Cacar Api

Cacar api, atau disebut juga sebagai cacar ular, yang dalam bahasa medis disebut Herpes zoster (Inggris: Shingles) merupakan salah satu infeksi kulit yang cukup umum di Indonesia. Karakter khasnya adalah menyebabkan ruam yang nyeri, dan kadang panas, yang tampak segaris terdiri bintik-bintik berair yang dapat melepuh. Kadang nyeri menetap walaupun ruam sudah hilang yang merupakan keluhan umum pada manula. Mari sedikit bercerita mengenai cacar api atau herpes zoster ini.

Apa itu cacar api dan apakah penyakit yang umum?

Cacar api adalah infeksi pada saraf dan area kulit yang disuplai oleh saraf tersebut. Disebabkan oleh virus yang disebut virus varicella-zoster. Yang merupakan virus yang sama yang menyebabkan cacar air atau varicella. Mereka yang pernah terkena cacar air bisa terkena cacar api di kemudian hari. Dalam dunia kedokteran, cacar api disebut sebagai varicella zoster (Ini sangat berbeda dengan herpes genitalis yang disebabkan oleh virus yang disebut herpes simpleks).

Sekitar 1 dari 5 orang kemungkinan pernah mengalami cacar api dalam seumur hidupnya. Penyakit ini bisa muncul dalam usia berapapun, namun lebih umum pada mereka yang berusia di atas 50 tahun. Tidak umum terkena cacar api lebih dari sekali, tapi sekitar 1 dari 50 orang bisa terkena cacar api dua kali atau lebih dalam seumur hidup mereka.

Bagaimana cacar api bisa terjadi?

Kebanyakan orang terkena cacar air pada usia tertentu (biasanya ketika kanak-kanak). Virus tidak serta merta hilang setelah pulih dari cacar air. Sejumlah partikel virus menetap dalam kondisi tidak aktif di akar saraf di dekat sumsum tulang belakang (korda spinalis) Anda. Mereka tidak mencederai di sana, dan tidak memunculkan gejala apapun. Oleh karena alasan yang tidak selalu jelas, virus kembali memperbanyak diri lagi (reaktif). Ini bisa terjadi bertahun-tahun kemudian. Dan virus yang aktif kembali ini “berjalan” di sepanjang saraf hingga ke kulit dan memunculkan cacar api.

Pada kebanyakan kasus, kejadian cacar api muncul tanpa alasan yang jelas. Kadang pada periode stres atau sakit bisa memicunya. Sedikit penuaan sistem kekebalan tubuh bisa diperhitungan sebagai pemicu yang menyebabkannya lebih umum pada mereka yang lanjut usia. Bisa dikatakan bahwa saat muda kemungkinan daya tahan tubuh mencegah virus aktif kembali, dan pada manula – daya tahan tubuh yang tidak sebaik ketika saat belia bisa memicu virus aktif lagi.

Cacar api juga umum pada mereka yang memiliki kekebalan tubuh yang buruk (immunosupresi). Sebagai contoh, cacar api umum muncul pada orang muda yang menderita HIV/AIDS atau mereka yang kekebalan tubuhnya ditekan dengan terapi seperti steroid jangka panjang atau kemoterapi.

Apa saja gejala cacar api?

Virus biasanya hanya memengaruhi satu saraf saja, pada satu sisi tubuh. Gejala muncul pada area kulit yang dipasok (dipersarafi) oleh saraf tersebut. Gejala yang umum adalah nyeri dan ruam. Biasanya, satu atau dua saraf terdekat akan terpengaruhi.

Saraf-saraf yang paling umum terlibat adalah yang mempersarafi kulit pada dada atau perut. Wajah bagian atas (termasuk mata) juga merupakan daerah yang umum.

Nyeri dirasakan sebagai nyeri yang terbatas pada area tertentu. Bisa di bagian mana saja pada tubuh Anda, tergantung pada saraf yang dipengaruhi. Nyerinya bisa terasa ringan hingga parah. Anda bisa merasakan nyeri yang menetap, tumpul, panas, atau teramat perih. Sebagai tambahan, atau mungkin justru, Anda bisa merasakan nyeri yang tajam dan menusuk-nusuk yang datang dan pergi. Dan area kulit yang dipengaruhi biasanya memiliki nyeri tekan (nyeri bila ditekan).

