PNS Mesti Hidup Sederhana

Ada wacana menarik di negeri ini, yang mengatakan PNS – pegawai negeri sipil mesti hidup sederhana. Bahkan sampai tidak mengadakan jamuan dengan menu impor atau melebihi tamu dalam jumlah tertentu. Wacana ini menggelitik, antara ya dan tidak, antara setuju dan ragu.

Hidup sederhana memang sesuatu yang baik, hidup tidak berlebihan cukup apa adanya saja. Tapi di negara dengan kesenjangan sosial dan ekonomi semakin meruncing, pola hidup sederhana adalah jembatan yang baik menurut hemat saya, tapi entah kenapa rasanya sulit diwujudkan ketika kondisi lain tidak mendukung.

Tentu saja ini tidak bermakna hidup miskin dan melarat. Justru mereka yang hidup sederhana, dapat memberikan kelebihannya kepada mereka yang hidup tidak mampu, yang sulit memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.

Famine Memorial, Dublin, Ireland

Kesulitan yang mungkin dialami banyak orang adalah tidak ada sebuah patokan “nyata” hidup sederhana itu seperti apa. Di Indonesia, barang kebutuhan pokok dan barang mewah itu beda tipis. Mobil dan motor bisa diangsur dengan murah meriah, bahan bakar masih disubsidi, angkutan umum sebagian besar tidak nyaman – lalu orang akan lebih suka pakai kendaraan pribadi, dan tidak merasa hidup mewah, karena itu yang cukup layak mereka rasakan.

Di Indonesia, rokok itu murah, bahkan bisa sepersepuluh lebih murah – bahkan mungkin lebih murah lagi, dibandingkan harga rokok di negara maju seperti Amerika; orang bisa menghabiskan cukup banyak dari pendapatannya untuk merokok, tanpa merasa itu hidup yang berlebihan.

Di Indonesia juga, pakai barang bermerek terkenal – apalagi impor adalah prestise tersendiri, dan itu bagi sebagian “pelakunya” mungkin adalah kewajaran, bukan kemewahan, apalagi jika produk lokal juga mahal namun tidak memberikan kepuasaan yang sama dengan merek impor ternama.

Maka dari itu, sebenarnya kita masih berada di sebagian besar wilayah yang abu-abu antara mendefinisikan kemewahan, kewajaran, ataupun kesederhanaan. Semuanya itu sangatlah subjektif, dan tidak bisa dipaksakan.

Jika kesederhaan mesti dituangkan ke dalam peraturan bagi para abdi negara, maka di sana mungkin tidak ada kesadaran, yang ada justru sebuah pengekangan yang tidak bermakna. Saya melihat banyak pegawai negeri sipil, dan mereka sebagian besar memang tidak sanggup untuk hidup mewah. Mungkin yang bisa sedikit bermewah-mewahan adalah yang punya jabatan dengan gaji dan tunjangan besar, atau mereka yang memiliki usaha lain dengan berwirasusaha dan sukses, atau mungkin para koruptor?

Kemewahan mungkin sebaiknya tidak diharamkan bagi satu atau dua golongan saja. Ajaknya seluruh masyarakat guna hidup sederhana, dan berikanlah jalan ke arah itu.

Iklan

2 thoughts on “PNS Mesti Hidup Sederhana

  1. memang kita sudah tidak lagi ada patokan mana sandang mana pangan mana papan …. seakan sudah tidak ada lagi mana yg utama. ini di komplek saya di blok rumah kecil tidak memiliki garasi kok punya mobilnya mobilio LOL …. hampir semua rumah! malahan ada yg masih ngontrak belom menetap kok lebih memilih mobil gitu loh? bukannya lebih baik menyicil rumah? … mobil baru seakan “terbenkalai” saja di depan jalan (yang juga bikin sumpek jalan kecil gegara parkir sembarangan …)

    Suka

    1. Prioritas orang memang berubah Mas. Mau bagaimana lagi. Saya sih utamakan pangan, sandang dan papan… habis itu Internet kencang ????
      23 Des 2014 10.58, “Disqus” menulis:

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s