Vaksin MMR Menyebabkan Autisme?

Vaksin MMR adalah vaksin umum yang diberikan pada anak-anak untuk mencegah penyakit dan komplikasi berat dari penyakit campak (measles), gondongan (mumps) dan cacar/campak Jerman (rubella)1. Namun banyak orang tua yang khawatir melakukan imuniasi MMR karena takut vaksin MMR akan menyebabkan autis(me) pada anak mereka.

Apakah benar vaksin MMR menyebabkan autisme pada anak?

Kita harus melihat kembali ke belakang, riwayat munculnya hubungan antara vaksin MMR dan autisme.

Dimulai dari sebuah makalah yang terbit di Lancet pada tahun 1998, ditulis oleh dr. Andrew W., yang merupakan seorang ahli gastroenterologi yang membuat hipotesis hubungan antara vaksin MMR dan autisme. Beliau adalah mantan dokter & peneliti yang kemudian izinnya dicabut oleh Konsil Kedokteran Inggris Raya karena beberapa hal terkait pelanggaran etika kedokteran2.

Tidak hanya itu, banyak pihak yang kemudian menyuarakan bahwa vaksin MMR tidak aman atau terkait dengan autisme, bahkan termasuk mereka yang berada di luar dunia kesehatan. Salah satu yang paling populer adalah ciutan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ketika dia berkampanye dulu.

Lalu bagaimana pandangan dunia kesehatan?

Dunia kesehatan dan kedokteran hingga saat ini tidak menemukan bukti bahwa MMR menyebabkan autisme. Dan ini didapatkan melalui banyak sekali penelitian di sejumlah negara.

Misalnya saja penelitian terbaru yang melibatkan satu negara, Denmark, dengan judul “Measles, Mumps, Rubella Vaccination and Autism: A Nationwide Cohort Study” tidak menunjukkan adanya hubungan antara MMR dan autisme3.

The study strongly supports that MMR vaccination does not increase the risk for autism, does not trigger autism in susceptible children, and is not associated with clustering of autism cases after vaccination. It adds to previous studies through significant additional statistical power and by addressing hypotheses of susceptible subgroups and clustering of cases.

Masih ada banyak lagi judul penelitian lain yang tersedia di jurnal kesehatan dan kedokteran Internasional yang berusaha menemukan hubungan antara vaksin MMR dan autisme, namun memperlihatkan bahwa hubungan tersebut memang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah.

Di Amerika, CDC mengeluarkan informasi publik mengenai keamanan vaksin MMR4 yang bisa diakses melalui situs resmi mereka.

Ikatan Dokter Anak Indonesia juga telah memberikan penjelasan mengenai vaksinasi MMR yang tidak menyebabkan autisme pada bagian pertama dan bagian kedua tulisan tersebut5.

Sehingga, bisa disampaikan pada akhir tulisan singkat ini, bahwa vaksin MMR tidak menyebabkan autisme.

 


  1. Vaksin MMR (Measles, Mumps, dan Rubella): Yang Perlu Anda Ketahui. Tersedia dari URL: http://www.immunize.org/vis/indonesian_mmr.pdf. Diakses terakhir pada 5 Maret 2019. 
  2. Who is Andrew Wakefield and what did the disgraced MMR doctor do? Tersedia melalui URL: https://www.independent.co.uk/news/health/andrew-wakefield-who-is-mmr-doctor-anti-vaccine-anti-vaxxer-us-a8328326.html. Diakses terakhir pada 5 Maret 2019. 
  3. Hviid A, Hansen JV, Frisch M, Melbye M. Measles, Mumps, Rubella Vaccination and AutismA Nationwide Cohort Study. Ann Intern Med. [Epub ahead of print ] doi: 10.7326/M18-2101. 
  4. Measles, Mumps, and Rubella (MMR) Vaccine Safety. Tersedia melalui URL: https://www.cdc.gov/vaccinesafety/vaccines/mmr-vaccine.html. Diakses terakhir pada 5 Maret 2019. 
  5. MMR Tidak Menyebabkan Autisme. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Tersedia melalui URL: http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/mmr-tidak-menyebabkan-autisme-bagian-i. Terakhir diakses pada 5 Maret 2019. 
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.