Ruam biasanya muncul 2 – 3 hari setelah nyeri dimulai. Bintik/bercak kemerahan yang muncul segera berubah menjadi bercak melepuh yang gatal. Ruam tampak seperti cacar air, namun hanya muncul pada sepotong area kulit yang dipasok oleh saraf yang dipengaruhi. Bercak gelembung lepuhan baru bisa muncul hingga seminggu. Jaringan lunak di bawah dan sekitar ruam bisa membengkak sementara waktu karena peradangan yang disebabkan oleh virus. Lepuhan kemudian mengering, membentuk koreng/keropeng, dan perlahan hilang. Luka parut ringan dapat terbentuk di mana pernah ada lepuhan.

Cacar Api
Ilustrasi cacar api, kecenderungan kemunculan, dan perjalanan penyakitnya. Sumber gambar: patrickgarvin.com.

Satu episode cacar api biasanya menetap selama 2 – 4 minggu. Pada sejumlah kasus hanya ada ruam tanpa nyeri. Dan kadang/jarang, tidak ada ruam hanya nyeri saja.

Anda juga bisa merasa demam dan tidak enak badan selama beberapa hari.

Apakah cacar api menular?

Anda bisa tertular cacar air dari seseorang yang terkena cacar api jika Anda belum pernah kena cacar air sebelumnya. Namun kebanyakan orang dewasa dan remaja sudah pernah kena cacar air, sehingga mereka kebal. Anda tidak bisa tertular cacar api dari mereka yang terkena cacar api.

Ruam cacar api berpotensi menular hingga semua lepuhan (yang dalam bahasa kedokteran disebut vesikel) sudah menjadi keropeng dan kering. Juga jika lepuhan atau vesikel ini dibalut (misalnya dengan perban), maka kemungkinan virus ditularkan ke orang lain akan kecil. Ini karena virus ditularkan melalui kontak langsung dengan kulit yang terdapat gelembung lepuhan ini. Sehingga disarankan, mereka yang terkena cacar api tidak beraktivitas atau bekerja dulu guna menghindari penularan.

Namun, sebagai aturan umum, ibu hamil yang belum pernah terkena cacar air harus menghindari penderita cacar api (kita akan bahas ini lain kali). Juga, jika Andan memiliki sistem kekebalan tubuh yang buruk, Anda juga harus menghindari kontak dengan penderita cacar api. Hal ini merupakan aturan umum demi keselamatan, oleh karena kontak langsung dengan ruam bisa menularkan virus.

Juga, agar tetap aman dan tidak berisiko menularkan virus ke orang lain yang belum pernah terkena cacar air; maka jika menderita cacar api Anda sebaiknya tidak berbagi handuk, pergi ke kolam renang, atau berolahraga yang bisa menimbulkan kontak badan (misal bela diri) ketika Anda masih memiliki ruam yang belum kering.

Apakah cacar api memiliki komplikasi?

Kebanyakan orang tidak memiliki komplikasi apapun. Beberapa mungkin akan muncul komplikasi sebagai berikut:

Neuralgia Pascaherpetika

Di dunia kedokteran sering disingkat sebagai PHN, merupakan komplikasi yang paling umum. Merupakan kondisi di mana nyeri saraf (neuralgia) menetap ketika ruam sudah hilang. Masalah ini tidak umum bagi mereka yang berusia di bawah 50 tahun. Namun, hingga 1 di antara 4 orang yang menderita cacar api, di atas usia 60 tahun, memiliki nyeri yang bisa menetap hingga lebih dari sebulan. Semakin tua usia Anda ketika terkena cacar api, semakin besar kemungkinan munculnya komplikasi ini. Nyeri biasanya berkurang secara perlahan-lahan. Namun, pada beberapa orang bisa menetap selama berbulan-bulan, bahkan lebih lama lagi pada sedikit kasus. Nyeri bisa dikurangi dengan terapi.

Infeksi kulit

Kadang ruam bisa terinfeksi oleh kuman (bakteri). Sekitar kulit menjadi merah dan nyeri bila ditekan/disentuh. Jika ini terjadi, maka Anda disarankan berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan terapi antibiotik.

