Cacar Monyet – Selayang Pandang

Bulan Mei yang lalu, terjadi kasus impor infeksi virus monkeypox di Singapura1, kasus yang terjadi di luar daerah endemis penyakit ini, dan cukup mengambil perhatian banyak orang termasuk di Indonesia. WHO pun telah menerima laporan tersebut, dan memberikan masukan, serta tidak memberikan rekomendasi larangan perjalanan2.

Monkeypox sempat mengkhawatirkan, dan sempat menimbulkan kerisuhan akibat sejumlah berita bohong (hoaks) yang beredar. Pun demikian, Departemen Kesehatan Republik Indonesia telah menepis isu tentang monkeypox tersebut3, dan tetap meminta Dinas Kesehatan serta UPT untuk bersiaga4.

Ilustrasi Infeksi Monkeypox. Sumber gambar: independent.co.uk.

Monkeypox sering disingkat dengan MPX, bukan merupakan penyakit endemis di Indonesia. Monkeypox pertama kali ditemukan pada tahun 1958 ketika dua wabah penyakit seperti cacar terjadi di koloni monyet yang disimpan untuk penelitian, maka nama itu adalah ‘monkeypox.’ upaya intensif untuk menghilangkan cacar. Sejak itu, monkeypox telah dilaporkan pada orang di negara-negara Afrika tengah dan barat lainnya.

Di Indonesia, beberapa orang menerjemahkan monkeypox sebagai cacar monyet, sebagaimana cowpox diterjemahkan sebagai cacar sapi. Namun chikenpox tidak diterjemahkan sebagai cacar ayam, tetapi cacar air; dan smallpox tidak diterjemahkan sebagai cacar kecil, tapi cacar saja.

Monkeypox adalah penyakit langka yang disebabkan oleh infeksi virus monkeypox. Virus monkeypox milik genus Orthopoxvirus dalam keluarga Poxviridae. Genus Orthopoxvirus juga termasuk virus variola (penyebab cacar), virus vaccinia (digunakan dalam vaksin cacar), dan virus cacar sapi.

Waduk alami dari monkeypox masih belum diketahui. Namun, spesies hewan pengerat Afrika diduga berperan dalam penularan.

Ada dua kelompok genetik yang berbeda (clades) dari virus monkeypox — Afrika Tengah dan Afrika Barat. Infeksi manusia dengan clade virus monkeypox Afrika Tengah biasanya lebih parah dibandingkan dengan clade virus Afrika Barat dan memiliki angka kematian yang lebih tinggi. Penyebaran orang ke orang didokumentasikan dengan baik untuk virus monkeypox Afrika Tengah dan terbatas dengan monkeypox Afrika Barat.

Pada manusia, gejala-gejala monkeypox serupa dengan tetapi lebih ringan daripada gejala-gejala cacar. Monkeypox dimulai dengan demam, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan. Perbedaan utama antara gejala cacar dan monkeypox adalah bahwa monkeypox menyebabkan kelenjar getah bening membengkak (limfadenopati) sedangkan cacar tidak. Masa inkubasi (waktu dari infeksi hingga gejala) untuk monkeypox biasanya 7-14 hari tetapi bisa berkisar 5-21 hari.

Penyakitnya dimulai dengan:

  • Demam
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Sakit punggung
  • Pembengkakan kelenjar getah bening
  • Panas dingin (meriang)
  • Kelelahan

Dalam 1 sampai 3 hari (kadang-kadang lebih lama) setelah munculnya demam, pasien mengalami ruam, seringkali dimulai pada wajah kemudian menyebar ke bagian tubuh yang lain.

Lesi berkembang melalui tahapan berikut sebelum hilang:

  • Makula
  • Papula
  • Vesikel
  • Pustula
  • Keropeng

Penyakit ini biasanya berlangsung selama 2-4 minggu. Di Afrika, monkeypox telah terbukti menyebabkan kematian pada sebanyak 1 dari 10 orang yang menderita penyakit ini.

Penularan virus monkeypox terjadi ketika seseorang bersentuhan dengan virus dari hewan, manusia, atau bahan yang terkontaminasi oleh virus. Virus memasuki tubuh melalui kulit yang rusak (bahkan jika tidak terlihat), saluran pernapasan, atau selaput lendir (mata, hidung, atau mulut). Penularan dari hewan ke manusia dapat terjadi melalui gigitan atau goresan/cakaran, persiapan daging, kontak langsung dengan cairan tubuh atau bahan lesi, atau kontak tidak langsung dengan bahan lesi, seperti melalui alas yang terkontaminasi. Penularan dari manusia ke manusia diperkirakan terjadi terutama melalui tetesan pernapasan yang besar. Tetesan pernapasan umumnya tidak dapat berjalan lebih dari beberapa kaki, sehingga diperlukan kontak tatap muka yang berkepanjangan. Metode penularan dari manusia ke manusia lainnya termasuk kontak langsung dengan cairan tubuh atau bahan lesi, dan kontak tidak langsung dengan bahan lesi, seperti melalui pakaian atau linen yang terkontaminasi.

Inang reservoir (pembawa penyakit utama) dari monkeypox masih belum diketahui meskipun tikus Afrika diduga berperan dalam transmisi. Virus yang menyebabkan monkeypox hanya ditemukan dua kali dari hewan di alam. Dalam contoh pertama (1985), virus itu ditemukan dari tikus Afrika (tupai tali) yang sakit di Wilayah Khatulistiwa di Republik Demokratik Kongo. Pada yang kedua (2012), virus itu ditemukan dari bayi mangabey mati yang ditemukan di Taman Nasional Tai, Pantai Gading.

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah infeksi virus monkeypox:

  • Hindari kontak dengan hewan yang dapat menampung virus (termasuk hewan yang sakit atau yang ditemukan mati di daerah di mana monkeypox terjadi).
  • Hindari kontak dengan bahan apa pun, seperti tempat tidur, yang telah bersentuhan dengan hewan yang sakit.
  • Pisahkan pasien yang terinfeksi dari orang lain yang bisa berisiko terinfeksi.
  • Lakukan kebersihan tangan yang baik setelah kontak dengan hewan atau manusia yang terinfeksi. Misalnya, mencuci tangan dengan sabun dan air atau menggunakan pembersih tangan berbahan dasar alkohol.
  • Gunakan alat pelindung diri (APD) saat merawat pasien.

Saat ini, tidak ada pengobatan yang terbukti dan aman untuk infeksi virus monkeypox. Untuk tujuan mengendalikan wabah monkeypox di Amerika Serikat, vaksin cacar, antivirus, dan VIG dapat digunakan.

Untuk mendapatkan informasi selayang pandang, tenaga medis dapat mengikuti kursus pengantar monkeypox melalui openWHO, atau menggunakan presentasi yang kami sediakan berikut:


  1. Confirmed Imported Case of Monkeypox in Singapore. 2019. Ministry of Health Singapore. 
  2. Monkeypox – Singapore. 2019. Disease outbrake news. WHO. 
  3. Isu tentang Monkeypox. 2019. Kemenkes RI. 
  4. Kemenkes minta Dinkes dan UPT Siaga Monkeypox. 2019. Kemenkes RI. 
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.