Penyebaran Resistensi Antibiotik

Tidak jarang memang saya mendapatkan pertanyaan saat menerima konsultasi dari pasien – ‘Dok, apa saya tidak diberi amoxicillin?’ atau pertanyaan sejenis yang bisa jadi mewakili keingintahuan pasien mengenai obat antibiotik yang mungkin bisa didapatnya.

Pertanyaan ini wajar, karena antibiotik merupakan salah satu obat yang paling revolusioner dalam dunia kedokteran dan kesehatan. Menyelamatkan jutaan hidup dalam sejak ditemukannya. Tapi semakin tahun, penemuan antibiotik baru semakin sedikit, sementara kuman-kuman atau bakteri yang semakin kebal dengan antibiotik semakin bertambah. Artinya, amunisi dari obat paling revolusioner ini terancam keampuhannya dari waktu ke waktu.

antibiotics!

Kenapa ini bisa terjadi?

Pertama, kita mengenal kondisi ini sebagai resistensi antibiotik, di mana bakteri membentuk kekebalan terhadap obat antibiotik tertentu. Kuman yang dulunya dapat dibunuh dengan antibiotik A, kini sudah tidak bisa lagi dikalahkan dengan antibiotik A itu.

Prinsip ini serupa dengan teknologi imunisasi kita, di mana manusia dibuat kebal tehadap infeksi penyakit tertentu. Hanya saja bedanya, di sini bukan manusia yang kebal, tapi si kuman oleh karena paparan antibiotik yang tidak bijaksana.

WHO secara Internasional, dan Departemen Kesehatan kita di tingkat nasional secara mewanti-wanti akan kemungkinan penyebaran kekebalan terhadap antibiotik di masyarakat kita.

Bagaimana kekebalan terhadap antibiotik ini bisa menyebar?

Pertama, bisa dari pasien yang sakit yang menerima antibiotik sebagai pengobatan – baik dari dokter (hanya dokter yang bisa meresepkan antibiotik), atau lewat jalur yang lain (bisa jadi membeli sendiri, diberikan oleh tetangga dari sisa obat saat dia sakit sebelumnya, dicampur dalam kemasan obat tradisional oleh oknum tertentu, dan banyak kemungkinan lain – siapa yang tahu?)

Cara lain adalah pemberian antibiotik pada hewan ternak atau tanaman pangan. Oh, apakah ada praktik seperti ini? Anda mungkin lebih tepat menanyakannya pada para peternak besar atau petani. Namun jika Anda pernah menyaksikan film dengan judul ‘Food .Inc’ – maka saya rasa poster WHO itu tidak mengada-ada.

Bakteri yang kebal antibiotik bisa jadi kemudian dibawa menyebar dari orang ke lingkungan atau ke orang lainnya secara langsung (sebagaimana kasus pertama); atau dari kontak dengan hewan atau produk hewan yang memiliki kuman kebal antibiotik ke manusia, baik lewat makanan maupun kontak langsung.

Lalu bagaimana caranya agar kita bisa terhindari dari kuman yang jika terinfeksi nyaris, maka penderitanya berpotensi tidak bisa tertolong ini? Ada beberapa hal yang dapat dipertimbangkan:

  1. Jangan membeli antibiotik (atau obat keras lainnya) sendiri tanpa resep dokter.
  2. Jangan memberikan obat antibiotik (atau obat keras lainnya) sisa dari pengobatan Anda kepada orang lain (Anda seharusnya menghabiskan dosis antibiotik Anda ketika sudah diresepkan, kecuali dokter menyarankan hal yang berbeda).
  3. Jaga kebersihan diri dengan baik. Walau Anda tidak perlu ekstrem dengan mandi menggunakan sabun antikuman, tapi setidaknya Anda mencuci tangan dengan sabun cair antikuman dan air mengalir.
  4. Jika ada tempat yang paling mungkin Anda mungkin terkena infeksi penyakit ini, maka salah tempat itu adalah fasilitas pelayanan kesehatan seperti praktik dokter, puskesmas, klinik dan rumah sakit. Jadi mohon perhatikan:
    1. Pastikan Anda berkunjung ke tempat tersebut karena benar-benar perlu bertemu dengan dokter.
    2. Hindari berkunjung karena sakit ringan, seperti demam ringan, batuk pilek, pegal linu, atau penyakit lain yang obat peringan gejalanya dijual bebas di apotek. Tidak ada obat wajib yang harus diresepkan oleh dokter yang bisa membantu Anda membunuh virus flu, jadi berkunjung ke dokter biasanya tidak mempercepat kesembuhan Anda dari flu. Kondisi flu bermakna daya tahan tubuh Anda sedang rendah, dan berkunjung ke area yang penuh bibit penyakit serta potensi penularan penyakit yang tinggi bukanlah tindakan yang bijaksana. Apa yang Anda perlukan adalah istirahat yang cukup dan makan makanan dengan gizi seimbang.
    3. Selalu mencuci tangan dengan sabun atau cairan antiseptik yang disediakan di fasilitas layanan kesehatan sesuai dengan keperluan yang telah dijelaskan di area masing-masing.
    4. Hindari membawa anak usia di bawah 12 tahun ke rumah sakit kecuali untuk pemeriksaan, atau dipertimbangkan bersama-sama pihak tenaga kesehatan bahwa kunjungan anak secara bermakna dapat memperbaiki kondisi kesehatan pasien. Anak-anak rawan tertular penyakit di rumah sakit.
    5. Upayakan menjenguk pasien ketika mereka telah pulang dari rumah sakit, tidak sedang rawat inap. Dengan melakukan ini, Anda akan mengurangi kemungkinan migrasi bakteri di lingkungan Anda.
    6. Jangan mengenakan pakai atau aksesori yang memiliki lipatan terlalu banyak. Gunakan pakaian sederhana yang bersih dan mempermudah tenaga kesehatan melakukan pemeriksaan. Aksesori selain bisa menghalangi pemeriksaan juga bisa menjadi tempat hinggapnya kuman.
  5. Hindari memberi hewan obat yang tidak Anda konsultasikan sebelumnya pada dokter hewan.

Resistensi antibiotik adalah salah satu isu utama di dunia kedokteran dan kesehatan. Semakin kita bijaksana menggunakan antibiotik, maka semakin dapat kita menekan kemungkinan meledaknya bom waktu yang berbahaya ini.

Sejumlah bakteri telah menunjukkan resistensi antibiotik misalnya saja MRSA, CRE, dan beberapa lagi yang lain. Hindari kontak dengan bakteri-bakteri ini, dan hindari kunjungan yang tidak perlu ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mengurangi risiko kontak Anda dengan bakteri-bakteri ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s