Problematika Balang Tamak

Hampir setiap anak yang tumbuh di Bali mengenal Pan Balang Tamak, baik hanya sekadar namanya maupun juga kisahnya. Dia adalah potret kecerdikan dalam banyak sisi, dan di sisi lain adalah dianggap sebagai sebuah bentuk kebobrokan yang selalu lari dari tanggung jawab sosial (baca: adat) di lingkungan tempatnya tinggal. Dalam pola pandang masyarakatnya, ia menjadi sosok yang tidak disuka, namun kecerdikannyalah yang pada akhirnya membuat masyarakat mengalah dan memujanya.

Namun saat ini, mungkin justru semakin banyak orang yang kembali mencoba mencari kebenaran dalam filosofi Balang Tamak, terutama mereka yang merasa terhimpit dengan kata-kata “tanggung jawab sosial”.

Pan Balang Tamak
Lukisan “Pan Balang Tamak” – salah satu yang saya temukan dengan sumber yang sulit ditelusuri balik.

Karena memang tidak bisa kita pungkiri, tidak semua orang berada dalam kondisi ekonomi dan kemapanan yang baik – dan ketika keadilan sosial tidak merata, maka setiap tambahan beban akan dicoba untuk dicari keringanannya – termasuk yang bernama tanggung jawab sosial. Saya jamak mendengar kisah keluhan mereka yang harus ikut menjalankan tanggung jawab adat, sehingga tidak jarang membuat wirausaha yang menafkahi keluarganya sendiri terbengkalai. Atau warga-warga yang dipunguti iuran atas nama adat yang begitu mencekik bagi keluarga tertentu – atau kadang bahkan menyasar pada mereka yang justru seharusnya mendapatkan dukungan ataupun santunan.

Sehingga dalam titik pandang tertentu, konsep Balang Tamak bisa menjadi juru selamat – ibaratnya Robin Hood yang hidup dalam legenda. Di sinilah problematika itu muncul, ketika ada tuntutan sosial melebihi sumber daya yang dimiliki masyarakat dalam lingkup sosial tersebut, haruskah dipenuhi yang bermakna mencekik diri sendiri, ataukah dihindari yang bermakna sanksi sosial tentunya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s