Masalah-masalah mata

Cacar api yang terjadi di mata bisa menyebabkan pembengkakan (peradangan) pada area depan mata. Pada kasus yang parah bisa menuju peradangan keseluruhan mata yang berpotensi menyebabkan kehilangan pandangan.

Lemas

Kadang saraf yang dipengaruhi adalah saraf motorik (yang mengontrol gerak otot) dan bukan saraf sensorik (yang menerima rangsang sentuh) sebagaimana biasanya. Ini bisa menyebabkan otot yang dipersarafi oleh saraf tersebut menjadi lemas/lemah (palsi).

Beberapa komplikasi yang langka

Contoh-contohnya adalah infeksi otak oleh virus varicella-zoster, atau penyebaran virus ke seluruh tubuh. Komplikasi ini serius (mengancam) namun langka. Mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang buruk memiliki risiko lebih besar mengalami komplikasi yang langka dibandingkan mereka yang daya tahan tubuhnya baik.

Apa terapi/pengobatan untuk cacar api?

Pengobatan untuk cacar api memiliki dua tujuan utama:

  • Mengurangi nyeri dan ketidaknyamanan selama episode infeksi cacar api.
  • Mencegah, sebaik mungkin, munculnya PHN.

Tata laksana umum

Disarankan menggunakan pakaian berbahan katun yang tidak ketat (longgar lebih baik) guna mengurangi iritasi pada permukaan kulit yang terkena cacar api. Nyeri bisa dikurangi dengan mendinginkan area yang terkena dengan es (dalam bentuk kompres, misal di dalam kantong plastik), lap basah, atau mandi air dingin. Balut yang tidak melekat yang digunakan menutupi ruam ketika melepuh bisa mengurangi nyeri akibat bergesekan dengan pakaian. Krim sederhana bisa membantu mengurangi gatal jika muncul.

Pereda nyeri

Untuk meredakan nyeri bisa menggunakan, sebagai contoh, paracetamol (atau yang diresepkan oleh dokter dengan kombinasi codeine), atau menggunakan pereda nyeri golongan anti-peradangan seperti ibuprofen – bisa mengurangi nyeri. Jika nyeri hebat, dokter mungkin akan meresepkan pereda nyeri yang lebih kuat seperti oxycodone dan tramadol.

Obat-obat antiviral

Beberapa obat antiviral termasuk aciclovir (acyclovir), famciclovir dan valaciclovir. Perlu diingat bahwa obat antiviral tidak membunuh virus, namun menghentikan virus dalam memperbanyak diri. Sehingga bisa membatasi keparahan gejala pada penderita cacar api. Juga diharapkan obat-obat antiviral bisa mengurangi munculnya komplikasi PHN walau mungkin sampai saat ini belum semua harapan itu bisa terwujud.

Obat antiviral paling bermanfaat jika mulai digunakan pada masa awal cacar api (dalam 72 jam setelah ruam muncul). Namun, pada beberapa kasus, dokter Anda mungkin masih menyarankan obat antiviral, bahkan jika ruam sudah lebih dari 72 jam munculnya – biasa disarankan pada manula dengan cacar api yang parah, atau jika memengaruhi mata.

Pemberian obat antiviral bukanlah terapi yang rutin untuk semua orang dengan cacar api. Sebagai contoh, dewasa muda dan anak-anak yang terkena cacar api pada area perut mereka lebih sering hanya memiliki gejala ringan dan sedikit risiko menjadi PHN. Oleh karena itu, dalam situasi ini, obat antiviral tidak perlu. Dokter Anda akan menyarankan jika memang Anda memerlukan obat antiviral.

Sebagai pedoman umum, kelompok orang-orang yang terkena cacar api berikut biasanya disarankan untuk minum obat antiviral:

  • Jika Anda berusia di atas 50 tahun. Semakin tua usia Anda, semakin besar risiko komplikasi cacar api atau komplikasi lain muncul, dan semakin mungkin Anda akan mendapatkan manfaat dari terapi.
  • Jika Anda berusia berapa pun, namun memiliki salah satu kondisi berikut:
    • Cacar api yang mengenai area mata atau telinga.
    • Daya tahan (imunitas) tubuh yang buruk.
    • Jika cacar api melibatkan bagian tubuh yang bukan badan (misalnya terkena pada tangan, lengan, leher, atau area genital/kemaluan).
    • Nyeri yang sedang atau parah.
    • Ruam yang sedang atau parah.

