Secangkir Kopi di Pagi Hari

Anda mungkin melihat bahwa saya menyematkan ‘kopi’ pada bagian atas setiap halaman blog ini. Entah kenapa, mungkin sebenarnya adalah sebuah ‘kebetulan’ yang benar. Mengapa demikian?

Karena dalam sebulan ini, beberapa hal berubah dalam ‘pola’ aktivitas harian saya. Berangkat pukul tujuh pagi dan kembali di rumah pukul sembilan malam. Saya tidak menyebut ini berat, karena masih banyak orang lain di luar sana yang menjalani keseharian mereka ‘lebih berat’ dibandingkan apa yang saya jalani.

Jadi mengapa kopi?

Setiap pagi kini saya minum setengah gelas kopi. Ah, ya setengah gelas untuk saya, dan setengah lagi untuk istri. Saya rasa setengah gelas cukup untuk meneguk kenikmatan setara dengan secangkir kopi dengan aromanya yang khas.

Gairah saya untuk berolahraga sedang tidak baik, seakan-akan serasa menjadi seekor beruang gemuk yang memandangi kalendernya melihat bulan-bulan hibernasi sudah di depan mata, dan tidak ada yang lebih agung dibandingkan nikmat meringkuk di balik selembar selimut tebal nan hangat.

Saya memerlukan pencetus sukma, pelarian dari ide-ide akan kreativitas kemalasan. Dan secangkir kopi adalah saviour yang tidak terelakkan karena kedekatannya pada kehidupan kita sebagai sebuah budaya masyarakat nusantara (dan dunia) tentunya.

Maka kini akan merindu pada aroma nikmat ini di saat matahari mulai menyingsingkan senyum-senyum awalnya, dan berkata ‘selamat pagi’ pada semesta kita.

Iklan

2 thoughts on “Secangkir Kopi di Pagi Hari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s