Paradoks Para Pencari Kebenaran

Realita adalah bentangan sederhana di hadapan kita. Apa yang tidak sederhana adalah pemikiran kita, dan bagaimana kita memandang dunia melalui sawar pemikiran yang penuh kompleksitas ini, sehingga kita sering menemukan diri kita berkata bahwa ini dan itu tidak seharusnya demikian. Anda mungkin benar, tapi hei, siapa bilang kebenaran itu absolut.

Paradoks para pencari kebenaran – entahlah, mungkin karena mereka tidak menyukai kebenaran dalam satu atau dua bentuk; mungkin karena mereka merindukan sesuatu yang membebaskan; mungkin karena mereka merasakan ada sesuatu yang keliru dengan kisah-kisah yang dibenarkan selama ini.

Bagaimana dengan saya? Saya suka dengan ide jika kebenaran bisa ditemukan (discovered), beberapa di antaranya memang bisa ditemukan, ilmu eksata dan ilmiah membuka jendela ini. Beberapa berusaha mencari yang lebih hakiki, dan filosofi pun berkembang.

Kumpulkan para filsuf dalam sebuah perjamuan, maka agama akan lahir.

Keterikatan adalah kesederhanaan yang paling mendasar, dan membuat kita tidak bisa melepaskan sawar yang kompleks di dalam pencitraan kita sedemikian hingga kita berada dalam sebuah labirin raksasa yang bernama keyakinan. Manusia mungkin tahu keyakinan bukanlah fakta, namun ia tetap melihat bahwa apa yang ia yakini adalah fakta. Keyakinan bukanlah kebenaran, tapi kita melekat pada keyakinan itu adalah mutlaknya kebenaran.

Apa sebenarnya perjalanan ini? Ketika belum lebar membuka mata, kita telah menutupnya kembali.

The Voyage of Life: Childhood

Perjalan hidup itu menyenangkan, meski tidak untuk semua orang. Bagi mereka yang menemukan kedamaian, mereka memiliki waktu untuk menemukan kebenaran; bagi mereka yang bergelut untuk bertahan hidup tanpa henti, mereka memiliki kesempatan untuk dihampiri oleh kebenaran. Selama orang tidak menutup mata dan hatinya, saya rasa semua itu mungkin.

Si quis manducaverit ex hoc pane, vivet in æternum

Penerimaan adalah hal yang sederhana, dan karena memang kebenaran itu sederhana. Seberapa yang kita terima, dan seberapa dari realita yang kita buang?

Mungkinkah sebenarnya ketika kita mencari kebenaran, kita sedang mencari remah-remah yang pernah kita buang ketika kehidupan yang utuh itu mengetuk pintu kita?

Prajnanam iti Brahman

Jika kita sadar sepenuhnya, adakah yang sebenarnya bisa terbuang? Jika tidak ada yang terbuang apakah kita perlu mencari-cari lagi? Lalu, mengapa kita tidak sadar? Mengapa kita tidak melihat? Kenapa kita begitu kompleks?

Kehilangan adalah hal yang wajar, jika menemukan kebenaran membuat orang melepas dirinya sendiri – maka apa yang perlu dikhawatirkan? Ini adalah paradoks yang sangat kental, untuk bertemu sesuatu yang di luar jangkauan Anda, maka Anda selayaknya keluar dari diri Anda.

Iklan

One thought on “Paradoks Para Pencari Kebenaran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s