Lebih Suka Obat yang Terjangkau

Pagi tadi badan saya sudah mulai mencapai puncak keluhannya. Saya tahu beberapa hari ini tenggorokan saya memang sudah tidak nyaman, cuaca yang datang tidak menentu juga tidak membantu memperbaiki gairah hidup. Saya berusaha bertahan dengan memperbaiki nutrisi, tapi ketika berkunjung ke salah satu swalayan waralaba kecil, harga buah-buahan begitu tinggi, tidak menampung pada anggaran saya bulan ini.

Pasca visite bangsal pagi hari, saya semestinya langsung ke poliklinik untuk tugas pagi. Namun karena faringitis saya mendapat bonus nyeri kepala yang hebat dan demam ringan, saya merasa akan sulit fokus menyelesaikan tugas dengan baik. Sehingga saya menuliskan resep untuk diri sendiri dan berbelok ke arah apotek.

Di apotek sudah tampak beberapa orang yang mengantre dalam baris yang tidak begitu panjang. Saya menyerahkan resep saya pada petugas yang menerima dengan senyuman ramah, dan saya rasa itu bukan karena saya datang menggunakan jas putih sebagaimana dokter lainnya, tapi memang demikianlah sudah terbentuk di sana.

Setelah menunggu giliran antrean dan beberapa pasien atau keluaga pasien yang mengantre lebih awal dipanggil, barulah giliran saya dipanggil. Petugas bagian kasir menyampaikan harga obat yang harus saya tebus, dan menyerahkan obat tersebut.

Obat Generik
Obat dari golongan obat generik masih menjadi pilihan saya.

Saya masih memilih obat-obatan generik bahkan untuk diri saya sendiri, karena tentu saja secara evidence based medicine masih manjur dan dianjurkan. Tentu saja disamping itu karena harganya terjangkau.

Mungkin bagi sejumlah orang harga obat yang saya tebus tidak seberapa. Tapi itu bisa menyediakan sebuah porsi makan siang kaya dengan sayuran, tahu dan tempe kering favorit saya. Atau bagi seorang penjual sayur keliling, harga obat tersebut setara dengan biaya beli bensin yang bisa mengantarkannya menjajakan sayuran untuk belasan hingga puluhan kilometer lewat sepeda motornya.

Meskipun tampak mungkin tidak begitu mahal, namun kesehatan yang terjangkau tetaplah dibayar dengan nilai yang cukup bermakna.

Pun demikian, saya masih bisa tersenyum dengan sedikit keheranan bahwa masih ada masyarakat yang datang berobat dan meminta obat yang paling mahal dengan asumsinya mungkin obat-obatan tersebut lebih baik.

Iklan

14 pemikiran pada “Lebih Suka Obat yang Terjangkau

  1. PakOsu

    Kalau boleh share, -saya gak tau ini benar apa tidak secara kesehatan- saya sejak tiga bulan lalu setiap pagi minum air perasan jeruk nipis lemon segelas. Jadi jeruk nipis lemon saya potong dua, setengahnya saya peras lalu air perasannya saya beri air panas dari dispenser satu gelas penuh (± 500 ml). Diminum setelah suam-suam kuku, sedikit demi sedikit. Manfaatnya sampai saat ini badan terasa segar.

    Suka

  2. Applausr

    dokter saja minum obat generik, masa kita sok sokan minum obat mahal ya… luar biasa dok… ayo yang lain jangan malu minum obat generik. saya sering sekali minta obat generik, selain murah khasiatnya sama..

    Suka

    1. Tapi tidak semua obat generik itu murah, dan tidak semua obat paten itu mahal. Kebetulan saja saya memang untuk jenis yang sama, biasanya yang generik memang lebih murah daripada yang paten.

      Terdapat banyak masalah pelik antara obat generik dan paten, sehingga saya lebih suka menyebutnya dengan memilih pengobatan yang terjangkau.

      Suka

  3. bagi saya yang tinggal di pelosok kalimantan ini, Bli, obat generik merupakan pilihan yang paling tepat rasanya. mengingat harga kbutuhan pokok yang sudah cukup melambung tinggi, kalau harus pilih obat yang berharga mahal tentu bukan suatu pilihan yang bijak.

    Suka

    1. Itu juga yang menjadi masalah, bagaimana distribusi obat dilakukan. Di daerah terpencil jangankan obat paten, bahkan obat generik penting pun kadang menjadi barang yang langka. Sehingga pendekatan kesehatan di daerah terpencil lebih ke arah preventif daripada medikatif.

      Suka

    1. Saya kira banyak di daerah pinggiran atau pedesaan seperti itu. Obat-obatannya dalam bentuk sediaan negerik, kecuali yang sangat umum atau harga sediaan patennya masih cukup terjangkau oleh masyarakat sekitar.

      Suka

    1. Branding memberikan mungkin kesan eksklusif. Karena faktanya di lapangan ada yang memang tidak begitu suka atau terus terang bilang bahwa dia tidak suka mendapatkan obat-obatan yang sama seperti yang didapatkan oleh orang yang miskin atau tidak punya, bahkan jika perlu, dia cuma mau obat yang bermerk yang hanya sedikit orang yang bisa membelinya.
      Tidak hanya dunia fashion yang memiliki kecenderungan branding. Dunia pengobatan dan kesehatan sepertinya tidak jauh berbeda.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.