LGBT – Sebuah Isu Sensitif

Belakangan ini banyak rekan saya yang membicarakan tentang LGBT. Yang di dunia Internasional semakin diterima sebagai bagian dari kesetaraan kemanusiaan, sementara di banyak belahan dunia lain masih dianggap sebagai sesuatu yang tabu dan melanggar nilai kemanusiaan sebagaimana digariskan oleh sejumlah agama. Sehingga menyentuh satu sisi, akan sangat sensitif bagi sisi lainnya.

LGBT secara luas banyak dianggap sebagai penyimpangan seksual, dan pendapat ini saya rasakan harus dikembalikan kepada masing-masing individu. Tergantung pada budaya yang ada di wilayah di mana seseorang tumbuh berkembang, jika budaya di sana menganggap LGBT adalah sesuatu yang normal, maka mungkin saja tidak dianggap penyimpangan seksual. Namun ketika budaya berbeda, maka orang akan dianggap sebagai ‘aib’ karena merupakan LGBT.

Saya sendiri merasa karena saya tidak memiliki kecenderungan sebagai bagian dari LGBT, maka saya tidak mungkin bisa menempatkan diri dalam posisi yang benar-benar mereka rasakan.

Anda yang bukan LGBT juga tidak mungkin merasakan apa yang dirasakan oleh LGBT, apakah itu tekanan yang mereka hadapi, dan harapan-harapan mereka akan kehidupan di sekitar mereka. Anak-anak yang menemukan diri mereka sebagai LGBT, akan tumbuh dalam rasa was-was karena siapa yang bisa mereka percayai ketika semua orang di sekitar mereka menganggap dirinya sebagai ‘keanehan’ yang tidak dikehendaki, bahkan mungkin rasa percaya pada orang tua mereka akan hilang.

Sementara di sisi lain, masyarakat semakin ketakutan akan isu LGBT ketika nilai tersebut dianggap ‘aib’. Masyarakat tidak ingin LGBT masuk ke dalam lingkungan mereka, dan ‘menulari’ kehidupan di sekitar mereka dengan ‘virus’ LGBT.

http://www.huffingtonpost.com/entry/lgbt-cambodia_us_5614ed2de4b0fad1591a0ced

Apakah kita tahu seberapa banyak orang yang bunuh diri tertekan oleh karena LGBT dibenci oleh masyarakat? Atau seberapa banyak penyakit menular menghantui kehidupan mereka karena akses ke layanan kesehatan termasuk konseling kesehatan bisa jadi merupakan hal yang menakutkan bagi mereka?

Saya rasa, masyarakat kita belum siap menghadapi isu LGBT, berharap LGBT tidak menular, namun tidak memiliki solusi nyata dalam mengatasinya. Menolak LGBT, namun tidak siap ketika orang terdekat mereka ternyata LGBT. Mengusir LGBT, namun tidak memberikan solusi bagi mereka untuk hidup sebagai manusia.

Namun apakah ini berarti saya membela keberadaan kaum LGBT?

Setiap manusia berhak atas kehidupannya sebagai manusia, apapun pilihannya. Setidaknya itulah pandangan saya. Semua memiliki hak, tidak ada yang bisa memaksakan. Seseorang yang merasa dirinya bukan LGBT tidak bisa memaksa orang LGBT untuk hidup sesuai dengan dirinya, tapi demikian juga seorang LGBT tidak bisa memaksa orang untuk menerima keberadaan mereka ketika orang itu tidak bisa – semisalnya karena kepercayaan dan iman yang mereka pilih.

Dalam hal dua sisi yang saling berseberangan, saya rasa adalah sebuah keajaiban jika kemanusiaan bisa menemukan tempat yang tepat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s