Kehilangan

Sebelum kabar duka itu datang pada kemarin pagi dan memuncak pada pagi tadi, saya mungkin tidak menduga hari ini tiba lebih awal, seakan jauh lebih cepat tibanya dibandingkan mentari yang hendak terbenam.

Hidup manusia memang singkat, namun seberapa banyak dari kita yang tahu kapan ujung yang singkat ini akan kita temui? Beberapa bahkan tak sempat mengucapkan selamat tinggal, menjadi kisah kehidupan yang benderang indah bagi banyak orang seperti kembang api yang memberikan kebahagiaan pada hati-hati yang mencari cerah di dalam gulita, ia bersinar indah sesaat & sekejap sebelum padam.

Saya mengenal sahabat saya ini tidak dalam waktu yang panjang, hanya setahun dalam masa penugasan yang diwajibkan oleh negara. Namun setahun itu penuh dengan kenangan yang luar biasa, antara pergulatan, kejenakaan, perjuangan & harapan.

Di antara banyak orang yang berjalan dalam mimpi dan angan, dia adalah salah satu yang paling cepat menemukan langkah kedewasaannya, dan membagi banyak hal kepada kami dalam canda yang khas dan membangun. Ketika sejumlah orang, yang sama-sama digabung dalam perahu nasib yang sama, maka persaudaraan itu akan tumbuh dengan sendirinya.

Setelah bertahun-tahun kami berpisah, dan komunikasi yang begitu minim oleh sebab kesibukan kami masing-masing. Entah mengapa, pagi kemarin sebelum saya berangkat ke kantor, saya tiba-tiba teringat akan sahabat saya ini. Saya tidak tahu kenapa, bayangannya tiba-tiba mampir begitu saja tanpa alasan yang saya pahami.

Namun tidak lama berselang, saya mendapatkan kabar, bahwa sahabat saya sedang berada dalam kondisi kritis di sebuah rumah sakit di Kota Malang. Kecelakaan membuatnya, berada dalam kondisi yang sakratul. Kami memanjatkan doa-doa, sepanjang hari. Dan pada malam itu, saya mendengar kabar kepergiaannya, saya remuk, saya sedih. Tapi ternyata kabar tersebut terbantahkan, salah satu tim medis, sahabat kami yang bertugas di sana mengatakan bahwa mereka masih berjuang, dan meminta bantuan doa kami semua, kami pun kembali berdoa, berharap mukjizat yang Kuasa. Sayangnya, jalan kehidupan berkata beda, pagi tadi kami menerima kabar itu.

View this post on Instagram

Tempo dulu di IGD

A post shared by Cahya Legawa (@haridiva) on

Foto ini, mungkin salah satu kenangan yang selamat dari setahu kami bersama di enam tahun yang silam.

Saya telah menyiapkan mental, ketika saya menerima kabar itu. Pikiran saya yang telah dijejalkan pengetahuan kedokteran tahu pasti apa yang paling mungkin terjadi, ketika saya pertama kali menerima kabar itu. Namun hati saya sebagai sahabat berkata yang berbeda.

Sayangnya, kehidupan tak selalu berjalan seperti yang kita harapkan, walau kita sungguh-sungguh berharap untuk itu.

Ada sesuatu yang kosong dalam diri saya, dan saya tahu ini adalah sebentuk ‘kehilangan’. Ini bukan yang pertama, dan mungkin bukan yang terakhir.

Saya sedih, namun saya tidak hendak mengantarnya dengan kesedihan. Berjalanlah sahabat, tenang & damai kini bersamamu. Engkau telah menjadi cahaya di dunia bagi banyak orang, dan tetaplah menjadi cahaya di sana, di tempatmu yang damai.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.