Film The Little Prince

Jika Anda pernah membaca novel ‘Le Petit Prince’ karya Antoine de Saint-Exupery, maka film ini akan membawa imajinasi kita ke dalam novel tersebut. Tentu saja film The Little Prince merupakan adaptasi dari novel yang sudah diterjemahkan ke dalam lebih dari 180 bahasa itu. Di samping kisahnya yang sederhana, saya menyukai kisahnya yang penuh inspirasi.

Sebagai penulis, kisah-kisah sederhana adalah sesuatu yang renyah dikunyah oleh semua golongan masyarakat dan mengena cita rasanya hingga ke relung sanubari. Mungkin itulah yang ditawarkan novel-novel sederhana seperti Le Petit Prince ini.

http://www.imdb.com/title/tt1754656/

Bayangkan jika Anda adalah seorang anak kecil yang hidup di antara dunia orang dewasa. Diajarkan untuk menjadi yang ‘terbaik’ di antara yang ‘terbaik’ – dengan rencana masa depan yang sudah ditentukan dan ditargetkan untuk dapat tercapai.

Anda akan tumbuh menjadi seorang dewasa yang sudah didesain oleh pendahulu-pendahulu Anda dalam sebuah rangkaian rutinitas yang tak pupus oleh waktu.

Film The Little Prince menunjukkan kisah ini, seorang gadis kecil yang diasuh oleh ibunya, karena sang ayah terlalu sibuk bekerja. Ditargetkan untuk masuk sekolah terbaik, dalam usaha terbaik. Tapi ia tidak bisa menjawab pertanyaan akan ‘dia ingin menjadi apa ketika tumbuh dewasa nanti?’

Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana, namun banyak orang yang tidak menyadarinya. Anak-anak ingin tumbuh besar menjadi orang hebat, dokter, pilot, tentara, insinyur, dan lain sebagainya. Dan itu adalah mimpi yang indah, sebelum mereka masuk ke dalam bangku sekolah dan dijejal oleh mata pelajaran dan kurikulum yang lebih padat daripada tanah liang lahat, belum ditambah tekanan harapan orang tua, dan ancaman akan bencana jika dia sampai gagal.

Mimpi itu pelan-pelan sirna di dalam pelbagai tekanan ini, dan tumbuh menjadi orang dewasa yang lupa melihat – bahwa hal yang paling berharga adalah hal yang tak kasat mata, hanya mata hati yang mampu menemukannya. Kita tumbuh menjadi orang dewasa yang mengejar target, namun kita lupa untuk hidup ‘seutuhnya’.

Ini adalah pesan yang berani sekaligus lugu yang tersirat dalam film The Little Prince.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s