Apa Kabar BPJS Kesehatan?

Baru tadi pagi saya menerima surat edaran dari salah satu kantor cabang PMI di sebuah daerah tingkat II, bahwa PMI (di situ) tidak memiliki kerja sama dengan BPJS Kesehatan; sehingga jika ada peserta BPJS Kesehatan, mereka tidak bisa melakukan klaim pengambilan darah. Apa maknanya ini? Apa berarti pasien rakyat tidak mampu atau bahkan setengah mampu peserta BPJS Kesehatan atau JKN saat memerlukan darah harus merogoh kocek sendiri? Ya, itu bisa jadi maksud yang paling tersirat.

Jika menilik lini masa di jejaring sosial twitter dengan pelacakan kata kunci “BPJS”, hampir sebagian besar adalah tanggapan yang tidak memberi nilai positif menyambut bergulirnya BPJS Kesehatan. Baik tanggapan dari masyarakat awam maupun pelaku dunia kesehatan di lapangan. Tidak hanya di dalam lini masa, bahkan keseharian saya saja banyak protes seputar BPJS Kesehatan.

Berikut adalah beberapa keluhan sederhana yang muncul di lapangan sebagai contohnya:

Pertama, klaim berbasis INA-CBGs dinilai tidak wajar pada banyak sisi. Kasus sederhana ada yang memiliki nilai klaim lebih besar dari sewajarnya. Kasus rumit malah memiliki nilai klaim yang lebih kecil, padahal biaya dan risikonya di lapangan lebih besar.

Kedua, tidak semua penerima kapitasi merasa puas, padahal mereka digadang sebagai yang paling diuntungkan saat pelaksanaan JKN. Karena kenyataan di lapangan, sebelum ada kapitasi, pihak penyelenggara layanan kesehatan harus “menalangani” dulu biaya berobat pasien-pasiennya, padahal dana sendiri untuk itu hampir tidak ada.

Ketiga, keterbatasan pendanaan akan membuat pemangkasan “jatah obat” bagi pasien. Ini bermakna, kesembuhan bisa tertunda, penyakit menjadi parah, dan biaya berobat – semisal biaya transportasi – bisa meningkat karena memang yang dulunya bisa berobat sebulan sekali karena diberi banyak obat; sekarang hanya bisa untuk beberapa hari.

Keempat, sistem yang tidak matang ini membuat banyak tenaga kesehatan kebingungan. Bagaimana tidak, jika ada masalah harus bertanya pada pihak BPJS Kesehatan, tapi pihak BPJS Kesehatan nyaris sulit dihubungi; telepon kadang tidak diangkat, email dan sms begitu lama dibalas dan sering kali tidak menyelesaikan masalah.

Kelima, teknologi daring (online) yang diusung sepertinya masih sulit dipahami. Saya sendiri melihat sejumlah aplikasi yang digunakan memang tidak “user friendly” alias belum memberikan keramahan pada pengguna. Ibaratnya kalau kita menggunakan Facebook, tidak pencet sana dan sini pasti bisa sendiri, tapi aplikasi BPJS Kesehatan belum dibangun ke arah sana. Kecuali yang memang hobi mengutak-atik komputer, pegawai kesehatan yang terbiasa dengan pekerjaan manual, akan menemukan kendala yang bermakna di sini.

Keenam, karena faktor klaim yang tidak adil sebagaimana pada poin pertama, maka banyak orang mulai membahas bagaimana caranya agar bisa dapat klaim yang besar, sehingga tidak merugi, dan tentunya ini mengebiri kehormatan profesi kesehatan itu sendiri. Gambaran kasarnya adalah, jika ada orang batuk pilek, maka hari ini datang periksa diberikan obat batuk saja, besok harus periksa lagi untuk dapat obat pilek, karena jika diberikan obat batuk pilek sekaligus, klaimnya tidak mencukupi, tapi jika diberikan terpisah klaimnya mungkin menguntungkan. Ini tentu bukan hal yang positif, dan tentunya itu cuma gambaran, karena batuk pilek biasa tidak perlu berobat sama sekali, cukup istirahat dan makan makanan yang bergizi.

Ketujuh, masih banyak pertanyaan “apakah klaim akan dibayarkan sesuai janji?” – janji dalam makna adalah pembayaran sesuai dengan besaran klaim, dan dibayarkan tepat waktu. Karena banyak rumah sakit masih trauma dengan tunggakan Jamkesmas yang bisa berkisar antara puluhan juta sampai miliaran rupiah untuk sebuah rumah sakit.

Kedelapan, sifatnya wajib untuk seluruh rakyat Indonesia. Berarti bahkan jika Anda sudah terlindungi oleh asuransi yang bonafit, maka tetap Anda wajib ikut BPJS Kesehatan, kemudian mendapatkan kartu nomor BPJS Kesehatan yang berlaku bersama dengan hak dan kewajibannya selama masih menetap dan menjadi warga negara Indonesia. mungkin arah gerakannya seperti Codice Fiscale di Italia, Social Security Number di Amerika, atau National Insurance Number di Inggris.

Nah, setidaknya itu saja gambaran sedikit tentang hiruk pikuk dunia BPJS Kesehatan sejak mulai diluncurkan 3 minggu yang lalu. Lalu, apakah di tempat

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s