Tata Laksana Malaria di Layanan Kesehatan Primer

Malaria merupakan suatu penyakit infeksi akut maupun kronik yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang menyerang eritrosit dan ditandai dengan ditemukannya bentuk aseksual di dalam darah, dengan gejala demam, menggigil, anemia, dan pembesaran limpa.

No ICPC II : A73 Malaria

No ICD X : B54 Malaria tidak spesifik

Tingkat kemampuan 4A

Pada anamnesis dapat ditemukan keluhan demam yang hilang – timbul, pada saat demam hilang disertai dengan menggigil, dapat disertai dengan nyeri kepala, nyeri otot dan persendian, nafsu makan menurun, sakit perut, mual muntah, dan diare.

Adapun faktor risiko yang perlu dipertimbangkan adalah:

  • Riwayat menderita malaria sebelumnya.
  • Tinggal di daerah endemik malaria.
  • Pernah berkunjung 1 – 4 minggu di daerah endemik malaria.
  • Riwayat mendapat transfusi darah.

Pada hasil pemeriksaan fisik akan dapat ditemukan tanda-tanda patognomonis berupa,

Pada periode demam:

  • Kulit terlihat menjadi merah, teraba panas, suhu tubuh dapat meningkat sampai di atas 40°>C dan kulit kering.
  • Dapat terlihat pucat.
  • Takikardia, dengan nadi teraba cepat.
  • <Takipnue, dengan napas yang cepat.

Pada periode dingin dan berkeringat:

  • Kulit teraba dingin dan berkeringat.
  • Nadi teraba cepat dan lemah.
  • Pada kondisi tertentu dapat muncul penurunan kesadaran.
Kepala Konjungtiva pucat (anemis), sklera ikterik, bibir pucat (sianosis), dan pada malaria serebral dapat ditemukan kaku kuduk.
Toraks Tampak takipnue.
Abdomen Teraba pembesaran hati dan limpa, dapat juga ditemukan asites.
Genitourinaria Urin dapat berwarna cokelat kehitaman, oligouria hingga anuria.
Ektremitas Jika teraba dingin, waspadai tanda syok.

 

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan:

  • Pemeriksaan hapusan darah tebal & tipis ditemukan parasit plasmodium, atau
  • Penggunaan Rapid Diagostic Test (RDT) untuk malaria.

Penegakan diagnosis klinis didasarkan melalui anamnesis (trias malaria: demam/panas – menggigil/meriang – berkeringat), pemeriksaan fisik, dan temuan adanya parasit plasmodium pada pemeriksaan mikroskopis hapusan darah tebal/tipis.

Malaria diklasifikasikan sebagai:

  1. Malaria falsiparum, ditemukan Plasmodium falsiparum
  2. Malaria vivaks, ditemukan Plasmodium vivax
  3. Malaria ovale, ditemukan Plasmodium ovale
  4. Malaria malariae, ditemukan Plasmodium malariae
  5. Malaria knowlesi, ditemukan Plasmodium knowlesi

Pertimbangkan juga sejumlah diagnosis banding untuk malaria seperti: demam dengue, demam tifoid, leptospirosis, dan infeksi virus akut lainnya.

Malaria
Siklus hidup malaria sebagai parasit. Sumber gambar: united-academics.org

 

Terapi pengobatan malaria disesuaikan dengan jenis malaria dan berat badan pasien.

Pengobatan untuk malaria falsiparum meliputi:

Lini pertama: menggunakan Fixed Dose Combination (FDC) yang terdiri dari dari Dihidroartemisinin (DHA) + Piperakuin (DHP), di mana setiap tablet mengandung DHA 40 mg dan DHP 320 mg.

  • 2 tablet (setiap 24 jam) satu kali pemberian.
  • Sedangkan untuk BB ≥ 60 kg, diberikan 4 tablet DHP (setiap 24 jam) selama 3 hari, disusul 3 tablet DHP (setiap 24 jam) satu kali pemberian atau untuk satu hari saja.

Untuk dosis tunggal

  • DHA = 2 – 4 mg / kgBB (dosis tunggal),
  • DHP = 16 – 32 mg/kgBB (dosis tunggal),
  • Primakuin = 0,75 mg/kgBB (dosis tunggal).

Ketika pengobatan malaria falsiparum tidak menunjukkan respons terhadap terapi/pengobatan dengan DHP. Maka pengobatan maju pada lini kedua:

Kina + Doksisiklin/Tetrasiklin + Primakuin.

