Mengikuti Pelatihan GELS

Sabtu kemarin saya baru mengikuti ujian GELS dari pelatihan yang diadakan selama seminggu. GELS adalah pelatihan kegawatdaruratan umum dan dukungan hidup yang bisa diterapkan di lapangan ataupun di rumah sakit. Pelatihan ini termasuk umum, tidak spesifik seperti ATLS  atau ACLS.

Mengapa dokter ikut lagi dalam pelatihan seperti ini? Bukankah dokter sudah seharusnya memiliki kemampuan penanganan kegawatdaruratan ketika bekerja di UGD baik rumah sakit maupun puskesmas? Ya, memang dokter memiliki kemampuan itu, tapi berjalan seiringnya waktu, ketika tidak sering digunakan, kemampuan ini bisa menumpul dan tidak memiliki teknik yang terbaru.Saya sendiri selama menjaga ini jarang sekali ada pasien yang benar-benar darurat datang ke UGD, biasanya pasien-pasien dengan sakit yang tidak darurat namun malas mengantre di dokter umum. Pun kasus-kasus yang agak berat, biasanya langsung dilarikan ke rumah sakit (paling) besar di wilayah itu. Mungkin jika dari 100 pasien yang datang ke unit/instalasi gawat darurat paling tidak ada satu atau dua yang benar-benar gawat darurat.

Di negeri ini tidak banyak UGD yang benar-benar berdiri sendiri, maksudnya hanya khusus menerima pasien darurat. Sejumlah klinik dan rumah sakit kecil yang jumlah pasiennya sedikit, biasanya pasien lebih suka masuk UGD apapun sakitnya karena tidak perlu mengantre lama di UGD. Tapi hal sebaliknya juga bisa terjadi, pasien kondisi gawat bisa berkunjung ke praktek dokter umum, atau tidak memahami bahwa kondisi gawat maka pengantar pasien justru mengantrekan pasien di poli rawat jalan.

Sehingga konteksnya akan menjadi tetap sama, di mana pun seorang dokter berada, dia harus siap menghadapi kasus gawat darurat. Kemampuan seperti ini harus diasah secara berkala, jika tidak ada banyak kesempatan mengasah, maka pelatihan secara berkala akan sangat membantu, selain untuk mengasah kemampuan juga untuk melihat perubahan panduan terbaru. Ilmu kedokteran senantiasa berubah setiap saat, standar yang ditetapkan bisa berubah setiap saat. Apa yang dulu dikerjakan sebagai standar, sekarang sudah diganti dengan metode lainnya.

Hanya saja pelatihan-pelatihan seperti ini tidak murah, pendapatan saya selama dua bulan mungkin tidak akan mencukupi jika saya harus membayarnya sendiri. Beruntungnya pelatihan kali ini merupakan bantuan, sehingga saya tidak dikenakan biaya.

Peserta
Peserta “General Emergency Life Support” – Angkatan 51 – RSUP Dr. Sardjito

Jadi seminggu ini saya memang tidak bisa menulis di sini karena sibuk dengan banyaknya materi pelatihan. Ini sudah menjadi kewajiban saya, walaupun sudah menjadi dokter, namun pendidikan berkelanjutan akan selalu bergulir, sehingga saya bisa bekerja dalam kondisi yang optimum di lapangan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s