Jika diresepkan, umumnya terapi obat antiviral diminum selama sepekan (tujuh hari).

Obat-obat antidepresan dan antikejang

Jika nyeri yang muncul ketika terkena cacar air cukup parah, atau jika muncul PHN, Anda bisa disarankan untuk minum obat:

  • Salah satu obat antidepresan golongan trisiklik. Di sini antidepresan tidak ditujukan untuk mengobati depresi. Antidepresan golongan trisiklik seperti amitriptyline, imipramine, dan nortriptyline mengurangi neuralgia secara terpisah dengan “laku” mereka pada depresi. ATAU
  • Salah satu obat antikejang seperti gabapentin. Mereka juga mengurangi neuralgia secara terpisah dengan “laku” mereka mengontrol kejang.

Jika antidepresan atau antikejang (antikonvulsan) disarankan, Anda harus meminumnya secara teratur sesuai yang diresepkan. Bisa memerlukan sekitar dua minggu atau lebih agar menjadi efektif sepenuhnya untuk mengurangi nyeri. Sebagai tambahan terhadap mengurangi nyeri selama episode cacar api, mereka juga membantu mencegah PHN.

Pengobatan steroid

Steroid bisa membantu mengurangi pembengkakan (peradangan). Pemberian tablet steroid (prednisolone) jangka pendek bisa dipertimbangkan sebagai tambahan pengobatan antiviral. Ini bisa membantu mengurangi nyeri dan mempercepat penyembuhan ruam. Namun, sebagai catatan, penggunaan steroid pada cacar api masih merupakan hal yang kontroversial. Dokter Anda mungkin akan menyerankannya pada Anda. Steroid tidak mencegah PHN.

Bagaimana dengan yang punya kekebalan tubuh yang buruk?

Jika Anda memiliki daya tahan/kekebalan/imunitas tubuh yang buruk, dan kemudian terkena cacar api, segera berobat ke dokter. Anda biasanya akan diresepkan obat antiviral berapapun usia Anda, dan akan dipantau kemungkinan munculnya komplikasi. Mereka yang memiliki daya tahan tubuh yang buruk, termasuk:

  • Orang-orang yang mengonsumsi steroid dosis tinggi (ini bermakna orang dewasa yang minum prednisolone 40 mg per hari selama lebih dari seminggu dalam 3 bulan terakhir. Atau anak-anak yang minum steroid dalam 3 bulan terakhir, setara dengan prednisolone 2 mg/kg per hari setidaknya selama seminggu, atau 1 mg/kg per hari selama sebulan).
  • Orang-orang yang minum dosis rendah steroid dengan kombinasi obat-obat imunosupresan lainnya.
  • Orang-orang yang minum obat anti-arthritis yang bisa memengaruhi sumsum tulang.
  • Orang-orang yang sedang diterapi dengan kemoterapi atau radioterapi menyeluruh, atau mereka yang menjalani terapi ini dalam enam bulan terakhir.
  • Orang-orang yang pernah menjalani transplantasi organ dan sedang dalam terapi imunosupresan.
  • Orang-orang yang pernah menjalani transplantasi sumsum tulang belakang dan masih dalam terimunosupresi.
  • Orang-orang dengan gangguan sistem imun.
  • Orang-orang yang lemah sistem imunnya dengan infeksi HIV.

Dapatkah cacar api dicegah?

Terdapat vaksin yang bisa melawan virus varicella-zoster, dan di Amerika sudah digunakan rutin sejak 1996. Di Indonesia vaksin ini belum diberikan secara rutin untuk melindungi anak dari cacar air. Namun tersedia jika misalnya orang tua menginginkan anaknya untuk divaksinasi. Hanya saja, vaksin ini termasuk langka di Indonesia, tidak di semua kota tersedia.

Bagi manula, mungkin akan lebih mendapatkan manfaat jika menjalani vaksinasi dibandingkan anak-anak, karena manula umumnya lebih berisiko mengalami komplikasi jika terkena cacar air ataupun cacar api. Vaksin cukup aman bagi manula, dan biasanya disarankan bagi mereka yang mencapai usia 70 – 79 tahun, yang tidak ingin bermasalah dengan cacar api di usia senja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.