Mewaspadai Kembali Leptospirosis

Beberapa saat pasca hujan, badai, atau banjir, maka setiap tenaga kesehatan selayaknya mewaspadai bahaya infeksi leptospirosis. Leptospirosis sampai saat ini masih minim data, karena keberadaannya sering tidak terdiagnosis dengan baik, serta belum adanya data surveilans yang memadai. Setidaknya secara global ada sekitar 300.000 – 500.000 kasus leptospirosis yang berat1.

Leptospirosis adalah penyakit bakteri yang menyerang manusia dan hewan. Ini disebabkan oleh bakteri dari genus Leptospira. Pada manusia, dapat menyebabkan pelbagai gejala, beberapa di antaranya mungkin keliru dikenali sebagai gejala penyakit lain. Atau, mereka yang terinfeksi mungkin tidak tampak memiliki gejala sama sekali.

Ilustrasi Banjir. Sumber: abc.net.au.

Proses Infeksi

Bakteri yang menyebabkan leptospirosis menyebar melalui urin hewan yang terinfeksi, yang dapat masuk ke air atau tanah dan dapat bertahan hidup di sana selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Banyak jenis hewan liar dan domestik menjadi pembawa bakteri.

Ini dapat mencakup2, tetapi tidak terbatas pada:

  • Ternak
  • Babi
  • Kuda
  • Anjing
  • Hewan pengerat (seperti tikus)
  • Hewan liar lainnya

Di antara seluruh hewan tersebut, tikus (Rattus norvegicus) merupakan vektor yang dianggap paling signifikan3.

Ketika hewan-hewan ini terinfeksi, mereka mungkin tidak memiliki atau menunjukkan gejala penyakit.

Hewan yang terinfeksi dapat mengeluarkan/melepas bakteri ke lingkungan secara terus menerus atau sesekali selama beberapa bulan hingga beberapa tahun.

Manusia dapat terinfeksi melalui:

  • Kontak dengan urin (atau cairan tubuh lainnya, kecuali air liur) dari hewan yang terinfeksi.
  • Kontak dengan air, tanah, atau makanan yang terkontaminasi dengan urin hewan yang terinfeksi.

Bakteri dapat masuk ke dalam tubuh melalui kulit atau selaput lendir (mata, hidung, atau mulut), terutama jika kulit rusak karena luka atau goresan. Minum air yang terkontaminasi juga dapat menyebabkan infeksi. Wabah leptospirosis biasanya disebabkan oleh paparan air yang terkontaminasi, seperti air banjir. Penularan dari orang ke orang jarang terjadi.

Tanda & Gejala

Pada manusia, Leptospirosis dapat menyebabkan berbagai gejala, termasuk:

  • Demam tinggi
  • Sakit kepala
  • Panas dingin (meriang)
  • Nyeri otot
  • Muntah
  • Penyakit kuning (kulit dan mata kuning)
  • Mata merah
  • Sakit perut
  • Diare
  • Ruam

21382955.jpg
Banyak dari gejala ini dapat keliru dikenali sebagai penyakit lain. Selain itu, beberapa orang yang terinfeksi mungkin tidak memiliki gejala sama sekali.

Waktu antara paparan seseorang terhadap sumber yang terkontaminasi dan menjadi sakit adalah 2 hari hingga 4 minggu. Penyakit ini biasanya mulai tiba-tiba dengan demam dan gejala lainnya. Leptospirosis dapat terjadi dalam dua fase:

  • Setelah fase pertama (dengan demam, kedinginan, sakit kepala, nyeri otot, muntah, atau diare) pasien dapat pulih untuk sementara waktu tetapi menjadi sakit kembali.
  • Jika fase kedua terjadi, itu lebih parah; penderita tersebut dapat mengalami gagal ginjal atau hati atau meningitis.

Penyakit ini berlangsung dari beberapa hari hingga 3 minggu atau lebih. Tanpa pengobatan, pemulihan mungkin memakan waktu beberapa bulan.

