Sekilas Tentang Campak

Campak dikenal dengan banyak nama lain seperti Rubeola (ingat, bukan Rubella), Morbilli, beberapa daerah mungkin menyebutnya sebagai gabakan atau kerumut, sementara dalam artikel-artikel berbahasa Inggris akan disebut sebagai Measles. Penyakit ini sudah lama ada di masyarakat kita, namun belakangan ini di tempat saya mulai mewabah lagi.

Sebenarnya kita memiliki cara pencegahan penyakit ini melalui vaksinasi MMR, atau vaksin measles yang tunggal – walau adanya vaksin tunggal ini tidak berlaku umum di Indonesia. Beberapa wilayah mungkin belum memiliki cakupan imunisasi yang lengkap, atau belum semua anak mendapatkan imunisasi. Sehingga jika Anda menemukan outbreak gondong/beguk/parotitis, maka kemungkinan outbreak berikutnya adalah campak dan juga mungkin saja rubella, atau sebaliknya dalam pengalaman saya.

Campak
Karakteristik Campak. Sumber: Blog Lear Zoology.

Campak memang merupakan self-limited disease, yang bermakna dapat sembuh sendirinya walau tanpa obat. Meskipun demikian, campak hingga kini tetap menjadi salah satu penyakit penyebab kematian pada anak paling tinggi di dunia. Tampaknya tidak semua orang tua berminat memilih perlindungan melalui vaksinasi bagi anak mereka, apalagi terkait isu bahwa vaksinasi MMR dapat menyebabkan autisme.

Pada tahun 2012, WHO mencatat setiap jam ada 14 kematian akibat campak, 330 kematian per hari, dan dalam setahun di seluruh dunia ada 122.000 kematian. Walau pun jumlah ini telah menurun sekitar 78% sejak tahun 2000 oleh karena intervensi vaksinasi untuk campak.

Campak memiliki daya penularan yang tinggi, sehingga tidak mengherankan satu keluarga dapat terserang campak dalam jangka waktu yang bersamaan. Risiko biasanya lebih mudah terserang pada anak-anak yang belum mendapatkan vaksinasi, atau orang dewasa yang belum mendapatkan vaksinasi. Anak-anak yang malnutrisi juga rentan, termasuk yang rendah asupan vitamin A, mungkin juga pada anak yang tidak mau makan sayur-mayur.

Gejala campak pada awalnya memang tidak khas, muncul setelah masa inkubasi sekitar satu minggu. Dimulai dengan demam tinggi adalah gejala paling umum, pilek, batuk, mata merah dan berair serta munculnya bintik keputihan di bagian dalam pipi merupakan gejala dan tanda awal. Setelah beberapa hari, barulah ruam/bercak kemerahan bermunculan di seluruh badan terutama awalnya pada wajah dan leher, lalu dalam beberapa hari menyebar ke badan serta tangan dan kaki.

Komplikasi dapat terjadi, terutama pada mereka yang memiliki daya tahan rendah. Misalnya dehidrasi karena diakibatkan oleh diare yang berlebihan. Kebutaan, ensefalitis, infeksi telinga, hingga infeksi pernapasa yang parah seperti pneumonia adalah komplikasi yang cukup berat. Jika ibu hamil terkena infeksi campak, maka ada risiko keguguran dan lahir muda (preterm).

Tulisan Dokter Cakmoki di atas bisa menjadi contoh yang lebih detail tentang campak dan gejalanya.

Jika Anda terkena campak, atau anggota keluarga terkena campak, apa yang harus dilakukan?

Segeralah memeriksakan diri ke dokter, paling baik memeriksakan diri ke Puskesmas dalam pengalaman saya. Namun jika ada komplikasi yang berat seperti diare yang parah, segera bawa ke rumah sakit, penderita mungkin memerlukan rawat inap atau rawat intensif tergantung dengan kondisinya.

Dokter bisa melakukan penanganan awal sesuai dengan Panduan Manajemen Morbili yang ada di masing-masing wilayah kerja mereka. Penderita mungkin diberikan sejumlah obat, terutama suplemen vitamin A dosis tinggi. Antipiretik dan antibiotik disesuaikan sesuai dengan kebutuhan dan komplikasi yang ada.

Jika diputuskan untuk rawat jalan, maka jangan lupa penderita selalu mengenakan masker. Hal ini sudah selayaknya menjadi kebudayaan di masyarakat, setiap orang yang menderita sakit flu-like-syndrome – penyakit yang serupa flu, maka diharapkan mengenakan masker sehingga tidak menulari lingkungan, dan tidak bertambah buruk kondisinya oleh kuman-kuman lain di sekitar lingkungannya. Lalu jangan biarkan penderita mengalami dehidrasi, berikan minum yang cukup banyak untuk menggantikan kehilangan cairan tubuh.

Dokter atau petugas kesehatan mungkin akan mengambil sampel darah penderita untuk dikirimkan ke balai laboratorium kesehatan/campak nasional, atau laboratorium virologi polio dan campak untuk dilakukan penelitian dan pemetaan demi mengembangkan strategi menekan angka kejadian dan wabah campak secara nasional. Kami dari bidang kesehatan sangat berharap peran serta masyarakat dalam hal ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s