Tanah Air Indonesia Pusaka

Ketika kita kecil, dendangan indah dengan kisah nusantara yang permai nan damai menghiasi mimpi-mimpi anak negeri ini. Setelah beranjak dewasa (secara usia), ada banyak sudut-sudut gelap negeri ini yang kian terkuak dan tidak jarang mengikut di balik bayangan kita sendiri. Demikian juga, kenyataan tak teringkari bahwa roda-roda penggerak negeri ini untuk menuju masa depannya adalah kita juga.

Mungkin negeri ini memang terlalu kaya, korupsi merongrong dari dalam, neofeodalisme menjajah dari luar, rakyat yang menuntut subsidi berlebih karena enggan berdikari – demikian pun kita tak pernah dipandang sebagai bangsa yang kecil dan negeri yang mungil. Setidak-tidaknya bumi pertiwi masih bisa memberikan napas kehidupan bagi putra-putrinya, meski tidak semua dalam ruang kelayakannya.

Orang-orang yang terhimpit oleh roda zaman mungkin tidak akan sempat memikirkan nasionalisme dan negerinya; di mana pemerintahan yang tidak bisa membantu banyak rakyat yang menyokongnya, maka tidak bisa disalahkan jika rakyat tidak lagi ambil peduli dengan morat-maritnya tata kenegaraan. Rakyat akan bertanya, untuk apa peduli negara jika kehidupannya tidak juga berubah ke arah yang lebih baik.

Permasalahan negeri ini terbentang dari Sabang hingga Merauke, dan ketika mentari pagi terbit, adakah kita bertanya-tanya seberapa banyak permasalahan itu terselesaikan, dan seberapa banyak permasalahan baru bertambah.

Halo Sulawesi ! | Sulawesi Selatan

Tanah air Indonesia Pusaka, bukan hanya sekadar gambaran pemerintahan yang morat-marit, bukan hanya gambaran kejahatan jalanan yang semakin membrutal, bukan hanya masalah pertentangan idealisme, kesukuan atau agama yang berkepanjangan. Karena pada akhirnya, di mana ada perbedaan di sana pasti akan ada pertentangan. Bhinneka Tunggal Ika, karena kita memang tidak sewarna, selayaknya kita menyadari itu sebelum terlambat mengecat dunia menjadi satu warna yang membodohkan.

Indonesia merupakan sebuah lukisan agung di mana ada kekayaan manusia dan alamnya yang berlimpah, yang nyaris tiada negeri lain yang menandingi. Ketika kita mendapatkan anugerah sebesar ini dan masih mengeluh, maka niscaya kita tidak cukup cerdas dan bijak untuk dapat menjadikan kehidupan di negeri ini lebih baik dari saat ini. Dalam anugerah yang besar, selalu terselip di sisi lainnya tantangan yang lebih besar – sebagaimana semakin tinggi sebuah pohon, maka semakin kencang terpaan angin yang dihadapinya.

Mengeluh tidaklah keliru, karena itu tandanya kita melihat besarnya tantangan di hadapan kita. Namun semua orang tahu, bahwa mengeluh tidak akan menyelesaikan perkara apapun, oleh karenanya – kita tidak boleh berhenti sampai di sana, untuk sebuah negeri yang dititipkan bagi kita.

Untuk negeri ini, kita tidak perlu selalu melakukan hal-hal besar, namun hal-hal kecil yang bisa membawa negeri ini pada kebesarannya. Negeri adalah juga rakyat di dalamnya, apa yang diberikan pada negeri akan kembali pada rakyat yang hidup di dalamnya.

Apa yang sudah Anda berikan bagi negeri ini?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s