Ketika Kampanye Kondom tidak Masuk Akal

Kemarin diperingati sebagai hari AIDS sedunia, dan salah satu target dunia kesehatan di mana pun di belahan bumi ini adalah memutus mata rantai penularan HIV/AIDS ini. Lalu di Indonesia, kementerian kesehatan membuat kampanye kondom yang menjadi pekan kondom nasional. Saya seorang teman mengirim tweet kendaraan kondom yang digunakan untuk kampanye, saya pun cuma bilang “wow”, karena tentu saja untuk kampenye kendaraan itu akan begitu menarik perhatian.

Tapi mari kita kembali, muncul kemudian permasalahan. Gerasakan agresif dari kementerian kesehatan ini pun mengundang banyak pesimisme dan (tentunya) penolakan. Kalau yang menolak kelompok yang sama dari tahun ke tahun, rasanya biasa saja. Tapi jika kemudian banyak kalangan medis ikut menolak, bahkan sampai saya dengar staf kementeriaan sendiri menolak kampanye seperti ini, maka tentu akan membuat saya bertanya-tanya lagi.

Di dunia kesehatan kita bekerja dengan apa yang namanya evidence based medicine, yang di dalamnya melibatkan perhitungan statistika yang akurat nan pelik. Bahwa setiap kegiatan kedokteran/kesehatan harus berlandaskan bukti ilmiah yang kuat, tidak bisa berdasarkan opini semata. Lingkupannya tidak hanya di upaya kuratif ketika dokter memilih bahwa obat A lebih tepat diberikan dibandingkan obat B, tapi juga di wilayah prefentif dan promotif.

Saya rasa kampanye kondom tidak hanya bergulir satu atau dua kali di negeri ini. Dan sudah saatnya mungkin kita melakukan instropeksi, tentang efektivitas kampanye kondom ini.

Terdapat sebuah meta-analisis (dan ingat, meta-analisis adalah jenis penelitian ilmiah dengan tingkat kepercayaan yang paling tinggi) dengan judul: “Efficacy of Structural-Level Condom Distribution Interventions“. Penelitian ini mengkaji keefektifan intervensi distribusi kondom pada tingkatan yang terstruktur. Penilitian ini adalah analisis dari pelbagai penelitian selama sepuluh tahun, hingga tahun 2007 tentang upaya intervensi kelompok masyarakat dalam menggunakan kondom dan menilai bagaimana keefektifannya dalam menekan laju penyebaran HIV serta PSM (penyakit seksual menular).

This systematic review examines the overall efficacy of U.S. and international-based structural-level condom distribution interventions (SLCDIs) on HIV risk behaviors and STIs and identifies factors associated with intervention efficacy. A comprehensive literature search of studies published from January 1988 through September 2007 yielded 21 relevant studies. Significant intervention effects were found for the following outcomes: condom use, condom acquisition/condom carrying, delayed sexual initiation among youth, and reduced incident STIs. The stratified analyses for condom use indicated that interventions were efficacious for various groups (e.g., youth, adults, males, commercial sex workers, clinic populations, and populations in areas with high STI incidence). Interventions increasing the availability of or accessibility to condoms or including additional individual, small-group or community-level components along with condom distribution were shown to be efficacious in increasing condom use behaviors. This review suggests that SLCDIs provide an efficacious means of HIV/STI prevention.

Tentu saja dari penelitian tersebut disimpulkan bahwa intervensi memang bisa memberikan dampak positif dalam mencegah penyebaran HIV dan PSM. Tapi apakah penelitian ini akan bisa diterapkan di Indonesia?

Pemerintah yang mengadakan program kampanye seperti ini pastikan akan menuai kontra opini dari masyarakat, dan itu adalah kewajaran dari kebijakan ini. Namun saya harap pemerintah memberikan pertanggungjawaban berupa evidence based medicine dari program yang selama ini mereka kerjakan, karena penunjang program kesehatan pemerintah di lapangan juga orang yang berwawasan akademis seperti medis dan paramedis. Saya ingin melihat penelitian pemerintah pra dan pasca intervensi dengan kampanye kondom, apakah terdapat perubahan signifikan terhadap penekanan laju penyebaran HIV & PSM?

Ini penting, karena jangan sampai kita mengulang program yang sama berulang-ulang, tapi ternyata angka HIV & PSM lainnya merokek tinggi ternyata. Ataupun ternyata menurun (seperti terakhir laporan yang saya untuk awal tahun yang lalu), tapi kalau ternyata tidak berkaitan dengan program kampanye seperti ini, maka ini akan menimbulkan tanda tanya lebih jauh?

Jika saya melihat di situs aidsindonesia.or.id, maka penelitian tentang efektivitas kondom di Indonesia baru terdaftar adalah penilitian yang sedang berlangsung di Tasikmalaya sejak 2012 kemarin, itupun digerakkan oleh NGO/LSM. Lalu di mana penelitian lainnya? Dan tentunya penelitian terkait dengan program kampanye pemerintah selama ini, termasuk pekan kondom nasional ini. Anggap penelitian tersebut adalah bentuk pertanggungjawaban akademis terhadap kaum terpelajar di negeri ini, yang mulai mempertanyakan keefektifan kampanye seperti ini.

Berilah kami yang bekerja di lapangan yang berpegang pada bukti ilmiah, sebuah bukti yang menjadi program kampanye kondom seperti ini memanglah program yang masuk akal. Karena walau pun kami tahu bahwa kondom memang opsi terbaik saat ini untuk mencegah penularan HIV di kalangan pelaku seks bebas, tapi pendekatan intervensi yang terbukti secara ilmiah kami perlukan.

Iklan

Satu tanggapan untuk “Ketika Kampanye Kondom tidak Masuk Akal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s