Risiko Paparan

Leptospirosis terjadi di seluruh dunia, tetapi paling umum di daerah beriklim sedang atau tropis. Ini merupakan bahaya penyakit (terkait) pekerjaan4 bagi banyak orang yang bekerja di luar ruangan atau bersama hewan, seperti:

  • Petani
  • Pekerja tambang
  • Pekerja selokan
  • Pekerja rumah jagal
  • Dokter hewan dan pengasuh hewan
  • Pekerja kolam ikan air tawar
  • Peternak sapi perah
  • Personil militer

Penyakit ini juga dikaitkan dengan berenang, bersampan, kayak, dan arung jeram di danau dan sungai yang terkontaminasi. Dengan demikian, leptospirosis juga merupakan bahaya rekreasi bagi yang gemar berkemah atau mereka yang berpartisipasi dalam olahraga luar ruangan. Risiko ini cenderung lebih besar bagi mereka yang berpartisipasi dalam kegiatan ini di daerah beriklim tropis atau beriklim sedang.

Selain itu, kejadian infeksi Leptospirosis di kalangan anak-anak perkotaan tampaknya meningkat.

Pengobatan

Leptospirosis diobati dengan antibiotik, seperti doksisiklin5 atau penisilin/azithromycin, yang harus diberikan pada awal perjalanan penyakit.

Pertimbangan pemberian kemoprofilaksis masal untuk memberikan efek perlindungan terhadap morbiditas dan mortalitas dari kejadian leptospirosis pasca banjir menjadi saran, meskipun masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai efek manfaat langsungnya pada kasus laptospirosis6.

Antibiotik intravena mungkin diperlukan untuk orang dengan gejala yang lebih parah.

Orang dengan gejala sugestif/kecurigaan mengarah pada leptospirosis harus menghubungi penyedia layanan kesehatan (dokter praktik mandiri, puskesmas, atau rumah sakit terdekat).

Pencegahan & Pengurangan Risiko

Risiko tertular leptospirosis dapat sangat dikurangi dengan tidak berenang atau mengarungi air yang mungkin terkontaminasi dengan urin hewan, atau menghilangkan kontak dengan hewan yang berpotensi terinfeksi.

Pakaian pelindung atau alas kaki pelindung harus dikenakan oleh mereka yang terpapar air atau tanah yang terkontaminasi karena pekerjaan atau kegiatan rekreasi mereka.

Tenaga Kesehatan

Apa yang dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan? Ada sejumlah hal yang dapat dilakukan, namun tidak terbatas pada:

Setiap tenaga kesehatan dapat melakukan penyuluhan kepada masyarakat mengenai tindakan pencegahan yang bisa dilakukan untuk leptospirosis.

Melakukan pengayaan diri dengan kursus dan diskusi yang meningkatkan pengetahuan mengenai leptospirosis. Hal ini dapat dilakukan dalam lingkungan kerja sendiri, melalui pelbagai jurnal terbaru, atau misalnya dengan mengikuti kursus daring mengenai leptospirosis seperti Kursus Leptospirosis yang disediakan oleh WHO.

Lakukan surveilans lokal atau daerah sebagaimana yang diterapkan di tempat kerja masing-masing. Contoh formulir laporan kasus leptospirosis oleh CDC bisa menjadi sebuah acuan apabila di tempat kerja Anda belum tersedia mekanisme serupa.

Untuk menunjang surveilans yang baik, diagnsis leptospirosis di lapangan menjadi sebuah tantangan sendiri. WHO memiliki kriteria untuk melakukan diagnosis leptospirosis yang masih digunakan secara luas sampai saat ini7. Di lapangan tenaga kesehatan juga dapat memanfaatkan pemeriksaan penunjang seperti IgM/IgG ELISA; DNA-PCR dari sampel darah, urin dan cairan serebrospinal;  MAT; atau kultur sesuai dengan situasi dan kondisi8.

