Film Song of the Sea

Come away, O human child!/To the waters and the wild/With a faery, hand in hand,/For the world’s more full of weeping than you can understand

Sajak karya William Butler Yeats juga terdengar dalam film animasi yang indah ini. Dan sudah lama saya tidak menyaksikan film animasi sebaik “Song of the Sea” ini, sebuah perpaduan antara cerita anak, mitologi dan dongeng rakyat yang dikemas begitu apiknya.

Dengan pendanaan sekitar 5,3 juta Euro, Song of the Sea adalah karya sastra yang dihidupkan dalam kelembutan nirnyata. Mereka tidak membuatnya tampak realistik, tapi seperti wayang yang bergerak gemulai di layar menghantarkan bait demi bait kisahnya.

Ketidaksengajaan menghadirkan efek realistis membuat menyaksikan film ini seperti asyiknya membuka buku-buku dongeng bergambar.

Saoirse is a child who is the last of the selkies, women in Irish and Scottish legends who transform from seals into people. She escapes from her grandmother’s home to journey to the sea and free fairy creatures trapped in the modern world.

Song of the Sea

Kisah Saoirse yang mencoba mengikuti “sesuatu” di dalam dirinya, dan kisah si kakak yang menemukan rahasia dari “sesuatu” itu, perjalanan mereka, misteri, dan kesederhanaan cerita adalah kekuatan yang ditopang dengan musik dan lagu latar yang merdu.

Between the here, Between the now
Between the North, Between the South

Between the West, Between the East
Between the time, Between the place

From the shell
The Song of the Sea
Neither quiet nor calm
Searching for love again,

Mo ghrá (My love)

Between the winds, Between the waves
Between the sands, Between the shores

From the shell
The Song of the Sea
Neither quiet nor calm
Searching for love again,

Between the stones, Between the storms
Between belief, Between the seas

Tá mé i dtiúin (I am in tune)

Saya tidak akan berkata banyak, ini masuk dalam daftar film animasi “wajib tonton”, dan mungkin hanya ada satu sebelum rilis film animasi Kahlil Gibran’s the Prophet.

Iklan

8 tanggapan untuk “Film Song of the Sea

        1. Well, tidak semua karya Ghibli saya suka, misalnya Grave of Butterflies dan Only Yesterday tidak begitu menarik (tidak buruk sih, hanya secara pribadi tidak menarik).

          Suka

        2. Grave of Butterflies malah yg bikin saya tertarik kepada studio ini. baru pertama kali nonton anime dengan tema yg jauuuhh dari apa yg pernah saya tonton.

          Suka

  1. Saya lihat trailernya. Iya, filmnya bagus. Animasinya sederhana, jadi ingat serial kartun jaman saya kecil dulu.

    Suka

    1. Iya Mas, kalau sudah nonton tidak akan menyesal 🙂 – kembali ke masa kecil.

      Sekarang anak-anak jarang dapat film animasi yang bagus di televisi, beda dengan generasi kita dulu.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s