Pelbagai Macam Pasien

Dokter tidak membeda-bedakan pasien, setidaknya demikian selayaknya. Pun demikian dokter harus bisa melakukan penilaian profil pasien atau keluarga pasien dengan cepat, perbedaan karakter dan latar belakang pasien akan sangat menentukan keberhasilan hubungan antara dokter dan pasien, yang pada akhirnya diharapkan mencapai tujuan kedua belah pihak dalam kesehatan.

Di lapangan, saya bisa menemukan banyak sekali jenis pasien; dan masing-masing akan perlu pendekatan komunikasi, informasi dan edukasi yang berbeda-beda. Jenis pasien yang mudah diajak bekerja sama, berpendidikan baik, dan memiliki kesadaran dan kepedulian yang penuh akan kesehatan lebih memudahkan prospek pengobatan; sementara sebaliknya – tentu saja akan bisa sangat berbeda.

Kadang kita bisa melihat di ruang tunggu, deretan banyak pasien, masing-masing dengan permasalahan dan cara memandang masalah mereka yang sering kali untuk pada pribadi-pribadi tertentu. Inilah sebenarnya, pelayanan kesehatan tidak bisa disamaratakan, dan memerlukan waktu yang ekstra. Hanya saja sering tidak mungkin optimal ketika seorang dokter mesti menangani lebih dari lima pasien per jamnya – termasuk konsultasi di dalamnya.

396/730: The waiting room wait

Ada beberapa hal jika melihat karakter pasien atau keluarga menyulitkan para dokter dalam melayani pasien secara paripurna. Sedemikian hingga pada akhirnya tidak terwujud kualitas kesehatan yang diharapkan.

Misalnya, pasien yang ingin obat-obatan tertentu tanpa memedulikan pertimbangan dokter. Dalam mindset si pasien bahwa ia tidak bisa sembuh dengan obat lain selain yang dia percaya. Misalnya meminta petugas kesehatan atau dokter, obatnya disuntik, jika tidak disuntik tidak akan bagus, padahal yang dia perlukan bukanlah obat yang disuntikkan. Hasilnya, meskipun sudah dijelaskan panjang lebar, obat yang diberikan tidak akan diminum. Atau pasien memilih pergi ke petugas kesehatan lain untuk disuntik. Anda bisa bayangkan ketika terapi utama tidak didapatkan, hanya diberikan peringan gejala melalui suntikan, maka suatu saat pasien akan datang dengan kondisi penyakit kronis yang sulit disembuhkan.

Ada juga pasien yang ingin sembuh dengan ekstra cepat. Di dunia ini tidak ada yang namanya kesembuhan instan, jika ada mungkin itu yang disebut dengan keajaiban. Dokter bukanlah pencipta keajaiban, jika ada yang bisa dihasilkan oleh dokter dan petugas kesehatan itu berkat kerja keras dan pengetahuan serta pembelajaran yang berkesinambungan.

Pasien yang ingin sembuh dengan seketika biasanya tidak bisa menerima penjelasan bahwa pemulihan kondisinya memerlukan waktu. Jika gejalanya tidak berkurang, dia akan segera pindah dokter dalam hitungan jam. Padahal ujung-ujungnya mungkin mendapatkan terapi yang tidak jauh berbeda.

Bahayanya, ketika pasien merasa sudah baik, dia berpikir bahwa dia “sembuh”, sehingga obat tidak dilanjutkan sesuai dosis dan aturan pakai, atau tidak kontrol lagi sesuai petunjuk dokter. Jika terapi itu adalah terapi antimikroba/antibakterial, potensi resistensi bisa terjadi, dan ini cukup banyak ada di masyarakat. Ketika sakit lagi dengan penyakit yang sama, obat-obatan serupa sudah tidak bisa menolong, sehingga harus ditingkatkan. Tentu saja golongan obat yang “lebih kuat” memiliki risiko yang lebih besar dan lebih mahal, pasien sendiri yang kemudian dirugikan.

Ada juga kasus-kasus yang menggelitik, misalnya pada pasien yang menderita penyakit swasembuh seperti cacar air. Tidak perlu pengobatan khusus cacar air akan sembuh dengan sendirinya (pada pasien tanpa kelainan kekebalan tubuh) dalam seminggu (kurang atau lebihnya). Tapi dia masih bersikeras berharap sembuh segera, sehingga setiap dua hari pindah dokter, dan dokter yang ditemui – meski berbeda – akan tetap berkata perlu beberapa hari lagi untuk dapat sembuh. Akhirnya pada hari terakhir, si pasien ke pengobatan alternatif, dia membayar mahal dan ternyata sembuh. Dalam pandangan dunia kedokteran, itu memang hari di mana dia sudah waktunya sembuh, tapi di mata si pasien bisa jadi bahwa ternyata pengobatan alternatif lebih baik dibandingkan pengobatan medis. Saya hanya tersenyum saja mendengar kisah-kisah seperti ini.

