Sekilas tentang Malaria

Tanggal 25 April biasanya diperingati sebagai Hari Malaria Sedunia, tahun ini WHO membagikan sejumlah publikasi guna meningkatkan kesadaran mengenai malaria di pelbagai belahan dunia, terutama di negara-negara yang masih memiliki kawasan endemis malaria. Oleh karena malaria adalah penyakit yang mengancam jiwa, dan masih terdapat sejumlah wilayah di Indonesia yang menjadi wilayah endemis malaria, maka tidak ada salahnya jika kita saling belajar sedikit mengenai malaria secara global.

Video di atas adalah sedikit ulasan secara dasar mengenai malaria, bagaimana terjadinya, bagaimana penularannya dan bagaimana pencegahan serta pengobatannya. Video tersebut memang dalam bahasa Inggris, tapi bukankah kita sudah belajar bahasa Inggris sejak sekolah? Jadi tidak ada alasan tidak bisa belajar memahami isi informasi dalam video tersebut.

Beberapa hal mendasar yang digarisbawahi oleh WHO sehingga kita bisa memahami malaria dengan lebih baik adalah:

  • Malaria adalah penyakit yang mengancam jiwa yang disebabkan oleh parasit yang ditularkan pada manusia melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi.
  • Pada tahun 2012, diperkirakan malaria menyebabkan sebanyak 627.000 kematian, kebanyakan pada anak-anak di Afrika (sehingga wilayah Afrika menjadi fokus global penanggulangan malaria).
  • Malaria bisa dicegah dan disembuhkan.
  • Meningkatkan pencegahan malaria secara dramatis dapat mengurangi beban multidimensi yang diakibatkan oleh malaria di banyak tempat.
  • Pelancong yang tidak memiliki kebebalan tubuh yang berasal dari wilayah bebas malaria sangat rentan terhadap penyakit ini jika mereka terinfeksi.

Malaria disebabkan oleh parasit yang dikenal dengan keluarga Plasmodium, dan disebarkan melalui vektor nyamuk Anopheles. Setidaknya ada empat spesies parasit yang menyebabkan malaria pada manusia, di antaranya adalah:

  • Plasmodium falciparum
  • Plasmodium vivax
  • Plasmodium malariae
  • Plasmodium ovale.

Vektor anopheles juga terdiri dari setidaknya 20 spesies yang memiliki karakteristik yang berbeda, termasuk kebiasaan yang berbeda. Misalnya nyamuk anopheles di Afrika memiliki umur yang cukup panjang, dan lebih suka menggigit manusia dibandingkan hewan, sehingga sekitar 90% kematian global akibat malaria terjadi di Afrika.

Gejala utamanya adalah sakit “meriang” yang akut, di mana penderita biasanya mengigil karena demam yang dideritanya. Gejala biasanya muncul seminggu atau lebih pasca infeksi dari gigitan nyamuk. Gejala awal umumnya berupa demam, nyeri kepala, menggigil dan muntah yang bisa jadi ringan, sedemikian hingga sulit dikenali sebagai malaria. Jika tidak diterapi dalam 24 jam pertama, malaria P. falciparum dapat berkembang menjadi sakit yang parah dan sering mengakibatkan kematian.

Mereka yang tinggal di daerah endemis biasanya akan paling berisiko terinfeksi malaria, dan di wilayah ini anak-anak yang belum memiliki imunitas terhadap malaria menjadi berisiko lebih tinggi mengalami bentuk sakit yang parah. Sedangkan jika ibu hamil yang belum memiliki imunitas terkena malaria, bisa menyebabkan keguguran atau kematian ibu. Demikian juga mereka yang menderita HIV/AIDS. Pelancong internasional yang berasal dari wilayah non-endemis dan masuk ke dalam wilayah endemis, atau para imigran yang pindah dari wilayah non-endemis ke wilayah endemis. Gabungan beberapa faktor di atas juga meningkatkan risiko memunculkan kondisi malaria yang parah jika terinfeksi.

WHO merekomendasikan bahwa setiap kecurigaan kasus malaria harus ditegakkan diagnosisnya dengan menggunakan pemeriksaan mikroskopi atau dengan tes diagnostik cepat (RDT). Dokter atau petugas kesehatan tidak direkomendasikan memulai terapi hanya dengan berdasarkan gejala semata tanpa menegakkan diagnosis dengan cara tersebut, terkecuali jika diagnosis parasitologi tidak dimungkinkan di wilayahnya.

Terapi, terutama pada kasus malaria P. falciparum paling baik menggunakan terapi kombinasi berbasis artemisinin (ACT). Sedangkan untuk detil rekomendasi lainnya, bisa merujuk pada Guidlines for the treatment of malaria, edisi kedua (saat ini).

Pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan, ada sejumlah prinsip pencegahan yang bisa diterapkan:

  1. Menggunakan kelambu saat tidur; jika daerah tersebut banyak kasus malaria (endemis), maka kelambu dengan insektisida untuk nyamuk (insecticide-treated mosquito nets/ITNs) adalah pilihan yang baik, dan paling baik diantaranya adalah Long-lasting insecticidal nets (LLINs).
  2. Insektisida seperti DDT dapat disemprotkan pada dinding rumah-rumah warga yang biasanya menjadi “target operasi” si nyamuk penyebar malaria. Cara ini cukup efektif mengurangi transmisi malaria, dan bisa bertahan sekitar 3-6 bulan untuk sekali penyemprotan.
  3. Bagi mereka yang akan bepergian atau memasuki atau bahkan menetap di wilayah yang endemis malaria bisa menggunakan obat-obatan antimalaria sebagai profilaksis (pencegahan) terhadap dampak buruk penyakit malaria.

Memang saat ini ada kekhawatiran mengenai kekebalan malaria terhadap obat antimalaria ataupun kekebalan vektor terhadap insektisida. Sehingga ke depannya dunia mungkin akan lebih ditantang mencari solusi yang menyeluruh terhadap pencegahan dan pengobatan malaria.

Indonesia masih memiliki kasus malaria tentunya, dan mungkin kita akan bermimpi mengikuti jejak-jejak negara yang telah (disertifikasi) membebaskan dirinya dari malaria, seperti Uni Emirat Arab (2007), Moroko (2010), Turkmenistan (2010), dan Armenia (2011).

Kita juga sedang menunggu hasil final dari vaksin malaria yang sedang berada pada tahap uji coba klinis. Hasilnya mungkin akan muncul pada akhir tahun ini, dan apakah vaksin ini dapat ditambahkan dalam alat kontrol malaria yang telah ada, jawabannya diharapkan tersedia setidaknya tahun depan. Untuk saat ini, Anda dapat membantu memerangi malaria di wilayah Anda dengan meningkatkan kesadaran akan malaria. Caranya? Silakan gali kreativitas Anda.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.