Pencegahan Wabah itu Tidak Mudah

Sebagaimana diketahui, wabah difteri menyerang wilayah Jawa Timur beberapa tahun terakhir. Ratusan kasus dan puluhan meninggal dunia. Difteri memang sangat infeksius, dalam artian cepat menular dan jika terlambat tertolong dapat mengakibatkan kematian. Mereka yang tidak dibantu dengan kekebalan melalui imuninasasi adalah kelompok yang rentan terinfeksi dan menyebarkan wabah difteri.

Pemerintah sudah melakukan upaya subPIN, pekan imunisasi tambahan untuk melindungi masyarakat dari wabah. Tapi cakupannya tetap tidak bisa menyeluruh. Saya bisa melihat catatan penolakan di mana-mana. Orang tua yang memahami pentingnya imunisasi tidak akan melakukan penolakan tentu saja.

Saya rasa masalah seperti ini ada di manapun, tidak hanya di Indonesia. Beberapa negara mungkin membuat peraturan yang ketat. Saya dengar pemerintah Arab Saudi memberlakukan peraturan yang mewajibkan bayi dan anak mendapatkan vaksinasi langkap, juga sebagai syarat mendapatkan akta kelahiran yang syah dan diakui oleh negara. Di Indonesia sendiri ada UU no. 4 tahun 1984 tentang pencegahan wabah, tapi belum banyak diterapkan – saya belum mendengar ada yang pernah dipidana karena menolak imunisasi.

Pemaksaan oleh negara mungkin tidak tepat. Tapi jika menyangkut keamanan nasional, dan perlindungan masyarakat luas, maka saya rasa warga negara yang memiliki rasa tanggung jawab akan hal ini.

Ilustrasinya sederhananya saja, seorang anak menolak diimunisasi dan orang tuanya juga menolak anaknya diimunisasi dengan alasan tertentu. Maka si anak yang tidak terlindung ini akan menjadi bom waktu yang bisa meledak di tengah masyarakat yang terlindung. Jika ada wabah, maka si anak bisa dipastikan terkena jika bersinggungan dengan wabah seperti difteri, dan kemungkinan dia juga menularkan anak-anak lain yang belum sempat diimunisasi, misalnya pada bayi yang belum sempat diimunisasi. Adalah hal yang disayangkan jika si anak dan bayi yang tertular ini meninggal, padahal seharusnya dapat dicegah melalui imunisasi.

Mereka yang menolak imunisasi saya rasa tidak tahu betapa menderitanya dan sakitnya mendapatkan penyakit-penyakit yang sebenarnya bisa dicegah ini. Atau kehilangan orang-orang yang dikasihi karena wabah yang bisa dicegah.

Vaksinasi
Pemberian imunisasi pada anak yang lebih kecil memberikan perlindungan yang lebih dini.

Saya senang jika orang tua memiliki kesadaran, sehingga dapat kooperatif dalam melindungi anak-anak dan lingkungannya secara lebih baik.

Namun semakin besar usia si anak, kadang pelaksanaan upaya pencegahan dalam bentuk imunisasi semakin menemui banyak tantangan. Anak-anak SD biasanya sudah mulai “kreatif” mengekspresikan ketakutan dirinya terhadap jarum suntik. Apalagi anak-anak SMP, kadang mereka bisa “kabur” sampai lompat jendela karena ketakutan akibat jarum imunisasi. Hal ini lumrah terjadi di sekolah-sekolah wilayah pinggiran, apalagi jika anak tidak mendapatkan edukasi langsung dari orang tua/guru tentang pentingnya imunisasi, diperburuk mungkin orang tua/guru tidak memahami benar tentang makna imunisasi.

Imunisasi Difteri pada Anak SD.
Anak-anak SD mulai memiliki ekspresi lebih akan ketakutan mereka terhadap jarum suntik. Tapi pada akhirnya, nyaris tidak ada yang mengeluh rasa sakit yang mengerikan pasca disuntik.

Tidak mudah memang menjadi pelaksana di lapangan, tapi tidak juga terlalu sulit. Pencegahan wabah memang memerlukan kerja sama dari masyarakat tentunya, karena kasus-kasus yang menyebabkan wabah seperti difteri bukan hanya masalah perseorangan, namun juga lingkungan tempat dia tinggal, dan lingkungan lain yang berinteraksi dengan lingkungan tempat tinggalnya.

Penyakit Difteri disebabkan oleh bakteri Corinebakterium diphteriae, dapat menyebar dengan cepat, yang sangat berbahaya, karena bakteri mengeluarkan racun ynag menyebar ke seluruh tubuh manusia sehingga dalam hitungan hari, seminggu atau 10 hari, bila tidak terobati penderita meninggal dunia. Sebagaimana disebut dalam UU no 4 tahun 1984, Penyakit Difteri, dapat menimbulkan wabah yang menyerang banyak Provinsi di indonesia. Untuk mengenali penyakit Difteri tidak sulit, bila anak demam atau sumer (demam ringan) silakan buka mulut dan diterangi dengan senter ke dalam rongga mulut, apakah ada membran putih keabu-abuan, bila ya bisa diduga sebagai Difteri. Atau bila demam/sumer disertai merasa nyeri saat menelan makanan, bisa diduga sebagai Difteri. Untuk memastikan, datanglah ke Puskesmas atau dokter terdekat dan periksa labotorium dengan mengambil usap di pangkal hidung dan tenggorok. Waspadailah Difteri pada diri anda, keluarga dan sekitar anda, karena Difteri menyerang semua umur. (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur).

Pencegahan wabah hanya akan berhasil dengan kesadaran penuh masyarakat dan kerja sama bersama instansi kesehatan di lingkungan tersebut.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s