Membuat Harga Sekantong (1 Unit) Darah Lebih Terjangkau

Pernahkah Anda donor darah? Anda tidak menjual darah Anda bukan? Tidak juga Anda dibayar mahal untuk donor darah. Tapi kenapa harga sekantong darah bisa begitu mahal? Tentu saja semua itu melibatkan biaya produksi sekantong darah yang siap ditransfusikan pada mereka yang memerlukan; termasuk di dalamnya biaya kantong darah itu sendiri, biaya pengecekan kualitas darah, dan pelbagai tes serta pengeluaran lainnya.

Dan harga produksi yang tinggi, membuat PMI melepas satu kantong darah siap transfunsi, terutama yang spesifik komponen darah tertentu menjadi cukup tinggi. Bahkan tingginya harga sekantong darah tidak hanya membuat masyarakat khawatir, rumah sakit dan pelayanan kesehatan pun khawatir, terutama di era BPJS Kesehatan sekarang; karena mau tidak mau rumah sakit di daerah akan “menalangi” biaya ini bagi peserta BPJS, atau mungkin saja mereka tidak memberikan transfusi darah karena takut merugi.

Kita memang tengah berada dalam sistem yang tidak menentu. Ketika setetes darah begitu bermakna, maka mendapatkan sekantong darah adalah buah simalakama bagi banyak orang yang membutuhkan, terutama bagi mereka yang tidak mampu; dan bahkan ketika Anda seorang yang mampu pun belum tentu bisa tanpa kendala, karena stok darah di bank darah selalu fluktuatif dan lebih sering kosong, sehingga tidak jarang pasien-pasien yang memerlukan darah diminta membawa donor pengganti.

Stok Kantong Darah Masih KurangJAKARTA, KOMPAS.com – Indonesia butuh sekitar 4,5 juta kantong darah tiap tahunnya. Namun kenyataannya, sampai saat ini baru ada sekitar 2,1 juta kantong darah yang terkumpul. Dari 2,1 juta kantong darah tersebut, sebagian besar (87 persen) berasal dari donor darah sukarela dan 13 persen dari donor darah pengganti.

<span class="embedly-powered" style="float:right;display:block"><a target="_blank" href="http://embed.ly/code?url=http%3A%2F%2Fhealth.kompas.com%2Fread%2F2012%2F06%2F21%2F14350189%2FStok.Kantong.Darah.Masih.Kurang&quot; title="Powered by Embedly"><img src="http://static.embed.ly/images/logos/embedly-powered-small-light.png&quot; alt="Embedly Powered" /></a></span>

via Kompas

‘}”>

Stok Kantong Darah Masih KurangJAKARTA, KOMPAS.com – Indonesia butuh sekitar 4,5 juta kantong darah tiap tahunnya. Namun kenyataannya, sampai saat ini baru ada sekitar 2,1 juta kantong darah yang terkumpul. Dari 2,1 juta kantong darah tersebut, sebagian besar (87 persen) berasal dari donor darah sukarela dan 13 persen dari donor darah pengganti.

Embedly Powered

via Kompas

Saat saya menghadari rapat di PMI cabang Bantul beberapa hari yang lalu, saya menyadari satu hal. Tidak sulit sebenarnya menurunkan harga produksi sekantong darah, hanya saja ada kesulitan kunci yang tidak bisa dipecahkan oleh pemerintah maupun PMI sendiri sebagai organisasi kemanusiaan.

Sebagaimana perhitungan dalam produksi sebuah pabrik, jika semakin besar suatu produksi (bersifat masal), maka biaya produksi per item akan bisa ditekan. Tapi jika produksinya sedikit, maka biaya produksi per item akan menjadi relatif lebih tinggi.

Maka harga sekantong darah masih bisa diturunkan dengan memperbanyak produksinya, apalagi saat ini produksi di negara kita masih jauh dari memenuhi kebutuhan. Tapi jika solusinya sederhana dengan menambah produksi, kenapa PMI di daerah tidak bisa memenuhinya? Jawaban itu sederhana, karena produksi sangat tergantung pada jumlah pendonor yang aktif, dan seseorang tidak dapat menjadi pendonor darah secara paksaan.

PMI cabang Bantul misalnya menyampaikan bahwa produksi mereka tidak sampai sekitar 1.000 unit kantong darah setiap bulannya. Padahal untuk mencapai 1.000 unit kantong darah, biasanya jumlah pendonor memang di atas seribu orang. Bisakah sebuah Kabupaten seperti Bantul menghasilkan sekitar 2.000 orang pendonor setiap bulannya, sehingga bisa meningkatkan produksinya? Yang bermakna dalam siklus 3 bulanan donor, setidaknya Bantul (kembali sebagai contoh) memerlukan 6.000 orang pendonor tetap? Secara teori, BPS 2012, menyebutkan setidaknya Bantul memiliki hampir 300.000 ribu jiwa penduduk usia 20-40 tahun, yang biasanya cukup banyak mampu mendonorkan darah mereka. Berarti dari 50 orang yang ada, Bantul memerlukan 1 orang sebagai donor setiap 3 bulannya untuk menjadikan produksi satu unit kantong darah menjadi lebih ringan biayanya. Bukankah ini jika “ditargetkan” semestinya bisa terwujud?

Tapi itu kembali, hitungan hitam di atas putih, cuma corat-coretan. Donor darah tidak bisa ditargetkan, tidak bisa dipaksakan, karena ini adalah sebuah jalan kemanusiaan. Bagaimana kenyataannya saat ini, saya persilakan Anda menanyakan langsung ke PMI terdekat di lokasi Anda.

Jadi bagaimana kita membantu agar biaya yang dikeluarkan pasien untuk satu unit kantong darah bisa lebih murah?  Maka jawaban itu kembali pada Anda sendiri, karena Andalah penentunya; bukan dengan cara menggerutu, bukan dengan cara berdemo, tapi dengan wujud nyata kemanusiaan Anda – donorkan darah Anda ketika Anda bisa untuk itu, ajaklah komunitas, sahabat, dan keluarga Anda untuk donor darah ketika mereka bisa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s