Resep Mana yang Dipilih

Peresepan obat selayaknya mengikuti aturan peresepan yang rasional, yang bermakna setiap obat yang dituliskan dalam resep memiliki sejumlah pertimbangan rasional, misalnya efektivitas terapi (kegunaan), efek samping, hingga pertimbangan keterjangkauan oleh pasien yang akan menggunakannya. Hanya saja memilih resep yang rasional memiliki banyak tantangan di lapangan.

Di bidang kegunaan atau efektivitas terapi, tidak akan begitu banyak masalah, karena setiap obat memiliki indikasi yang sudah jelas. Tentu saja dengan takaran yang sesuai, efektivitas obat yang diharapkan bisa dihasilkan. Masalah yang cukup banyak muncul adalah ketika sejumlah penyakit swasembuh, menimbulkan gejala-gejala yang menirdayakan pasien. Di sini harus diberikan penjelasan bahwa obat-obatan berfungsi bukan untuk menyembuhkan, namun mengurangi gejala-gejala yang mengganggu tersebut.

Efek samping obat-obatan biasanya tidak terlalu mengganggu, misalnya sedikit pusing, mengantuk, atau perut terasa tidak nyaman. Tidak semua orang dimendapatkan pengobatan akan mengalami efek samping, ini pun harus dijelaskan pada pasien. Kadang ada pasien yang merasa tidak nyaman, dan beralih berobat ke dokter “selanjutnya” mengira kondisinya memburuk.

Obat Generik
Piliha pasien untuk obat (Sumber farmasi.asia)

Yang terakhir adalah keterjangkauan. Selama ini saya lebih sering meresepkan obat generik, kecuali pasien meminta yang berbeda pasca dijelaskan panjang lebar. Sebenarnya siapapun, berhak atas obat-obatan yang terjangkau. Dan tetap harus dicatat, obat yang terjangkau bukan dimaksudkan selalu digolongkan dalam obat gratis.

Pasien pun kini dianjurkan makin cermat dalam bersama-sama dokter menentukan pilihan obat yang tepat baginya. Dalam hal ini, kerja sama antara dokter dan pasien adalah syarat utama tercapainya pengobatan yang optimal. Pasien tidak hanya berhak tahu obat-obat yang diberikan, namun juga wajib paham bagaimana menggunakannya.

Iklan

8 tanggapan untuk “Resep Mana yang Dipilih

  1. setuju, harus kerja sama dengan dokter. Walaupun banyak dokter seringnya tidak tanya tapi langsung buatkan resep dengan obat yang mahal mahal.

    Suka

  2. saya biasanya tanya dl sama dokternya.. apakah bisa menggunakan obat generik atau tidak.,. kalau bisa ya kenapa harus pake paten.. maklum irit mas

    Suka

  3. menurut pengalaman – entah ini terjadi pada diri ini sendiri atau memang begitu adanya- dokter di daerah kota cenderung meresepkan obat yang mahal tanpa menanyakan lebih dulu pada konsumen, sedangkan dokter yang di daerah penggiran meresepkan obat generik

    Suka

    1. Saya mungkin tidak bisa menampik itu. Kembali pada kebutuhan ekonomi sebenarnya. Dokter di pinggiran tidak terlalu terbebani banyak hal. Sedangkan bekerja di kota cukup banyak stres dan tekanan, termasuk di sisi ekonomi. Misalnya mendapatkan lahan praktek yang prestigius dan menarik pasien itu tidak mungkin biayanya kecil.
      Sebenarnya apa yang boleh diterima dokter secara etika adalah pengganti jasa memeriksa dan mengobati pasien, bukan dari jualan obat atau sejenisnya.

      Suka

  4. Kalau saya gak lupa, saat berobat pasti saya bilang dulu minta obat generic, karena sudah tahu bahwa isinya sama saja, hanya beda kemasan dan merk. Tapi kalau sudah sakit beneran, suka lupa juga.

    Suka

    1. Ya, di Indonesia kebanyakan obat generik dan obat generik berlogo. Yang benar-benar paten itu hanya sebagian kecil dari obat yang beredar rasanya.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s