The Book of Merton’s

Membaca adalah salah satu hal yang menyenangkan, terutama di negeri yang minat bacanya rendah – Anda mendadak bisa merasakan suatu eksklusivisme semu, di mana Anda bisa tersenyum pada diri Anda sendiri. Saya paling suka menghabiskan waktu luang dengan membaca novel picisan, terutama dari negeri Tiongkok dan Sakura. Tapi waktu yang paling menggembirakan mungkin ketika saya sekadar membuka satu ada dua halaman dari buku-buku tertentu.

Buku-buku tertentu ini tidak banyak yang ada di tangan saya, kebanyakan saya pinjam atau baca dari tempat lain. Dan mereka semua nyaris berbicara hal yang sama, yaitu kehidupan dan filsafat, tapi tidak semua buku tentang kehidupan dan filsafat. Saya biasanya merujuk pada penulis-penulis tertentu, misalnya Jiddu Krishnamurti, Anthony de Mello, dan beberapa di antaranya, yang terakhir saya temukan adalah salah satu karya Thomas Merton, “New Seeds of Contemplation“.

Trappist Fr. Thomas Merton difoto bersama Dalai Lama pada tahun 1968, yang ditemui Merton selama perjalanannya ke Asia. (Pusat CNS / Thomas Merton di Bellarmine University)

 

Penulis-penulis ini menunjukkan dimensi yang berbeda, cara memandang dunia yang berbeda dari segala sesuatu yang dianggap wajar, sehingga mungkin tidak sedikit yang mempertanyakan kewajaran mereka sendiri.

Saya membeli buku pertama Thomas Merton dari Amazon beberapa tahun yang lalu, bersama dengan buku karya bersama Dalai Lama dan Desmon Tutu. Saya selalu mengeluhkan, mengapa untuk buku yang saya inginkan saya harus selalu membelinya dari luar negeri langsung? Tapi ketika buku itu di tangan, saya melupakan semua keluhan itu.

Into this world, this demented inn, in which there is absolutely no room for Him at all, Christ has come uninvited. But because He cannot be at home in it, because He is out of place in it, and yet He must be in it, His place is with those others for whom there is no room. His place is with those who do not belong, who are rejected by power because they are regarded as weak, those who are discredited, who are denied the status of persons, tortured, exterminated. With those for whom there is no room, Christ is present in this world.

~ Waktu Akhir adalah Waktu Tanpa Ruang, Thomas Merton (1965).

Beberapa orang suka hadir dan melangkah ke mana mereka ditunjukkan. Ada orang yang suka duduk, hening dan bertanya tentang langkah dan keberadaan mereka.

Buku karya Merton juga menunjukkan, namun membuat saya duduk, terdiam sejenak, dan mempertanyakan, atau melihat ke mana dunia tidak pernah melihat sebelumnya.

Buku-buku seperti karya Thomas Merton-lah yang paling menggembirakan ketika saya membacanya, bukan menyenangkan, namun menggembirakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.