Untuk diagnosis dini fase akut infeksi leptospirosis, penggunaan pemeriksaan penunjang IgM ELISA dapat diandalkan9`10. Sementara itu, tenaga kesehatan di banyak layanan primer umumnya dapat mengakses pemeriksaan penunjang serologi berupa rapid diagnostic test (RDT) seperti Lepto Tek Dri Dot atau Lepto Tek Lateral Flow, yang memiliki sensitivitas tidak melebihi 80%, sedemikian hingga diharapkan tenaga kesehatan tidak hanya mengandalkan RDT sebagai alat diagnosis tunggal11. Apabila diperlukan, lakukan pembanding dengan pemeriksaan serologi MAT, terutama jika informasi mengenai serovar kausatif diperlukan12.

Terapi terhadap leptospirosis kemudian ditentukan sesuai dengan kebijakan atau panduan praktik klinis di fasilitas kesehatan masing-masing, umumnya dapat dipertimbangkan penicillin, makrolida dan sefalosporin generasi ketiga, dan perhatikan kasus-kasus leptospirosis yang memerlukan penanganan di ruang rawat intensif, termasuk kasus pada ibu hamil13.


  1. Hartskeerl, R. A. (2006). Leptospirosis: current status and future trends. Indian journal of medical microbiology24(4), 309. 
  2. Guernier, V., Goarant, C., Benschop, J., & Lau, C. L. (2018). A systematic review of human and animal leptospirosis in the Pacific Islands reveals pathogen and reservoir diversity. PLoS neglected tropical diseases12(5), e0006503. 
  3. Haake, D. A., & Levett, P. N. (2015). Leptospirosis in humans. In Leptospira and leptospirosis (pp. 65-97). Springer, Berlin, Heidelberg. 
  4. Goarant, C. (2016). Leptospirosis: risk factors and management challenges in developing countries. Research and reports in tropical medicine7, 49. 
  5. Lane, A. B., & Dore, M. M. (2016). Leptospirosis: A clinical review of evidence based diagnosis, treatment and prevention. World Journal of Clinical Infectious Diseases6(4), 61-66. 
  6. Schneider, M., Velasco-Hernandez, J., Min, K. D., Leonel, D., Baca-Carrasco, D., Gompper, M., … & Munoz-Zanzi, C. (2017). The use of chemoprophylaxis after floods to reduce the occurrence and impact of leptospirosis outbreaks. International journal of environmental research and public health14(6), 594. 
  7. World Health Organization. (2003). Human leptospirosis: guidance for diagnosis, surveillance and control (No. WHO/CDS/CSR/EPH 2002.23). Geneva: World Health Organization. 
  8. Sembiring, E. (2018, March). Diagnostic approach in leptospirosis patients. In IOP Conference Series: Earth and Environmental Science (Vol. 125, No. 1, p. 012089). IOP Publishing. 
  9. Niloofa, R., Fernando, N., de Silva, N. L., Karunanayake, L., Wickramasinghe, H., Dikmadugoda, N., … & Rajapakse, S. (2015). Diagnosis of leptospirosis: comparison between microscopic agglutination test, IgM-ELISA and IgM rapid immunochromatography test. PloS one10(6), e0129236. 
  10. Rosa, M. I., Reis, M. F. D., Simon, C., Dondossola, E., Alexandre, M. C., Colonetti, T., & Meller, F. O. (2017). IgM ELISA for leptospirosis diagnosis: a systematic review and meta-analysis. Ciencia & saude coletiva22, 4001-4012. 
  11. Goris, M. G., Leeflang, M. M., Loden, M., Wagenaar, J. F., Klatser, P. R., Hartskeerl, R. A., & Boer, K. R. (2013). Prospective evaluation of three rapid diagnostic tests for diagnosis of human leptospirosis. PLoS neglected tropical diseases7(7), e2290. 
  12. Chirathaworn, C., Kaewopas, Y., Poovorawan, Y., & Suwancharoen, D. (2007). Comparison of a slide agglutination test, LeptoTek Dri-Dot, and IgM-ELISA with microscopic agglutination test for Leptospira antibody detection. Southeast Asian Journal of Tropical Medicine and Public Health38(6), 1111. 
  13. Jiménez, J. I. S., Marroquin, J. L. H., Richards, G. A., & Amin, P. (2018). Leptospirosis: Report from the task force on tropical diseases by the World Federation of Societies of Intensive and Critical Care Medicine. Journal of critical care43, 361-365. 
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.