  • Dosis kina = 10 mg/kgBB/kali (setiap 8 jam selama 7 hari)
  • Dosis doksisiklin = dewasa 3,5 mg/kgBB/hari, anak 8 – 14 tahun 2,2 mg/kgBB (setiap 12 jam selama 7 hari)
  • Dosis tetrasiklin = 4 – 5 mg/kgBB/kali (setiap 6 jam selama 7 hari)

 

Pengobatan malaria vivaks dan ovale meliputi:

Lini pertama: DHA + DHP @ 1 tablet setiap 24 jam selama 3 hari, Primakuin = 0,25 mg/kgBB/hari selama 14 hari.

Lini kedua (ketika lini pertama tidak memberi respons): Kina + Primakuin

  • Dosis kina = 10 mg/kgBB/kali (setiap 8 jam selama 7 hari)
  • Dosis primakuin = 0,25 mg/kgBB (setiap 24 jam selama 14 hari)

Pengobatan pada kondisi malaria vivaks yang relaps/kambuh:

  • Satu tahapan sesuai aturan pengobatan DHP yang sama tetapi dengan dosis primakuin yang ditingkat menjadi 0,5 mg/kgBB/hari.
  • Dugaan relaps pada Malaria Vivaks adalah apabila pemberian primakuin dosis 0,25 mg/kgBB/hari sudah diselesaikan (diminum tuntas) dalam 14 hari, dan penderita sakit kembali dengan temuan positif parasit dalam kurun waktu 2 minggu atau 3 bulan setelah pengobatan.

 

Pengobatan malaria malarie meliputi:

Diberikan DHP setiap 24 jam selama 3 hari dengan dosis yang sama seperti pada pengobatan malaria lainnya, dan tidak diberikan primakuin.

 

Pengobatan infeksi campuran antara malaria falsiparum dengan malaria vivaks/ovale meliputi:

Diberikan DHP setiap 24 jam selama 3 hari serta primakuin 0,25 mg/kgBB selama 14 hari.

 

Pada ibu hamil, pengobatan malaria disesuaikan dengan:

  • Trimester pertama diberikan kina tablet 10 mg/kgBB/dosis setiap 8 jam + Klindamisin 10 mg/kgBB selama 7 hari.
  • Trimester kedua dan ketiga diberikan DHP tablet selama 3 hari.
  • Pencegahan/profilaksis digunakan doksisiklin 1 kapsul 100 mg/24 jam diminum 2 hari sebelum menuju ke daerah endemis hingga 4 minggu setelah keluar/pulang dari daerah endemis.

 

Malaria memiliki sejumlah komplikasi yang layak diperhatikan:

  • Malaria serebral
  • Anemia berat
  • Gagal ginjal akut
  • Edema paru atau ARDS (acute respiratory distress syndrome)
  • Hipoglikemia
  • Rejatan (syok)
  • Perdarahan spontan dari saluran cerna atau temuan koagulopati intravaskuler.
  • Kejang berulang > 2 kali setiap 24 jam.
  • Asidemia atau asidosis
  • Makrokospik hemoglobinuria karena infeksi malaria akut<

Penderita dapat diberikan konseling dan edukasi, berupa:

  • Pada kasus malaria berat, pasien atau wakilnya yang bertanggung jawab atas pasien berhak menerima informasi mengenai prognosis penyakit.
  • Pencegahan malaria dapat dilakukan dengan:
    • Menghindari gigitan nyamuk dengan lambu atau obat pengusir serangga
    • Menghindari aktivitas di luar rumah pada malam hari
    • Mengobati pasie hingga sembuh, misalnya dengan pengawasan minum obat.

Kasus-kasus tertentu memerlukan penanganan pada fasilitas layanan kesehatan tingkat lanjut/rujukan. Adapun kriteria rujukan adalah:

  1. Malaria dengan komplikasi
  2. Malaria berat, namun pasien harus diberikan terlebih dahulu dosis awal artemisinin atau artesunat baik intramuskular ataupun intravena dengan dosis 3,2 mg/kgBB.

Prognosis secara umum adalah dubia ad bonam, namun dapat menjadi buruk jika derajat keparahan penyakit bertambah atau ditemukan dalam kondisi penyakit yang berat.

Sumber: PMK no. 5 Tahun 2014 tentang Panduan Praktik Klinis Dokter di Fasyankes Primer

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.