Kadang tidak hanya penerimaan akan kondisi sendiri yang menjadi faktor penentu sebuah terapi berhasil atau tidak. Namun bagaimana ketaatan terhadap terapi. Pasien dewasa yang tidak taat akan sulit sekali berhasil dalam pengobatan, apalagi jika pengobatan memerlukan jangka waktu panjang, seperti pengobatan tuberkulosis atau tekanan darah tinggi.

Sedangkan pada pasien anak, kadang terapi terhambat atau gagal karena orang tua. Ya, ini harus jelas diungkapkan. Orang tua harus dapat mendidik atau mengajari anak untuk bisa minum obat di rumah selama proses rawat jalan. Anak-anak memang susah minum obat, namun jika dibiarkan dan tidak minum obat sama sekali – maka ini adalah kesalahan orang tua. Tidak hanya obat, namun perawatan yang telaten juga demikian, karena kesembuhan tidak serta merta bergantung pada obat; perawatan, diet dan pola makan anak selama sakit jika tidak dijaga dengan baik, maka tidak akan membantu penyembuhan anak – bahkan tidak jarang anak datang dalam kondisi yang lebih parah. Di sinilah peran orang tua sebagai pendidik anak diperlukan.

Yang repot adalah menerima keluhan bahwa anak tidak mau minum obat karena dokter memberikan obat yang pahit, atau puyer yang pahit. Saya harus menyampaikan bahwa puyer masih merupakan pilihan. Penghitungan dosis pada anak tidak sama dengan orang dewasa, ketepatannya mesti presisi, dan puyer yang pahit itu menyediakan apa yang diperlukan; dan tentu saja obat bisa disediakan dengan biaya yang lebih terjangkau tanpa mengurangi kualitasnya.

Ada juga pasien yang datang dengan keluhan yang tidak pernah jelas, dia hanya merasa “sakit” – namun tidak yakin sakitnya apa. Ada yang datang untuk sekadar pemeriksaan lab, menganggap bahwa pemeriksaan lab lebih superior dibandingkan analisis awal dokter – mungkin pasien seperti ini lebih percaya lab daripada dokter, tapi kemudian meminta dokter membacakan hasil labnya, yang tentunya tidak akan bisa dihubungkan dengan “pasien sedang sakit apa?” tanpa mengetahui kondisi “klinis” pasien.

Saya paling tidak suka ada pasien yang datang untuk meminta penjelasan tentang secarik kertas yang bernama “hasil lab” dan berharap bisa tahu semua dari sana. Tanpa anamnesis dan pemeriksaan fisik yang menguak kondisi klinis sesungguhnya, itu hanyalah secarik kertas tanpa makna. Tapi setidaknya saya menikmati memberikan “kuliah ekstra” pada pasien-pasien seperti ini, agar di masa mendatang tidak buru-buru menghabiskan uang mereka untuk secarik kertas yang sering kali tidak tepat sasaran.

Saya sudah merasakan bagaimana sulitnya mendidik pasien yang memerlukan edukasi di bidang kesehatan, hanya saja jika saya terlalu sering melakukannya, akan ada banyak pasien yang tidak terlayani dalam satu hari.

Jika satu pasien memerlukan seluruh proses lengkap selama lima belas menit, maka dalam tujuh jam pelayanan non-stop, pasien yang bisa dilayani adalah 24 orang. Lalu bagaimana misalnya seperti kasus membludaknya pasien pemegang kartu berobat gratis seperti yang ada dalam kasus pemegang kartu Jakarta Sehat? Kemungkinan besar, melayani lebih dari 80 pasien dalam kurun waktu yang sama? Anda bisa bayangkan, seberapa banyak sih dokter sempat memiliki waktu mengedukasi pasiennya?

Jika ada yang bertanya seberapa banyak jam istirahat seorang dokter, apa pola hidupnya sehat atau tidak, kenapa dokter ada yang sakit juga, kenapa dokter sering tampak muram dan lesu. Nah, kasus di atas mungkin jawabannya.

Beruntung saat ini ada informasi kesehatan yang bisa diakses dengan mudah, semisalnya dari Internet; hanya saja Internet di negeri ini masih mewah – jika mau mendapatkan akses yang layak dan berkemanusiaan. Atau kebanyakan informasi kesehatan juga kadang bisa berdampak sebaliknya. Dokter mungkin berharap dapat membangun relasi yang baik dengan pasien, hanya saja itu masih merupakan tantangan tersendiri yang setiap saat akan selalu ada.

