Catatan Hari Air Sedunia 2014

Seberapa banyak dari yang kita yang tahu bahwa kemarin adalah World Water Day 2014? Saya melihat sejumlah pengumuman telah dirilis mengenai peringatannya di pelbagai negara, namun tetap saja saya hendak menambahkan sejumlah catatan kecil ke dalamnya. Karena air sebagai salah satu sumber daya alam menjadi perhatian saya sejak lama, mungkin merupakan salah satu alasan saya menjalin kerja sama bersama NGO seperti GreenPeace.

Mari saya mulai opini kecil ini dari masa lalu saya. Mungkin kesalahan besar kita, terutama di negeri ini adalah ketika pendidikan tidak melihat jauh ke dapan. Saya masih ingat, baik di bangku sekolah dasar ataupun lanjutan ketika mendapatkan pelajaran ilmu pengetahuan alam, kami para siswa selalu dijejalkan sebuah sudut pandang di mana tanah, air dan udara menjadi sumber daya alam yang tidak terbatas – karena ada di mana-mana; sedangkan batu bara, minyak bumi dan lain-lainnya adalah sumber-sumber yang terbatas karena kandungannya di perut bumi tidak-lah banyak.

Air, misalnya, yang saya cermati saat ini, bukan lagi sumber daya alam yang tak terbatas, bahkan ketika air merupakan sumber daya alam yang dapat diperbarui. Ketika para siswa mendapatkan paradigma air adalah sumber daya yang dapat terbarui dan jumlahnya tidak terbatas, mereka cenderung berpotensi tumbuh menjadi karakter yang tidak bijak dalam memanfaatkan sumber daya air. Sebuah paradigma yang begitu berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia dan alam kita.

Pada hari air sedunia kali ini, saya mencoba merenungkan kembali bahwa kebiasaan yang berbahaya inipun tidak sepenuhnya hilang dari diri saya. Kadang kita dengan mudah memanfaatkan banyak air “tanpa” disertai dengan upaya untuk menghematnya, apalagi upaya untuk “meremajakannya”. Sehingga meskipun saya menggunakan air seperlunya, namun saya tidak sedang mengupayakan agar air yang saya gunakan bisa kembali bermanfaat bagi lingkungan saya.

World Water Day 2014: HomeTo help raise awareness and celebrate World Water Day, we held a Facebook Photo Competition from January 15th to February 28th 2014 asking World Water Day fans to submit a photo that best reflected th …

<span class="embedly-powered" style="float:right;display:block"><a target="_blank" href="http://embed.ly/code?url=http%3A%2F%2Fwww.unwater.org%2Fworldwaterday&quot; title="Powered by Embedly"><img src="http://static.embed.ly/images/logos/embedly-powered-small-light.png&quot; alt="Embedly Powered" /></a></span>

‘}”>

World Water Day 2014: HomeTo help raise awareness and celebrate World Water Day, we held a Facebook Photo Competition from January 15th to February 28th 2014 asking World Water Day fans to submit a photo that best reflected th …

Embedly Powered

Banyak orang tidak sadar mereka tengah menghabiskan sumber daya alam yang menjaga keseimbangan ekosistem kita. Banyak orang yang tidak sadar, bahwa tanpa perhitungan yang matang kita tengah menuju pada krisis air bersih. Sumber daya energi dan air bersih kita sedang berada dalam tekanan, dan sebentar lagi mungkin akan merasakan batas kemampuan mereka, apalagi dengan pertumbuhan penduduk yang semakin banyak.

Ada sebuah pemikiran sederhana yang sebenarnya sudah bergulir sejak lama, sedemikian hingga mereka yang menggunakan pemikiran ini menjadi lebih peka terhadap krisis air bersih yang kita alami. The Water Food Energy Nexus adalah pemikiran sederhana itu, di mana kita meletakkan sumber daya air, pangan dan energi menjadi sebuah keseimbangan.

Ketika kita berbicara tentang air, maka air tidak hanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari kita di rumah tangga; namun juga pada dunia industri, termasuk di dalamnya adalah industri pangan dan energi. Begitu banyak air diperlukan untuk menghasilkan bahan pangan setiap tahunnya, dan begitu banyak air diperlukan untuk menghasilkan energi setiap tahunnya. Di mana jumlah air yang sama harus dibagi pada manusia dan ekosistem di permukaan darat untuk mendapatkan air bersih yang setara.

Anda perlu air bersih untuk mengirigasi persawahan, dan di kala musim kering datang maka kadang air bawah tanah atau sumur artesis menjadi bulan-bulanan; di mana sering kali dunia pertanian dan industri lainnya menggunakan air tanah jauh lebih banyak daripada kemampuan alam mengembalikan cadangan air tanah itu sendiri.

Di sisi lain, berkurangnya lahan hijau berarti berkurangnya cadangan air bersih. Pertambahan penduduk dan perluan pemukiman juga bermakna semakin banyaknya pembagi dari air bersih yang menjadi pembilangnya. Belum lagi masyarakat kita yang tidak hanya memanfaatkan air bersih, namun juga sering merusak atau mencemari sumber atau badan air yang kita miliki; rasanya sulit mencari sungai yang tidak tercemar ketika melewati wilayah perkotaan di Indonesia, berapa industri dan rumah tangga yang sudah menerapkan IPAL yang terstandar dengan baik?

Hanya saja, kadang kita memang tidak memiliki banyak pilihan; ketidaktahuan kita, ketidakpedulian kita, dan keterhimpitan kita menjadikan sebuah kapas yang terhempas ke atas sekam yang menyala.

Saya tidak berani membayangkan, kira-kira, apa jadinya sumber air bersih kita dalam beberapa dasawarsa ke depan. Indonesia masih beruntung, karena kita berada di katulistiwa dengan hutan hujan tropis dan wilayah kepulauan yang menyimpan banyak mata air alami; walau tidak jarang tertimpa bencana kekeringan. Tapi apakah akan tetap sama pada tahun-tahun mendatang?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.