Maka Menjelma Kartini

Sebagai pembuka, maka saya sedikit ceritakan bagaimana semalam saya berbincang dengan penjual sate keliling yang singgah di perumahan kami. Memang ini pertama kalinya kami membeli sate keliling, mungkin karena mendung tebal mengalahkan niat kami mencari bahan masakan atau menu siap saji di luar sana.

Si penjual sate ini tampak masih belia, mungkin belum ada menginjak usia 20 tahun, jika pun iya, yakin tidak mencapai tiga windu. Dia cekatan dengan pesanan kami, di atas baki pembakaran yang ditempel di sebuah sepeda motor sekitar sewindu, dia tampak kaya pengalaman. Hanya saja karena tampaknya pemuda ini tidak begitu fasih berbahasa Jawa, maka saya menduga dia tidak berasal dari daerah sekitar.

Saya pun membuka obrolan ringan ala pembeli dan penjual. Ternyata dia berasal dari Sumenep, Madura. Setelah lulus sekolah menengah pertama, dia ikut “saudara” ke sini dan mulai berjualan sate keliling. Setelah panjang kali lebar, saya tahu bahwa pendapatannya bisa dikatakan melebihi upah minimum regional yang berlaku, dan itu sangat berkecukupan bagi seorang lulusan pendidikan dasar sembilan tahun yang masih lajang dengan tinggal di “rumah sendiri”. Bahkan pendapatannya bisa jadi setara dengan seorang lulusan S1 + profesional kesehatan + pemegang jabatan struktural di tempat saya yang notabene sudah bekerja bertahun-tahun menjadi staf senior.

Saya tidak merendahkan pekerjaan apapun, karena di luar sana ada banyak pekerjaan yang diberi label sosial sebagai pekerjaan “rendah” atau “kotor” memiliki penghasilan yang jauh lebih besar daripada saya sendiri saat ini.

Tapi apa yang bisa didapatkan pemuda ini membuat saya berpikir kembali sejenak, dan menimang apakah karena dia seorang pemuda, dia seperti tidak punya banyak beban menikung ke sana dan ke sini untuk mencari penghidupannya. Jika saya melihat kaum pemudi, terutama di sekitar lingkungan saya, sangat jarang yang berwirausaha. Jika pendidikan mereka tidak mencukupi, mereka mungkin akan menjadi penjaga toko atau buruh pabrik, atau pramusaji di rumah makan jika mereka bisa memperoleh pendidikan yang lebih baik, mereka mungkin berada di tempat sama dengan posisi yang lebih baik dan penghasilan yang lebih baik.

Tapi penghasilan yang baik tidak berarti banyak atau mencukupi. Dalam lingkungan kerja saya misalnya, seorang pemudi yang bisa sekolah hingga jenjang diploma perawat atau bidan, jika tidak membuka lapangan pekerjaan sendiri biasanya sulit maju. Mengandalkan bekerja di klinik atau rumah sakit kecil harus benar-benar mampu bertahan hidup. Pendapatan tidak bisa besar, mungkin hanya separuh dari si pemuda yang menjajakan sate keliling tadi. Dan ini mungkin menjadi suatu pemikiran yang berakar di masyarakat, bahwa perempuan itu cukup bekerja seperti ini, sekolah di bagian ini saja nanti kerja di sini; atau mungkin bukan cuma untuk kaum perempuan?

Di era Kartini, katanya perempuan itu sudah dipastikan akan dipingit (mungkin karena statusnya?) – Sebuah pemikiran bahwa perempuan sebaiknya begini dan begitu. Tapi Kartini adalah salah satu dari “orang yang beruntung”, mendapatkan pendidikan yang tidak banyak kaum perempuan dapatkan di masa itu. Dan dari sana Kartini mulai melihat kehidupannya, kehidupan masyarakatnya, dan mengkaji ulang tentang apa yang terjadi di sekitarnya, serta membuka wawasannya terhadap orang-orang di sekitarnya. Dia melihat sesuatu harus diubah untuk memperbaiki keadaan, maka ia memperjuangkan itu, dan ketika konon sedikit bantuan dari dalam, maka ia meminta bantuan dari luar.

Kartini, bagi saya, adalah simbol di mana sebuah bagian yang tidak pernah mendapatkan kesempatan, ketika diberikan kesempatan yang baik, maka ia akan mengembangkan dan memperjuangkan kesempatan yang baik itu, tidak hanya bagi dirinya, namun juga bagi yang lain. Meskipun hal itu bukanlah sesuatu yang bisa diterima oleh zaman dan dunia di tempatnya berpijak.

Maka di negeri ini ada banyak Kartini, dan sebagai tokoh mungkin ia tidak berusia lama, namun sebagai ideologi, ia akan berkembang menumbuhkan banyak kuntum kebaikan yang baru.

Dan kini, bahwa masyarakat berpikir perempuan seharusnya hanya seperti ini dan seperti itu – meskipun di saat kesetaraan gender sudah merebak, tapi yang namanya stigma “kodrat” itu belum bisa dilepaskan. Di daerah perkotaan di mana orang tua adalah generasi mereka yang terdidik mungkin telah memiliki pemikiran lain. Namun perkotaan adalah bagian yang kecil dari negara kita yang besar.

Misalnya saja, masih banyak remaja perempuan yang membludak ke sekolah-sekolah kesehatan, melanjutkan pendidikannya. Ketika saya tanyakan pada mereka, apa yang mereka harapkan ke depannya? Mereka hanya menjawab mencari kerja. Lalu saya tanya pada mereka, apakah mereka tahu dengan sekolah di tempat mereka sekarang, tempat mana saja yang bersedia menerima mereka? Mereka menggeleng-gelengkan kepalanya. Apakah ini bermakna mereka hanya ikut arus? Berharap mendapatkan sesuatu yang lebih baik, tapi tidak memiliki gambaran nyata tentang apa sesuatu yang lebih baik itu sendiri?

Kartini
Ilustrasi kontemporer Ibu Kita Kartini: Sumber Devian Art (by Mbleg25).

Anda tidak bisa menjadi Kartini ketika tidak mampu melihat secara nyata apa kebaikan yang Anda ingin wujudkan, dan bagaimana mewujudkan itu, bahkan setelah Anda berada di kesempatan yang tepat, di jalan yang benar.

Walau demikian, Kartini tidak keliru ketika (konon) menyatakan kaum perempuan berhak mendapat pendidikan yang seperti yang didapatkan kaum laki-laki. Buktinya banyak perempauan bisa membawa kebaikan bagi banyak orang, meskipun pendidikannya tidak tinggi. Pendidikan membawa sesuatu yang lebih substansial dibandingkan ilmu pengetahuan itu sendiri, dan itulah kemampuan untuk belajar, atau istilah kerennya metodologi pembelajaran. Anda bisa keluar dari sebuah instasi pendidikan, namun masih bisa belajar, hanya saja Anda tidak akan dapat sertifikasi dan tidak dapat pengakuan legal formal, tapi ilmu itu masih bisa kita dapatkan.

Dan kini kemampuan belajar itulah yang diperlukan untuk melahirkan para Kartini baru. Mungkin mereka belum saatnya untuk membuka mata, tapi suatu saat, di saat yang tepat, maka menjelma Kartini!

Selamat Hari Kartini 2015.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s