. Yah, bisa jadi ini sejenis mekanisme pertahanan diri ketika beberapa hal sanggup menjadi guncangan yang luar biasa, maka secara tidak sadar kita bisa melihatnya menjadi tidak nyata atau tiada sama sekali.

Saya pun membuka-buka beberapa halaman lama, dan siapa tahu ada setetes tinta pencerahan tergores di antaranya. Sesuatu yang dituangkan dengan hati, akan mampu menjadi katalis bagi hati yang lainnya.

Saya pun menemukan “Please! Mr. Bear!” – karya lama dari seseorang di negeri gingseng.

Perlahan saya menjelajahi satu per satu dari delapan bab pendek yang disajikan. Membawa saya ke sebuah refleksi masa lalu, perasaan yang sama, cita rasa dan aroma yang begitu merasuk ke dalam sanubari yang tak bisa mengelak lagi.

Please! Mr. Bear!
Cuplikan halaman "Please! Mr. Bear!".

Karya sederhana ini sangat bagus menurut saya. Setidaknya kelembutan mengalir di dalamnya. Sebuah romantisme dalam semburat yang berbeda.

Saya sendiri mungkin tidak akan pernah bisa menuangkan kisah romans saya sendiri seperti itu. Lagi pula, mana mau saya membaca kembali kisah seseorang yang sudah memberikan segalanya, dan akhirnya ditikam dari belakang, diinjak-injak, lalu ditinggalkan dalam kegelapan – itu lebih menyerupai kisah perampokan berdarah dingin daripada kisah romans.  Jadi saya sendiri tidak bisa pernah menyalahkan diri saya jika kemudian selalu berkata bahwa saya “not available” – seperti status BlackBerry Messenger yang beberapa waktu lalu sempat jadi bahan gurauan dengan sehabat saya.

Dan memang bukan salah siapa-siapa, salahkah langit mengguyurkan hujan dan badai ketika saya sedang menikmati berjalan di bawah naungan cerahnya?

Mungkin memang sudah habitus saya, meski tiba-tiba hujan mengguyur – saya tidak mempercepat langkah saya ataupun menyingkir. Saya terbiasa melangkah dengan sama, baik di bawah cerahnya langit ataupun di bawah guyuran hujan.

Bagi orang yang terlalu betah dan terlalu lama berjalan dalam gelap, yang sudah lama tak mengenal bahasa lagi karena selalu sendiri. Terkadang orang bisa menemukan bahwa ada yang mampu menyampaikan apa yang ada sebagai keberadaannya, dalam bahasa yang telah lama tertinggal di masa lalu. Ah, Anda bisa menyebut itu dengan apa saja, saya sering melihat tulisan-tulisan merujuknya sebagai “kesadaran”, atau bahkan “perpaduan hati”, dan mungkin “cinta”.

Kisah “Please! Mr. Bear!” sangat mengena, apalagi jika pembacanya memahami betapa waktu hanyalah bagian dari ilusi yang menggerakan bentuk hidup di dunia ini. Daripada mengikuti alur kisahnya, apa yang tertuang justru dapat membuat saya menyelami diri saya sendiri.

Iklan

11 tanggapan untuk “Please! Mr. Bear!

  1. wah wah, disini juga ada tah mas? hehehe
    btw, sepertinya ini buku bagus banget, masih ada yang jual gak yah?
    *brb nyari*

    Suka

  2. Saya kalau disuruh menceritakan kisah romanku dalam bentuk tulisan untuk konsumsi umum keknya gak bisa. Mungkin yang banyak ditulis oleh para pengarang itu adalah kisah fiksi yang bukan ceritanya sendiri.

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    Suka

  3. di taruh dimana tuh ceritanya… ayo dong di share… wah kalau saya juga masih takut takut menceritakan kisah romantis saya di blog nih…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s