Iklan

14 tanggapan untuk “Pelbagai Macam Pasien

  1. Menyimak dan setelah baca ini jadi bisa bilang ooo.. yang panjang. MUngkin itu juga jadi sebab kenapa setiap kali bertemu dokter (dalam kurun waktu yang lama dan berbeda) setelah memeriksa, seringkali hanya bicara sekedarnya, misalnya memberi resep dan bilang hindari ini dan itu, sudah. 😦

    Suka

    1. Saya biasanya tidak menyembunyikan kelelahan. Tapi ya tetap senyum. Memang semakin banyak beban kerja, kita akan kelelahan. Saya rasa di negara kira ada banyak pekerjaan yang lebih melelahkan dibandingkan yang saya kerjakan. Jadi tidak ada banyak alasan untuk mengeluh.

      Suka

  2. hihi, ini benar – benar curhat seorang dokter yang panjang lebar. tapi sepenuhnya benar. saya sendiri sampai jengkel membuat pengertian dengan budhe saya yang sedang sakit. dia akan berganti petugas medis bila dalam sehari atau 2 hari keluhan yang diderita belum sepenuhnya hilang, susah minum obat, padahal obat-obat yang diresepkan dokter termasuk antibiotik, dll

    Suka

  3. Dokter di klinik kantor kami, ada yang jadi dokter favorit. Pagi-pagi saja begitu buka klinik sudah berderet karyawan yang mau berobat, termasuk juga pensiunan. Saat tiba giliran saya masuk, saya lihat dia sudah agak lelah…. Dokter tetap butuh istirahat. Menurut saya paling pas sih sejam itu maksimal 6 pasien…

    Suka

    1. Sudah jadi rahasia umum bahwa yang namanya istirahat itu adalah sesuatu yang langka dan mahal. Seperti sebuah kontrak yang tidak tertulis, dokter dan tenaga medis adalah tenaga profesional dengan jam kerja yang padat.
      Yang disayangkan hanya sering kali menurunkan kualitas pelayanan ketika semuanya buru-buru. Baiknya memang dokter beberapa pasien saja dalam satu jam, tapi kenyataannya sering tidak demikian. Alangkah bagusnya jika kesehatan masyarakat bisa ditingkatkan secara universal, sehingga yang benar-benar memerlukan bantuan medis tidak banyak, he he…

      Suka

      1. sekedar informasi yah bli, di Bekasi ada dua dokter fav orang JABODETABEK (saking ngetopnya itu dokter umum!) yang seharinya biasa menangani 300an orang! itu dibagi 2 sesi pagi sampai siang dan sore sampai malam. Edan! emang sih rata-rata penyakit standar dokter umum seperti flu dan sebagainya. tetap saja bikin saya selalu geleng kepala, karena kalau mau berobat serasa ngantri sembako LOL

        Suka

        1. Kalau memang sudah “laris”, dalam artian mendapat kepercayaan masyarakat, ya memang begitu, maksimal sehari 300-500 pasien. Biasanya kondisi dokter harus benar-benar fit.
          Kalau saya sendiri mungkin sudah angkat bendera putih. Kondisi saya tidak akan sanggup sebanyak itu. 60-80 pasien di rumah sakit saja sudah kewalahan dalam sehari.

          Suka

  4. Nah keluar juga akhirnya tulisan tentang dokter dan pasien ini. Aku pernah tuch nunggu untuk di-USG ampe 2 jam dan diperiksa hanya…5 menit! Sumpah nyebelin banget. Udah berusaha nanya ini itu tapi muka dokternya asem banget. Semangat Cahya, jangan kayak dokter yang nyebelin ya! 😀

    Suka

    1. Deva, welcome to Indonesia Health Care Management. Kekurangan tenaga kesehatan di mana-mana, tapi ndak ada yang berani mengisi terlalu banyak terutama pihak pemerintah karena pendanaan kesehatan kita terbatas.

      Suka

  5. kalau melihat dokter di musim musim sakit atau di rumah sakit yang ramai sekali pengunjung. rasanya mereka itu kerja tanpa henti.. belum lagi ngurusin pasien yang bebel di kasih tahu malah nanya yang ga jelas. memang dokter juga manusia butuh istirahat agar semuanya baik…

    Suka

    1. Iya Mas, tapi masalahnya, hampir tiap waktu itu adalah musim sakit. Seiring bertambahnya jumlah penduduk, maka permintaan tenaga kesehatan meningkat, sayangnya pertambahan tenaga kesehatan tidak seiring/seimbang dengan pertambahan laju penduduk.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s